Dark/Light Mode

Di Tengah Negosiasi Nuklir Dengan Teheran

Amrik Galang Kekuatan Militer Di Timur Tengah

Selasa, 24 Februari 2026 06:10 WIB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian (kiri) dan Presiden AS Donald Trump.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian (kiri) dan Presiden AS Donald Trump.

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah negosiasi nuklir dengan Iran, Amerika Serikat (AS) justru menggalang kekuatan militer besar di Timur Tengah.

AS dan Iran dijadwalkan kembali menggelar perundingan nuklir putaran lanjutan pada Kamis (26/2/2026) di Jenewa, Swiss. Kepastian itu disampaikan Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi, Minggu (22/2/2026) waktu setempat, di tengah meningkatnya tekanan terhadap Teheran.

Oman menjadi mediator dalam pembicaraan tidak langsung terkait program nuklir Iran dan memfasilitasi putaran terakhir di Jenewa, 17 Februari lalu.

Dilansir Associated Press, Senin (23/2/2026), belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Presiden AS Donald Trump. Namun, Washington diketahui telah meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah. Mobilisasi militer ini disebut sebagai yang terbesar dalam beberapa dekade, seiring dorongan agar Iran memberikan konsesi lebih jauh terkait program nuklirnya.

Baca juga : Aurelie Moeremans, Pernikahan Pertama Tidak Diakui Gereja

Dilansir Financial Times, AS telah menghimpun kekuatan militer di Timur Tengah yang mencakup 16 kapal perang dengan total 40.000 personel serta 7 skuadron udara yang masing-masing terdiri dari 70 pesawat tempur.

Menurut Financial Times, AS sudah menempatkan lima skuadron udara, masing-masing memiliki 70 pesawat tempur, pada pangkalan militernya di Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Sementara, tambahan dua skuadron udara lainnya berbasis di kapal-kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford.

Mengutip data dari Universitas Tel Aviv, Financial Times menyebut, di Pangkalan Militer Muwaffaq Salti, Yordania, sudah terdapat 66 jet tempur AS yang terdiri dari 8 jet tempur F-35 dan 17 unit jet tempur F-15. Kemudian, 8 unit pesawat A-10, pesawat peperangan elektronik EA-18, dan pesawat pengangkut.

Data satelit juga menunjukkan, adanya peningkatan jumlah jet tempur AS yang ditempatkan pada pangkalan militernya di Arab Saudi.

Baca juga : Trump Naikkan Tarif Global 15%, Prabowo Siap Hadapi Semua Kemungkinan

Sebelum pengumuman resmi dari Oman, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada CBS, dia dijadwalkan bertemu utusan khusus AS, Steve Witkoff, di Jenewa. Dia menilai masih ada “peluang baik” untuk mencapai solusi diplomatik atas isu nuklir.

Menurut Araghchi, Iran tengah menyiapkan draf proposal kesepakatan yang akan dibagikan dalam beberapa hari ke depan. Washington disebut masih menunggu rancangan tersebut.

Fokus Isu Nuklir

Araghchi menegaskan, pembahasan hanya difokuskan pada program nuklir. Teheran menolak memasukkan isu program rudal balistik dan dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan, meski AS dan Israel mendorong agar topik itu turut dibahas.

Trump sebelumnya memperingatkan kemungkinan serangan terbatas terhadap Iran jika diplomasi gagal. Baik Washington maupun Teheran sama-sama memberi sinyal kesiapan menghadapi konflik terbuka apabila perundingan kandas.

Baca juga : Soal Impor 105 Ribu Mobil Pick Up dari India, Muncul Desakan Agar Dibatalkan

Tak lama setelah mendapat konfirmasi dari Oman, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan, negosiasi telah menghasilkan pertukaran proposal praktis dan sinyal yang menggembirakan. Meski demikian, dia menegaskan, Iran telah menyiapkan langkah untuk menghadapi segala kemungkinan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.