Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Kota pegunungan Alpen Swiss, Davos, kembali menjadi tuan rumah World Economic Forum (WEF) 2026, yang kali ini dihadiri Presiden Prabowo Subianto dengan membawa pesan diplomasi baru Indonesia. Pertemuan ini diselenggarakan di tengah lanskap global yang masih bergejolak akibat dampak perang di Ukraina, konflik Timur Tengah, ketegangan Amerika Serikat (AS)-China, disrupsi rantai pasok, ketidakmerataan transisi energi, dan ancaman krisis iklim yang semakin nyata—kondisi yang dikenal sebagai polycrisis.
Dalam konteks ini, Prabowo menegaskan bahwa perdamaian dan stabilitas merupakan aset terpenting bagi kemakmuran, sebuah pernyataan yang mencerminkan posisi Indonesia yang ingin berkontribusi sebagai solusi di tengah fragmentasi global. Ia menyatakan ambisi Indonesia untuk berpartisipasi aktif dalam membangun kerja sama internasional yang adil, saling menghormati, dan berfokus pada kesejahteraan bersama.
Pesan ini sangat relevan di WEF, sebuah forum yang secara historis menjadi simbol dialog global, namun kini menghadapi tantangan serius dari tren deglobalisasi dan peningkatan proteksionisme. Pidato tersebut menggambarkan pergeseran paradigma diplomasi Indonesia menjadi lebih percaya diri, proaktif, dan selaras dengan kepentingan nasional jangka panjang. Konsep "bebas aktif" dalam politik luar negeri Indonesia kini ditafsirkan sebagai sebuah peran yang tidak pasif, di mana Indonesia tidak hanya menjaga jarak dari kekuatan besar tetapi juga berinisiatif memimpin agenda pada isu-isu strategis seperti ketahanan pangan, energi, stabilitas regional, dan pembangunan yang inklusif.
Baca juga : Prabowo: Mereka Mengakui Ekonomi Indonesia Tangguh

Dalam kerangka teori hubungan internasional, posisi ini sangat sesuai dengan middle power diplomacy, saat negara seperti Indonesia—meskipun bukan adidaya—dapat memengaruhi tatanan global melalui partisipasi aktif dalam forum multilateral, pembentukan koalisi, dan upaya mediasi. Prabowo tampaknya ingin memanfaatkan status tersebut dengan menekankan pentingnya kawasan Indo-Pasifik yang damai dan stabil, serta komitmen Indonesia untuk menjadikannya sebagai arena kerja sama, bukan konflik. Konteks geografis Indonesia yang strategis di jalur perdagangan dunia memberikan bobot geopolitik pada pernyataan ini. Lebih lanjut, pidato tersebut mengintegrasikan isu-isu diplomasi global dengan prioritas domestik, seperti penguatan ketahanan pangan dan energi, serta agenda hilirisasi dan industrialisasi hijau.
Indonesia menawarkan diri sebagai tujuan investasi untuk membangun industri bersama, sejalan dengan upaya global untuk mendiversifikasi rantai pasok dan mencari mitra baru yang stabil. WEF 2026 juga menyoroti fragmentasi ekonomi global dan urgensi membangun kembali kepercayaan. Dalam situasi ini, Indonesia memiliki peluang historis untuk berperan sebagai jembatan antara negara-negara Barat yang mencari alternatif dari Tiongkok dan negara-negara Global South yang mencari mitra yang lebih setara, mengingat Indonesia memiliki pasar yang besar, basis produksi yang potensial, dan posisi strategis di Indo-Pasifik.
Baca juga : Prabowo Subianto: WEF Davos dan Narasi Masa Depan Ekonomi Indonesia
Diplomasi yang dijalankan Prabowo menunjukkan kesinambungan dengan era Jokowi, namun dengan penekanan yang lebih kuat pada dimensi geopolitik dan pertahanan, sambil tetap mengusung semangat kolaborasi. Pertemuan bilateral di sela-sela forum tersebut juga membuka peluang konkret bagi Indonesia dalam hal diplomasi investasi, kemitraan strategis, dan transfer teknologi.
Melalui pendekatan niche diplomacy, Indonesia berfokus pada isu-isu spesifik seperti pangan, energi, dan stabilitas kawasan untuk memperkuat pengaruhnya di kancah internasional. Implementasi visi global ini memerlukan kebijakan domestik yang konsisten, namun pidato Prabowo di Davos telah menetapkan arah yang jelas: Indonesia bercita-cita menjadi problem solver global, bukan sekadar mengikuti aturan yang ada.
Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, Indonesia menawarkan pesan persatuan dan optimisme: kerja sama masih sangat mungkin, stabilitas dapat dipertahankan, dan pembangunan yang adil tetap dapat diperjuangkan. Davos hanyalah titik awal bagi Indonesia untuk memainkan peran yang lebih signifikan di panggung dunia, menegaskan kesiapannya untuk berkontribusi pada masa depan global.
Nurrohman Efendi
Mahasiswa S2 Komunikasi Strategis STIKOM Interstudi Jakarta. Pemerhati Film dan Media. Mantan Jurnalis TV.
Mahasiswa S2 Komunikasi Strategis STIKOM Interstudi Jakarta. Pemerhati Film dan Media. Mantan Jurnalis TV.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya