Dark/Light Mode

Bakal Lakukan Serangan Lebih Keras, AS Minta Warganya Keluar Dari Timur Tengah

Selasa, 3 Maret 2026 12:19 WIB
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio gelar jumpa pers di Gedung Kongres AS, Capitol Hill, Washington DC, Senin (2/3/2026). (Foto Tangkapan Layar)
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio gelar jumpa pers di Gedung Kongres AS, Capitol Hill, Washington DC, Senin (2/3/2026). (Foto Tangkapan Layar)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyerukan warganya meninggalkan kawasan Timur Tengah. Menyusul eskalasi perang dengan Iran semakin meningkat dan berisiko serius. Apalagi AS akan melakukan serangan yang lebih keras.

Dalam unggahan akun X Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, prioritas utama Departemen Luar Negeri (Deplu) AS adalah keselamatan dan keamanan warga negara AS.

 "Prioritas pertama kami adalah keamanan dan keselamatan warga Amerika Serikat di seluruh dunia. Saya ingin mengambil kesempatan ini untuk berbicara secara langsung dengan para warga Amerika Serikat yang berada di Timur Tengah tentang pekerjaan yang kami lakukan untuk menjaga keamanan Anda," katanya.

Rubio juga mendesak warga Amerika untuk mendaftar Smart Traveler Enrollment Program serta mengikuti pembaruan keamanan melalui saluran WhatsApp departemen dan media sosial. Dia turut mengimbau warga AS memantau perkembangan informasi dari akun Departemen Luar Negeri AS.

Terpisah, Wakil Menlu Urusan Konsuler, Mora Namdar meminta warga AS yang berada di Bahrain, Mesir, Iran, Israel, Kuwait, Lebanon, Qatar, hingga Arab Saudi segera keluar menggunakan jalur komersial. 

Baca juga : Sigap Tangani Klaim, BRINS Serahkan Klaim Alat Berat 1,4 Miliar Di Pinrang

"Warga Amerika yang membutuhkan bantuan Departemen Luar Negeri untuk mengatur keberangkatan melalui jalur komersial, Hubungi Kami 24 jam sehari, 7 hari seminggu di +1-202-501-4444 (dari luar negeri) dan +1-888-407-4747 (dari Amerika Serikat dan Kanada)," tulis Namdar di akun X pribadinya.

Sebelumnya, masih dalam postingan Deplu AS, Presiden AS Donald Trump menyatakan, AS akan melakukan operasi militer berskala besar di Iran, yang disebutnya Operasi Epic Fury

Menurut Trump, operasi itu untuk memastikan bahwa warga AS aman dari ancaman nuklir. Pasalnya, kata Trump program rudal balistik konvensional Iran tersebut berkembang dengan cepat dan dramatis, dan hal ini menimbulkan ancaman yang sangat jelas dan kolosal bagi Amerika dan pasukan kami yang ditempatkan di luar negeri.

"Tujuan dari program rudal yang berkembang pesat ini adalah untuk melindungi pengembangan senjata nuklir mereka dan membuatnya sangat sulit bagi siapa pun untuk menghentikan mereka dalam membuat senjata nuklir yang sangat dilarang ini," tegas Trump.

"Kami melakukan operasi besar-besaran ini bukan hanya untuk memastikan keamanan bagi kita, tetapi juga bagi anak-anak kita," tandasnya.

Baca juga : Idrus Marham: Serangan Militer Ke Iran Ancaman Bagi Perdamaian Dunia

 Adapun, Iran telah lama bersikeras tidak ingin membangun bom nuklir. Meskipun rudal balistiknya disebut mampu menjangkau pangkalan AS dan sekutunya di kawasan Timur Tengah, Teheran dikabarkan belum memiliki kemampuan untuk menyerang wilayah daratan AS secara langsung.

Dalam jumpa pers di Gedung Kongres AS, Capitol Hill, Senin (2/3/2026) waktu setempat, Rubio mengingatkan kondisi di Timur Tengah yang terus memanas.

"Pukulan terberat masih akan datang. Fase berikutnya akan jauh lebih berat bagi Iran daripada yang saat ini. Dunia akan menjadi tempat yang lebih aman setelah kami menyelesaikan Operasi Epic Fury," ingat Rubio.

Namun Rubio membantah, dalam operasi ini AS menginginkan perubahan pemerintahan Iran. Meskipun kenyataannya, serangan AS-Israel telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan puluhan pemimpin tinggi lainnya.

 “Meskipun kami ingin melihat rezim baru, intinya adalah siapa pun yang memerintah negara itu setahun dari sekarang, mereka tidak akan memiliki rudal balistik dan drone untuk mengancam kami,” kata Rubio. 

Baca juga : Garuda Tangguhkan Penerbangan Doha PP, Imbas Eskalasi Militer di Timur Tengah

Rubio tidak mengesampingkan pengerahan pasukan darat. Tapi menurutnya, operasi kali ini dapat dilakukan tanpa invasi darat.

"Presiden selalu memiliki opsi operasi apa pun yang ia putuskan sebagai Panglima Tertinggi. Namun demikian, kami yakin tujuan yang telah kami tetapkan untuk misi ini dapat dicapai tanpa pasukan darat," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.