Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Aksi Massa Bergerak Di Eropa Hingga AS
Demo Iran Makin Membara
Selasa, 13 Januari 2026 06:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Aksi solidaritas untuk demonstran Iran bermunculan di sejumlah negara sahabat pada akhir pekan. Pendemo yang terdiri dari diaspora Iran, mahasiswa dan aktivis hak asasi manusia turun ke jalan menyampaikan dukungan kepada pendemo yang melakukan aksi di Negeri Mullah itu.
Di London, Inggris, massa memilih Trafalgar Square sebagai titik kumpul, Minggu (11/1/2026). Pendemo memulai aksi dari depan Kedutaan Besar Iran dan berjalan ke arah kediam an Perdana Menteri (PM) Inggris dan terakhir berkumpul di Trafalgar Square.
"Kami ingin revolusi, pergantian rezim," tuntut keturunan Iran yang bernama depan Afsi kepada AFP, Minggu (11/1/2026).
Wanita yang sudah tujuh tahun tinggal di London itu mengaku tidak bisa menghubungi keluarganya yang tinggal di Teheran sejak Jumat (9/1/2026).
"Kami harap kali ini bisa melengserkan pemerintahan yang sekarang," harapnya.
Di Paris, Prancis, lebih dari 2.000 orang melambai-lambaikan bendera Iran sebelum Revolusi Islam pada 1979.
"Tidak untuk republik teroris Islam," teriak para demonstran, dikutip dari Reuters, Senin (12/1/2026).
Massa yang berencana melakukan aksi di depan Kedubes Iran di Paris, dihalangi polisi.
"Tutup kedutaan para Mullah. Pabrik teroris," teriak massa.
Baca juga : Properti Kian Bergairah
Mahasiswa Iran yang belajar di Prancis, Arya (20), mengatakan aksi ini untuk mendukung pendemo di Iran yang tengah berjuang melawan Pemerintah diktator.
"Kami menunggu arahan Reza Pahlavi untuk kami," ujar Arya.
Reza Pahlavi adalah putra dari Shah Mohammad Reza Pahlavi dan Shahbanu Farah Pahlavi. Dia merupakan oposisi Pemerintahan Iran yang sekarang berkuasa.
Sejak revolusi Iran 1979, yang menggulingkan rezim ayahnya, dia tinggal di pengasingan di Amerika Serikat (AS).
Di Istanbul, Turki, para demonstran menyuarakan dukungan untuk para pengunjuk rasa Iran berkumpul di tengah hujan deras. Polisi menutup area di luar konsulat Iran.
"Tidak ada internet atau televisi, kami tidak bisa menghubungi keluarga kami di Iran," ungkap Nina, wanita muda Iran yang tinggal di Turki yang wajahnya dihiasi bendera Iran.
Aksi serupa juga terjadi di Berlin, Jerman dan Washington DC, Amerika Serikat.
Kepada DW, aktivis Jerman-Iran Daniela Sepheri menuturkan, risiko besar para warga ketika mereka melakukan aksi protes.
"Rezim sedang berjuang untuk mempertahankan kekuasaan, tapi rakyat Iran juga sedang ber juang," kata Daniela Sepheri.
Baca juga : Berapa Harga Demokrasi?
Saat ditanyakan mengenai langkah selanjutnya, Daniela Sepheri berharap rakyat Iran dapat menentukan masa depan mereka sendiri.
"Harapan saya adalah rakyat Iran bisa mengubah masa depan dan negaranya sesuai dengan kehendak mereka sendiri, melalui pemilu yang bebas dan sebuah referendum," tegasnya.
Terkait kemungkinan runtuhnya rezim Pemerintahan Iran saat ini dan potensi kembalinya monarki, dia menegaskan, hal tersebut adalah sesuatu yang harus diputuskan oleh rakyat Iran.
"Ada yang ingin shah kembali, ada juga yang tidak," ujarnya.
Sementara, putra shah terakhir Iran, Reza Pahlavi, sebelumnya menyatakan keinginannya kembali ke Iran dan memainkan peran politik.
Iran merupakan negara dengan keragaman etnis dan bahasa yang tinggi. Lebih dari 60 persen penduduknya berasal dari etnis Persia. Sementara wilayah yang dihuni minoritas Kurdi dan Baluch kerap menjadi pusat gejolak dalam berbagai gelombang protes di negara tersebut.
Aksi demo di Iran dipicu krisis ekonomi. Aksi yang bermula pada 28 Desember 2025 menjalar ke berbagai kota besar dan diwarnai aksi perusakan serta pembakaran sejumlah simbol negara dan keagamaan. Termasuk masjid, bank, hingga fasilitas publik lainnya.
Salah satu peristiwa yang paling menyita perhatian publik internasional adalah beredarnya sebuah video yang dibagikan aktivis hak asasi manusia Iran, Masih Alinejad, melalui media sosial X.
Dalam rekaman tersebut, tampak masjid yang disebut-sebut sebagai masjid terbesar di Iran dilalap api. Sedangkan para demonstran di sekitarnya meneriakkan slogan-slogan bernada perlawanan terhadap rezim penguasa.
Baca juga : Komisi Aplikasi Maksimal 15 Persen, Maxim Komit Tingkatkan Pendapatan Mitra
Dikutip dari Aljazeera, Senin (12/1/2026), massa dilaporkan merusak sekitar 150 ambulans. Setiap ambulans tersebut diperkirakan bernilai antara sekitar 63 ribu-120 ribu dolar AS (Rp 1-2 miliar).
Laporan terbaru Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA), layanan berita organisasi Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran menyebutkan, sedikitnya 544 orang tewas dalam aksi demonstrasi selama 15 hari terakhir, termasuk delapan anak. Lebih dari 10.681 orang yang ditangkap, juga telah dipindahkan ke penjara.
Namun, CNN International tidak dapat memverifikasi secara independen angka korban jiwa yang dilaporkan HRANA. Iran telah terputus dari internet selama lebih dari 72 jam setelah pihak berwenang memutus akses internet dan saluran telepon.
AS Siap Bantu
Sementara, Presiden AS Donald Trump mengaku siap membantu pendemo di Iran. Dia mengatakan, rakyat negara itu tengah berjuang meraih kebebasan di tengah krisis ekonomi dan politik yang kian memburuk.
"Iran sedang mencari kebebasan, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!" tulis Trump melalui media sosial Truth Social, Minggu (11/1/2026).
Meski demikian, Presiden ke-47 AS itu tidak menjelaskan lebih lanjut bentuk bantuan yang dimaksud. Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah menyebut Iran berada dalam masalah besar, dan kembali melontarkan peringatan keras bahwa dia dapat memerintahkan serangan militer.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz, mengutuk pembunuhan para demonstran di Iran. Para pemimpin Eropa itu mendesak pemimpin Iran tidak melakukan pelanggaran hak asasi manusia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya