Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kunjungi Rumah Menlu Pertama RI Di Cikini 82, Ada Foto Megawati Kecil
Kamis, 14 Agustus 2025 13:11 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah riuhnya kawasan Cikini, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, di antara deru kendaraan, galeri seni, dan kafe-kafe yang sibuk, berdiri sebuah rumah tua yang diam-diam menyimpan denyut sejarah bangsa. Namanya sederhana: Cikini 82. Tapi kisahnya? Tak sesederhana itu.
Rumah ini bukan sekadar bangunan kolonial seluas 3.000 meter persegi yang berada di Jalan Cikini Raya. Dia adalah saksi bisu dari lahirnya diplomasi Indonesia. Di sinilah Achmad Soebardjo, Menteri Luar Negeri pertama RI, tinggal, berpikir, dan merumuskan arah bangsa. Bahkan, bangunan ini menjadi Kantor Kementerian Luar Negeri Pertama RI.
Rumah yang Menjamin Proklamasi
Saat peristiwa Rengasdengklok mengguncang, Achmad Soebardjo-lah yang menjaminkan nyawanya agar proklamasi tetap dibacakan pada 17 Agustus. Achmad Soebardjo juga merupakan salah satu perumus naskah proklamasi.
Baca juga : Istri Eks Presiden Yoon Tempati Sel Rasa Hotel
Rumah ini bukan hanya tempat tinggal, namun sekaligus ruang pengambilan keputusan, tempat surat menyurat diplomatik, dan ruang kerja yang pernah didatangi Bung Karno dan Bung Hatta.
Ruang-Ruang yang Bercerita
Ada delapan bagian penting: teras, ruang tamu, ruang kerja Achmad Soebardjo, kamar tengah, ruang pertemuan, halaman belakang, pendopo, dan paviliun.
Di dalamnya dipajang lukisan-lukisan Dullah dan Basuki Abdullah, foto-foto hitam putih Achmad Soebardjo bersama tokoh-tokoh nasional lainnya seperti Presiden RI pertama Ir. Soekarno dan Wakil Presiden Hatta.
Baca juga : Kunjungi Lokasi KMP Tunu Pratama Jaya, Jasa Raharja Perkuat Komitmen Pelayanan
Bahkan, ada potret kecil Megawati Soekarnoputri saat masih kanak-kanak. Ada pula arsip surat menyurat diplomatik, buku-buku tua. Ada novel Sarinah bertanda tangan asli Soekarno.
Dari Rumah Pribadi ke Simpul Budaya
Kini, berkat advokat Lukas Budiono, rumah ini direstorasi dengan cinta. 95 persen bangunan asli tetap dipertahankan. Jendela-jendela besar berkusen kayu jati, serta sejumlah perabot antik di dalamnya menciptakan suasana yang membawa pengunjung kembali ke masa-masa awal Republik. Cikini 82 bukan hanya tempat mengenang, tapi juga tempat mencipta.
Bisa disewa untuk seminar, pernikahan kapasitas 300 orang, bahkan menginap di King Room atau Queen Room. Masing-masing dibanderol Rp 1,5 juta hingga Rp 1,8 juta per malam.
Baca juga : Ini Rekrutan Pemain Asing Pertama Bali United FC
Seperti kata Cahyadi, sang pemandu tur: "Cikini 82 bukan hanya tentang masa lalu. Dia adalah ruang yang terus hidup, menyambung sejarah dengan masa kini".
"Informasi dari keluarga, Bapak Achmad Soebardjo mulai menempati rumah ini pada tahun 1942. Setelah Belanda keluar dan Jepang masuk, rumah ini kosong," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya