Dark/Light Mode

Pelaku Penembakan Di Sydney Sempat Ke Filipina

Ayah-Anak Jarang Keluar Hotel & Sangat Tertutup

Jumat, 19 Desember 2025 07:27 WIB
Hotel GV di Kota Davao, di pulau Mindanao bagian selatan Filipina, tempat ayah dan anak, yaitu 
Sajid dan Naveed Akram menginap selama kunjungan mereka pada November 2025, beberapa minggu sebelum keduanya menjadi tersangka yang membunuh 15 orang di Pantai Bondi, Sydney, Australia. (Foto Tangkapan Layar AFP/Ferdinandh Cabrera)
Hotel GV di Kota Davao, di pulau Mindanao bagian selatan Filipina, tempat ayah dan anak, yaitu Sajid dan Naveed Akram menginap selama kunjungan mereka pada November 2025, beberapa minggu sebelum keduanya menjadi tersangka yang membunuh 15 orang di Pantai Bondi, Sydney, Australia. (Foto Tangkapan Layar AFP/Ferdinandh Cabrera)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ayah dan anak yang diduga sebagai pelaku penembakan brutal di Pantai Bondi, Sydney, Australia, dan menewaskan 15 orang, diketahui sempat menginap beberapa pekan di sebuah hotel di Filipina, sebelum serangan terjadi. Fakta ini diungkap sejumlah staf hotel kepada AFP, Kamis (18/12/2025).

Kedua terduga pelaku adalah Sajid Akram (50), yang tewas dalam baku tembak dengan polisi, serta putranya, Naveed Akram (24), yang kini berada dalam pe ngawasan ketat di rumah sakit dan diperkirakan akan menghadapi dakwaan berat.

Serangan yang terjadi pada Minggu (14/12/2025) itu menewaskan 15 orang dan menyasar warga Yahudi Australia yang tengah merayakan malam pertama Hanukkah. Insiden ini tercatat sebagai salah satu penembakan massal terburuk di Australia dalam hampir tiga dekade terakhir.

Otoritas Australia kini menyelidiki kemungkinan Sajid dan Naveed mengikuti pelatihan ekstremis pada November lalu di wilayah Mindanao selatan, Filipina. Kawasan tersebut dikenal memiliki sejarah panjang konflik bersenjata dan aktivitas kelompok ekstremis.

Namun, Pemerintah Filipina menegaskan, tidak ada bukti yang menunjukkan negaranya digunakan sebagai lokasi pelatih an teroris. Pejabat imigrasi Filipina memastikan, kedua pria tersebut masuk ke Filipina pada 1 November 2025 dengan tujuan Davao City, sebelum meninggalkan negara itu pada 28 November.

Baca juga : Banyak Makan Ikan, Mata Anak-anak Di Pulau Kelapa Sangat Sehat

Pihak berwenang Filipina menilai, durasi kunjungan tersebut tidak cukup untuk menjalani pelatihan signifi kan. Militer Filipina juga membantah keberadaan kamp pelatihan teroris aktif di Mindanao.

Juru bicara militer Filipina Francel Padilla menyatakan, kelompok-kelompok bersenjata di kawasan tersebut telah melemah. “Kami belum mencatat operasi teroris besar atau kegiatan pelatihan apa pun sejak awal 2024,” ujarnya.

Pernyataan serupa disampaikan pejabat militer Filipina Xerxes Trinidad. Menurutnya, pelatihan terorisme tidak mungkin dilakukan dalam waktu singkat.

“Pelatihan tidak bisa dilakukan hanya dalam 30 hari. Terutama untuk kemampuan seperti menembak,” kata Trinidad.

Selama berada di Davao City, Sajid dan Naveed tercatat menginap di kamar 315 GV Hotel. Mereka menyewa kamar kecil dengan dua tempat tidur single seharga 930 peso per malam atau sekitar Rp 250 ribu. Manajer shift malam hotel, 

Baca juga : PTAR Pastikan Pengelolaan Air Sisa Tambang Aman untuk Ekosistem Batang Toru

Angelica Ytang (20) mengatakan, kedua tamu tersebut jarang keluar kamar dan hanya meninggalkan hotel sekitar satu jam setiap hari. Dia menggambarkan keduanya sebagai sosok tertutup.

“Mereka tidak seperti tamu asing lain yang biasanya mengobrol. Mereka sangat tertutup,” ujar Ytang, seraya menambahkan bahwa interaksinya hanya terjadi dengan Naveed. Sementara sang ayah selalu menunduk dan menghindari kontak mata.

Menurut Ytang, pasangan ayah anak itu tidak pernah menjelaskan tujuan kunjungan mereka. Setiap pagi mereka keluar hotel, tapi tidak pernah pergi dalam waktu lama.

Salah satu aktivitas yang diingat staf adalah ketika mereka menanyakan lokasi penjual durian, meski pencarian buah tersebut tidak membuahkan hasil.

Ytang juga mengaku tidak pernah melihat keduanya bertemu orang lain atau menggunakan kendaraan. “Mereka hanya berjalan kaki di sekitar hotel. Itu saja,” katanya.

Baca juga : Ikut Pembekalan Di Akmil, Airlangga: Semua Jajaran Kabinet Semangat Dan Solid

Menariknya, mereka sempat meninggalkan uang tip saat checkout. “Saya bilang de positnya tertinggal. Anaknya mengambilnya, lalu sang ayah meminta agar uang itu diberikan kepada saya,” ujar Ytang.

“Anaknya bilang, ‘Itu untuk kamu.’ Mereka terlihat baik. Saya masih tidak percaya mereka bisa melakukan hal seperti itu,” katanya.

Wajah keduanya baru dikenali para staf hotel setelah muncul dalam pemberitaan media terkait pembantaian di Bondi Beach, Sydney. Pegawai hotel turut mengkonfirmasi masa tinggal Sajid dan Naveed di lokasi tersebut.

Petugas kebersihan hotel, Ram Ligod, mengungkapkan bahwa Naveed terlihat memanjangkan rambutnya selama menginap. Sementara, juru bicara kepolisian regional menyatakan, pihak kepolisian Davao akan mengeluarkan pernyataan resmi dalam waktu dekat, tanpa merinci lebih lanjut.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.