Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
SCO Jadi Panggung Baru Dunia: China Nggak Kalah Lincah Dibanding AS
Selasa, 2 September 2025 05:42 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organization/ SCO) yang digelar di Tianjin, China, menjadi oase bagi negara-negara yang didominasi Barat. Presiden China Xi Jinping memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan bahwa diplomasi Negeri Tirai Bambu tak kalah lincah dibanding rivalnya, Amerika Serikat (AS).
Selama dua hari, pada 31 Agustus hingga 1 September 2025, Xi menjamu sejumlah pemimpin besar dunia. Termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri India Narendra Modi, serta sejumlah petinggi negara-negara Asia Tengah. Kehadiran mereka bukan sekadar seremoni, melainkan simbol pergeseran gravitasi politik global ke arah Timur.
Xi tak hanya membuka pintu diplomasi, tapi juga panggung militer. Pada 3 September 2025, akan digelar parade akbar atau Victory Day di Beijing untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dijadwalkan hadir, menambah bobot simbolik acara tersebut. “Ini bukti kesuksesan kepemimpinan Xi yang dapat menjamu puluhan pemimpin negara sahabat dan menyaksikan parade militer,” ujar pengamat hubungan internasional dari Brookings Institution Jonathan Czin kepada New York Times, Minggu (31/8/2025).
Menurutnya, Xi tengah mengubah sejarah, gaya diplomasi dan pengaruh militer dunia modern. “Pola yang biasanya berat ke Amerika Serikat dan sekutunya, kini bergeser ke China dan negara-negara di Asia,” ucap Czin.
Baca juga : Mencuat di Sidang Parlemen Malaysia, Anwar Tak Akan Lindungi MRC
KTT SCO tahun ini menjadi yang terbesar sejak organisasi ini berdiri pada 2001. Dihadiri 10 negara anggota dan 16 negara mitra serta pengamat, forum ini dipandang sebagai wadah alternatif untuk menandingi dominasi blok Barat.
Dalam pidatonya, Senin (1/9/2025), Xi menekankan SCO telah menjadi kekuatan penting dalam mendorong tatanan internasional baru, di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Xi juga menjanjikan bantuan 2 miliar yuan (280 juta dolar AS) kepada negara-negara anggota tahun ini dan 10 miliar yuan (1,4 miliar dolar AS), sebagai pinjaman kepada konsorsium perbankan SCO.
Pada Rabu (3/9/2025), Xi akan memimpin parade militer di Beijing untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II. Xi berupaya menggambarkan Perang Dunia II sebagai perjuangan yang menggambarkan China dan Uni Soviet, sebagai kekuatan pertempuran yang menentukan berakhirnya perang.
“Selain kemegahan militer dan gambaran visual, parade tersebut merupakan bagian dari perang sejarah antara China dan blok barat,” kata Czin.
Belum lama ini, kedekatan China dengan Rusia telah mengundang tekanan dari AS. Namun, ketegangan tersebut mereda sebagian, karena menghangatnya hubungan antara AS dan Rusia pasca pertemuan Trump dan Putin di Alaska pada 15 Agustus lalu.
Baca juga : Skuad Maung Bandung Bangun Keakraban Di Thailand
Usai pertemuan itu, Trump memuji Putin dan mendukung posisi Kremlin dalam konflik dengan Ukraina. Trump menyebut, Kiev perlu menyerahkan wilayahnya untuk mengakhiri perang dengan Moskow.
Untuk mengambil hati Pemerintah Trump, Xi berterima kasih atas bantuan Washington yang telah banyak berjasa meringankan ketegangan antara China dan India. Hubungan Beijing-New Delhi sempat memanas akibat konflik perbatasan pada 2020.
Modi juga memanfaatkan pertemuan SCO untuk mencari alternatif partner dagang setelah diganjar tarif dagang sebesar 50 persen oleh AS. Ini merupakan kunjungan pertama Modi ke China dalam tujuh tahun terakhir.
Modi menegaskan komitmen India membangun hubungan berdasarkan saling percaya dan menghormati. Xi juga menyambut dengan menekankan hubungan China-India bisa stabil, jika kedua pihak melihat satu sama lain sebagai mitra, bukan pesaing.
Selain Modi, Xi juga bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membahas kerja sama kontra-terorisme. Serta mengadakan pertemuan dengan Pemimpin Maladewa, Azerbaijan, Kirgistan dan Presiden Belarus Alexander Lukashenko, sekutu dekat Putin.
Baca juga : Percuma Kalau Ngandelin PBB
Banyak sekutu AS di Eropa dan Asia memandang China sebagai ancaman besar bagi perdagangan yang adil, demokrasi dan stabilitas regional. “Terlepas dari kekhawatiran mereka atas perilaku China, beberapa negara semakin menganggap Amerika sebagai kekuatan pengacau yang lebih besar dalam tatanan internasional,” ujar pakar hubungan AS-China di International Crisis Group Ali Wyne.
Pada akhirnya, KTT SCO dan parade militer memungkinkan Putin dan Xi menegaskan kembali hubungan dekat Rusia-China, sebuah kemitraan yang gagal dirusak Barat.
“Hubungan China dengan Rusia kemungkinan besar akan terus baik,” ujar pensiunan kolonel senior Tentara Pembebasan Rakyat China Zhou Bo.
Dia mengklaim, segala upaya Barat untuk memecah belah China dan Rusia tidak akan pernah berhasil.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya