Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Meletusnya perang di Timur Tengah buntut serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran, mempertanyakan peran Dewan Perdamaian Gaza atau Board of Peace (BoP) bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pertanyaannya, masih perlukan Indonesia bergabung di BoP?
Pemerhati Hubungan Internasional, Prof Komaruddin Hidayat angkat bicara perihal keputusan Presiden Prabowo Subianto yang bergabung di BoP. Menurutnya, Presiden Prabowo berada dalam posisi sulit di tengah dinamika politik domestik dan tekanan geopolitik internasional. Kata Komarudin, Prabowo saat ini menghadapi situasi yang kompleks.
Prabowo harus menyeimbangkan opini publik dalam negeri yang cenderung kritis dengan kalkulasi politik ekonomi luar negeri. Utamanya dalam relasi dengan Amerika Serikat.
Baca juga : PLN Indonesia Power Pamer Mobil Hidrogen di IIMS 2026
“Saya berusaha memahami posisi Prabowo yang terjepit antara opini dalam negeri yang cenderung negatif dan kalkulasi politik ekonomi luar negeri yang membuatnya sulit menolak tekanan Donald Trump,” kata Komaruddin kepada Rakyat Merdeka, Sabtu (28/2/2026).
Ia menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini juga menjadi faktor penting yang memengaruhi berbagai keputusan politik pemerintah. Menurutnya, situasi fiskal nasional tengah menghadapi tekanan karena belanja negara. Belum lagi untuk pembayaran utang yang jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan pemasukan negara.
Komaruddin mencontohkan, pada Januari lalu APBN tercatat mengalami defisit sekitar Rp 56 triliun. Jika kondisi tersebut terus berlanjut, Komarudin menilai dapat berdampak serius terhadap stabilitas pemerintahan. "Jika isu politik, itu masih bisa dikendalikan dan direkayasa. Namun kalau kondisi ekonomi kian memburuk, kepercayaan rakyat kepada Prabowo bisa tergerus,” ujarnya.
Baca juga : Pertamina NRE Gaungkan Investasi Energi Bersih ASEAN Di Filipina
Ia menduga kekhawatiran terhadap prospek ekonomi menjadi salah satu alasan Prabowo meyakinkan mitra dari Amerika Serikat untuk meningkatkan investasi di Indonesia. "Mungkin Prabowo melihat bayang-bayang suram ekonomi ini sehingga berusaha meyakinkan mitra AS untuk berinvestasi di Indonesia. Tetapi ongkos politik di dalam negeri juga cukup mahal,” nilai Ketua Dewan Pers itu.
Komaruddin juga menyinggung langkah Amerika yang tidak konsisten dalam menjaga perdamaian dunia. Di mana, teranyar, Amerika membantu Israel menyerang Iran. Ia menilai bila tidak ada kemajuan menuju perdamaian, maka dukungan Indonesia terhadap inisiatif BoP bisa menjadi sorotan publik.
“Dukungan Prabowo terhadap BoP bisa menjadi sasaran kemarahan rakyat,” nilainya.
Baca juga : Komisi XI: Hadirkan Optimisme
Menurutnya, sebagian masyarakat bisa saja menilai kebijakan AS sebagai bentuk dukungan kuat terhadap Israel dalam konflik kawasan tersebut. Karena itu, Komaruddin menilai publik akan menunggu sikap dan pernyataan resmi Prabowo terkait perkembangan geopolitik tersebut.
"Kita tunggu saja apa komentar dan sikap Prabowo,” pungkas Komaruddin.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya