Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Laporan Wartawan Rakyat Merdeka Muhammad Rusmadi Dari Media Center Haji, Makkah
Sorot mata Jumaria terlihat tenang saat mengenang perjalanan panjang hidupnya menuju Tanah Suci. Di usianya yang hampir 70 tahun, perempuan sederhana asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan itu akhirnya bisa menjejakkan kaki di Kota Madinah setelah puluhan tahun menabung dari hasil bertani.
Perjalanan hajinya bukan kisah tentang kekayaan atau penghasilan besar. Semua biaya yang dia kumpulkan berasal dari kerja keras di sawah dan kebun, dijalani dengan penuh kesabaran dan ketekunan selama bertahun-tahun.
Setiap hari, Jumaria memulai aktivitas sejak pagi buta. Dengan membawa bekal sederhana, dia berjalan menuju sawah, bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menyisihkan sedikit uang untuk biaya haji.
“Kerja sawah. Kalau pagi jam 6 pergi, bawa air setengah liter. Habis itu pulang. Pulang mandi, makan. Sudah makan tidur sedikit, baru shalat,” tutur Jumaria dengan suara lirih.
Nama nenek Jumaria mendadak dikenal luas setelah kisah hidupnya diangkat oleh Otoritas Keimigrasian Kerajaan Arab Saudi melalui akun media sosial @makkahroute. Wajahnya yang teduh dan kisah perjuangannya menyentuh hati banyak orang hingga viral di berbagai platform media sosial.
Nenek Jumaria kemudian dipilih menjadi Ikon Haji 2026 dalam program Makkah Route. Sosoknya dianggap mewakili semangat perjuangan jemaah Indonesia yang berangkat ke Tanah Suci melalui jalan panjang penuh pengorbanan.
Baca juga : Nailul Huda: Kebijakan Ini Bisa Cegah Kenaikan Inflasi
Selain kisah hidupnya yang menginspirasi, kondisi fisik Jumaria yang masih terlihat bugar di usia senja juga menjadi perhatian banyak pihak. Meski hampir berusia 70 tahun, dia tetap aktif bekerja dan menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Selama ini, Jumaria tinggal seorang diri di rumah sederhana yang berada di tengah area persawahan. Rumah itu cukup jauh dari permukiman warga lain di kampungnya.
Di tempat sederhana itulah dia menjalani kehidupan sehari-hari sambil terus memupuk harapan bisa menunaikan ibadah haji. Bertahuntahun dia menghabiskan waktunya untuk bertani demi mengumpulkan uang sedikit demi sedikit.
Perempuan asal Desa Kurusumange, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros itu mengaku hasil panen yang diperoleh tidak langsung habis untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian hasil penjualan padi selalu dia sisihkan untuk tabungan haji.
“Kalau sudah panen padi, saya jual, baru kusimpan,” katanya.
Tak hanya mengandalkan hasil sawah sendiri, Jumaria juga bekerja di kebun milik orang lain. Upah yang diterima memang kecil, namun seluruhnya tetap dia simpan dengan disiplin.
“Ada lagi itu punya kebun yang kukerja, dia kasih, saya simpan. Kalau ada makanan dibawakan, saya simpan semua (uangnya -red),” tuturnya.
Baca juga : Mukhamad Misbakhun: Untuk Jaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi
Bagi Jumaria, menyimpan uang menjadi perjuangan tersendiri. Dia tidak memiliki rekening atau pun tempat penyimpanan khusus. Uang hasil kerjanya disembunyikan di berbagai tempat sederhana agar tidak terpakai untuk kebutuhan lain.
“Kalau pertama dikasih, saya simpan begini. Bawa ini, bawah kasur. Jadi pergi, saya simpan di ember-ember,” ujarnya.
Dia bahkan menutupi uang tabungannya dengan kain-kain bekas agar tidak diketahui orang lain. Semua dilakukan demi menjaga impiannya tetap hidup.
“Di bawah tempat tidur. Baru saya tutup kain-kain jelek supaya tidak ada yang tahu. Gitu cucuku bilang ada uang di sini,” katanya sambil tersenyum kecil.
Tabungan haji itu terkumpul perlahan selama hampir dua dekade. Ada kalanya dia hanya mampu menyimpan uang recehan, tetapi tekadnya untuk berangkat ke Tanah Suci tidak pernah surut.
“Begitu (selalu disisihkan untuk disimpan -red), hampir 20 tahun,” ucapnya.
Selama bertahun-tahun pula Jumaria berusaha keras agar uang yang sudah ditabung tidak terpakai untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan dalam kondisi hidup serba kekurangan, dia memilih bertahan dengan makanan seadanya.
Baca juga : DPR Minta Jaminan Distribusi Solar Subsidi Nelayan Kecil
“Kalau kumasukkan di ember, saya tidak ambil belikan,” tuturnya.
Kesederhanaan itu dijalani tanpa keluhan. Saat tidak memiliki lauk, Jumaria memilih memasak daun ubi yang tumbuh di sekitar rumah agar tabungan hajinya tetap utuh.
“Ambil saja daun ubi, saya masak. Masak yang ada saja. Saya tidak mau ambil itu yang kusimpan,” katanya.
Sesekali dia menikmati telur dari ayam peliharaannya untuk lauk makan sehari-hari. Bagi Jumaria, hidup sederhana bukanlah persoalan selama cita-cita menuju Tanah Suci tetap bisa diperjuangkan.
“Biasa masak sayur. Besok-besok kalau ayamku bertelur, saya ambil. Saya masak telur ayam,” ujarnya.
Kini, setelah puluhan tahun menahan keinginan dan hidup dalam kesederhanaan, langkah Jumaria akhirnya sampai di Tanah Suci. Perjuangan panjang perempuan renta itu menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan hanya tentang kemampuan materi, tetapi juga tentang keteguhan hati, kesabaran, dan keyakinan yang dijaga sepanjang hidup.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya