Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Indonesia–China Gelar Track 1.5 Dialogue, Bahas Model Kemitraan Energi Bersih
Kamis, 5 Februari 2026 06:46 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Kementerian Luar Negeri (BSKLN Kemlu) menggandeng think tank Indonesia Synergy Policies dan ViriyaENB untuk menggelar Indonesia–China Track 1.5 Dialogue pada 27–28 Januari 2026.
Dialog bertajuk “Shaping a Joint Foreign Policy Approach toward a Transformational Model for Clean Energy Partnership” ini merupakan kelanjutan dari dua Dialog Nasional yang telah diselenggarakan pada Agustus dan September 2025.
Agenda tersebut bertujuan memperkuat konsolidasi para pemangku kepentingan Indonesia dan China dalam merumuskan pendekatan serta skema kemitraan energi bersih kedua negara.
Sebagai forum track 1.5, dialog ini mempertemukan unsur pemerintah dan lembaga negara (track 1) dengan kalangan dunia usaha, akademisi, lembaga riset, serta think tank (track 2) dari Indonesia dan China.

Baca juga : Penjual Koran Terakhir Paris, Ali Akbar Dianugerahi Medali Kehormatan Prancis
Dari pihak Indonesia, hadir Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Luar Negeri, Dewan Energi Nasional, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, serta Universitas Gadjah Mada, serta perwakilan sektor swasta.
Dari pihak China hadiri perwakilan Kedutaan Besar China di Jakarta, China New Energy International Alliance (CNEIA), World Resources Institute (WRI) China, serta perwakilan lembaga riset, think tank, dan mitra terkait lainnya.
Kepala BSKLN Kemlu Muhammad Takdir menegaskan pentingnya konsep Dynamic Resilience sebagai fondasi kemitraan energi bersih Indonesia–China.
"Ketahanan nasional yang kuat menjadi prasyarat bagi kerja sama berkelanjutan di tengah dinamika geopolitik dan geoekonomi global yang kian kompleks," jelasnya dalam pernyataan, Rabu (4/1/2026).
Baca juga : Kedubes AS Gelar Lokakarya Perkuat Kemitraan Pendidikan RI–Amerika Serikat
Sejalan dengan itu, dialog menyoroti urgensi kemitraan energi bersih yang tidak semata berfokus pada perdagangan dan investasi. Kerja sama yang setara perlu menekankan penguatan riset dan inovasi, transfer teknologi, serta pelibatan aktif masyarakat hingga ke tingkat lokal.
Staf Ahli Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri, Zelda Wulan Kartika, menyampaikan bahwa model kemitraan transformatif Indonesia–China diharapkan mampu mendorong sinergi kebijakan luar negeri, kerja sama industri, inovasi teknologi, serta partisipasi masyarakat secara lebih luas.
Pendekatan ini diyakini dapat memperkuat dampak nyata kemitraan energi bersih kedua negara.
Dialog ditutup dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara Synergy Policies dan CNEIA. Sebagai komitmen mempererat kerja sama dalam penyusunan rekomendasi kebijakan, riset, serta pengembangan kapasitas.
Baca juga : Prabowo Gelar Ratas Di Hambalang, Bahas Peresmian RDMP Balikpapan Senin Besok
Langkah ini diharapkan menjadi fondasi bagi penguatan kerja sama energi bersih Indonesia dengan mitra strategis, termasuk China, secara berkelanjutan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya