Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal islah alias tidak berhasil mencapai kata sepakat untuk menghentikan perang. Perundingan yang berlangsung 21 jam di Islamabad, Pakistan, itu berakhir tanpa kesepakatan. Kedua belah pihak bertahan dengan sikapnya masing-masing.
Perundingan digelar pada Sabtu (11/4/2026) hingga Minggu (21/4/2026) dini hari. Pihak AS dipimpin Wakil Presiden JD Vance, Utusan Khusus Steve Witkoff, dan menantu sekaligus Penasihat Donald Trump, Jared Kushner.
Dari pihak Iran, ada sekitar 70 delegasi yang datang. Mereka dipimpin Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf, yang didampingi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Sekretaris Dewan Pertahanan Ali Akbar Ahmadian, Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati, serta sejumlah anggota parlemen Iran.
Pakistan, sebagai mediator perundingan, juga mengutus tokoh penting dalam pertemuan ini. Salah satunya, Kepala Staf Angkatan Darat Asim Munir.
Sebelum perundingan digelar, kedua pihak lebih dulu bertemu secara terpisah dengan Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif.
Di awal-awal, perundingan berlangsung intensif dan kondusif. Berdasarkan laporan New York Times, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dan Wapres AS JD Vance sempat berjabat tangan. Namun, memasuki putaran terakhir, perundingan mamanas dan berujung buntu.
Tim dari AS dan Iran sempat bertukar teks tertulis di meja perundingan. Namun, kedua pihak gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Begitu buntu, JD Vance dan rombongan langsung keluar dari Pakistan kembali ke AS. Vance menyebut, kegagalan ini disebabkan sikap Iran yang bersikukuh mempertahankan ambisi nuklirnya.
Baca juga : Akan Bertemu untuk ke-4 Kali, Prabowo-Putin Bestie Banget
"Pembicaraan dengan pihak Iran berlangsung serius dan menghasilkan sejumlah kemajuan. Namun belum mampu menjembatani perbedaan mendasar terkait syarat-syarat yang diajukan Amerika Serikat," kata Vance, seperti dikutip Reuters, Minggu (12/4/2026).
Ia menyatakan, kegagalan ini menjadi kabar buruk. “Dan saya pikir, kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat. Jadi, kami kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan," tuturnya.
Vance menekankan, salah satu ganjalan utama dalam perundingan adalah penolakan Iran untuk berkomitmen tidak mengembangkan senjata nuklir. Iran bahkan menolak membatasi upaya memperoleh teknologi.
"Padahal ini adalah tujuan utama Presiden Amerika Serikat. Dan itulah yang kami upayakan melalui perundingan ini," tegasnya.
Selain isu nuklir, kata Vance, Presiden AS Donald Trump juga menetapkan prioritas utama membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz agar distribusi minyak global kembali lancar. Selama perundingan, ia terus berkomunikasi intens dengan Trump serta Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Vance mengaku, timnya telah menunjukkan sikap kooperatif selama negosiasi.
"Kami sudah melakukannya, namun sayangnya belum ada kemajuan berarti. Kami meninggalkan perundingan ini dengan tawaran terakhir dan terbaik dari kami. Kita lihat apakah pihak Iran akan menerimanya," ucapnya.
Sementara, Iran memberikan penjelasan berbeda. Iran menyebut, penyebab utama kegagalan perundingan itu adalah tuntutan yang tidak masuk akal dari AS.
"Negosiasi intensif selama 21 jam gagal karena tuntutan yang tidak masuk akal dari pihak Amerika. Negosiasi pun berakhir," tulis lembaga penyiaran negara Iran, IRIB, tak lama usai J.D Vance meninggalkan Islamabad.
Baca juga : 1 Dolar AS = Rp 17 Ribu, Lapangan Banteng Sudah Prediksi
Pemerintah Iran tak berencana melanjutkan negosiasi dengan AS usai gagalnya perundingan perdana. Sumber yang dekat dengan tim negosiasi mengatakan kepada Kantor Berita Iran, Fars, Teheran keukeuh ingin AS menyetujui semua tuntutan mereka.
"Iran saat ini tidak memiliki rencana untuk putaran negosiasi selanjutnya. Iran tidak terburu-buru, dan sampai AS menyetujui kesepakatan yang wajar, tidak akan ada perubahan status Selat Hormuz," kata sumber itu seperti dikutip CNN.
Wakil Presiden Iran Ataollah Mohajerani mengatakan, mandeknya negosiasi adalah kabar yang lebih buruk bagi AS. "AS telah mengusulkan negosiasi, mengatur seorang mediator, dan menyetujui sepuluh syarat Iran untuk pembicaraan, tetapi AS berupaya mencapai apa yang gagal mereka peroleh di medan perang melalui meja perundingan," kata Mohajerani, seperti dilansir Fars.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyatakan, sebenarnya dalam beberapa isu, AS dan Iran telah mencapai saling pengertian. Tapi ada perbedaan pada dua tiga isu penting, dan pada akhirnya perundingan tidak menghasilkan kesepakatan.
"Hal lain yang perlu dicatat adalah kompleksitas isu dan situasinya. Beberapa topik baru ditambahkan dalam perundingan kali ini, termasuk Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya. Isu-isu ini memiliki kondisi dan persyaratan khusus masing-masing," terangnya.
Trump Klaim Menang
Presiden AS Donald Trump seperti meremehkan mandeknya perundingan ini. Dia tidak peduli dengan hasil negosiasi, karena baginya AS sudah menang.
"Apakah kita mencapai kesepakatan atau tidak, itu tidak berpengaruh bagi saya. Dari sisi Amerika, kami pemenangnya," ujar Trump, di Gedung Putih.
Harapan Pakistan
Dari pihak mediator, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mendesak AS dan Iran tetap menahan diri dan menjaga gencatan senjata meski negosiasi berujung buntu. Dar menegaskan, komitmen gencatan senjata menjadi kunci untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.
Baca juga : Tolong, Plastik Langka Dan Mahal
"Sangat penting bagi para pihak untuk terus mematuhi komitmen mereka terhadap gencatan senjata," imbau Dar, seperti dikutip AFP.
Meski negosiasi gagal capai kesepakatan, Dar menegaskan Islamabad tidak akan berhenti mendorong dialog antara kedua pihak. "Pakistan telah dan akan terus memainkan perannya untuk memfasilitasi keterlibatan dan dialog antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan," ujarnya.
Sementara, di tengah AS-Iran berunding, muncul kabar Israel melakukan sabotase. Bahkan, muncul isu ada upaya pembunuhan ke para delegasi Iran.
Kabar ini diperkuat dengan pengerahan jet-jet Angkatan Udara (AU) Pakistan yang telah memasuki wilayah Iran sejak Kamis (9/4/2026). Tujuan jet Pakistan ini untuk mengamankan wilayah-wilayah udara Iran tertentu dari potensi serangan Israel meski sudah ada kesepakatan gencatan senjata.
Jet tempur Pakistan juga terlihat di langit Bandar Abbas, Iran, untuk mengawal delegasi Iran ke Pakistan dan mengawal mereka saat pulang ke Teheran. Dalam laporan foto Globalreport, terlihat pesawat-pesawat tempur Pakistan membentuk perisai pelindung di Teluk Persia, didukung oleh pesawat AWACS, untuk melindungi delegasi pesawat Iran dari potensi serangan Israel.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya