Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tuntutan Dunia Pada Hari Perempuan Internasional
Stop Perang Di Iran Dan Usut Trump Dalam Kasus Epstein
Selasa, 10 Maret 2026 06:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ribuan pendemo turun ke jalan menuntut dihentikannya perang di Timur Tengah (Timteng), Minggu (8/3/2026) di sejumlah negara. Aksi damai ini menjadi bagian dari perayaan Hari Perempuan Internasional yang diadakan setiap tanggal 8 Maret.
Pendemo terdiri dari berbagai latar belakang. Seperti pengacara, aktivis hak asasi manusia, jurnalis, atlet, hingga selebgram, mengangkat isu perang di Timur Tengah.
Di Spanyol, ribuan perempuan berterima kasih kepada Pemerintahnya yang berani tegas dengan Amerika Serikat (AS). Negeri Matador ini sempat membuat Washington DC berang karena ogah meminjamkan pangkalan militernya untuk menyerang Iran.
Baca juga : Sheila Dara Aisha, Tegar Melepas Suami
“Kita bisa menghentikan perang, hentikan kebiadaban dan memenuhi hak manusia," tegas Wakil Perdana Menteri kedua Spanyol Yolanda Diaz, yang menyemangati pendemo, Minggu (8/3/2026), dikutip dari Al Jazeera, Senin (9/3/2026).
Teriakan yel-yel bergema di sepanjang jalan utama Madrid. "Kami membela perdamaian!" dan "Kembalikan perdamaian Iran!" terdengar dari kerumunan massa di Spanyol.
Lebih dari sepekan sejak konflik bersenjata pecah antara Iran dengan Israel dan AS, dampak kemanusiaannya terus meningkat. Lebih dari 1.300 orang dilaporkan tewas, sementara sekitar 100.000 warga terpaksa mengungsi akibat pertempuran yang masih berlangsung.
Baca juga : Jakarta Banjir Lagi
Banyak warga meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman. Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) juga melaporkan lonjakan permintaan bantuan darurat dari masyarakat yang terdampak konflik.
Di Prancis, ada lebih dari 150 titik aksi demo. Seorang penyintas pemerkosaan berusia 73 tahun, Gisele Pelicot, memimpin pawai yang menyerukan diakhirinya kekerasan seksual di Paris, Minggu (8/3/2026). Dia mengaitkan Presiden AS Donald Trump dengan kasus kekerasan seksual.
Dia menuntut pemeriksaan kasus yang melibatkan Trump dengan pelaku kasus perdagangan seks anak, Jeffrey Epstein. “Kami tidak akan menyerah," teriak Pelicot.
Baca juga : Status TNI Siaga 1, Politisi-Pengusaha Sambut Positif
Di AS, para aktivis berkumpul di Zorro Ranch di Kota Albuquerque, New Mexico, Minggu (8/3/2026). Ini merupakan tempat terpidana Jeffrey Epstein diduga melakukan pelecehan seksual dan perdagangan anak perempuan dan wanita muda di bawah umur.
“Penutupan dan perlindungan selama bertahun-tahun terhadap sekutu dan kaki tangan Jeffrey Epstein mengungkap budaya bahwa penguasa bisa bebas dari jangkauan hukum," ucap Direktur Eksekutif Women’s March Rachel O’Leary Carmona dikutip dari Reuters, Senin (9/3/2026).
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya