Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Meski terus digempur Amerika Serikat (AS) dan Israel, Iran ternyata belum kehabisan tenaga. Napas Iran masih panjang. Berdasarkan data yang diungkap badan intelijen AS; CIA, Iran masih punya banyak rudal perang.
CIA dalam laporannya menilai, Iran akan bertahan menghadapi AS hingga tiga atau empat bulan ke depan. Teheran disebut masih memiliki 70 persen pasokan rudal, meskipun digempur habis sejak 28 Februari silam.
Dilansir media AS The Washington Post, Kamis (7/5/2026), laporan CIA itu telah disampaikan kepada Gedung Putih pekan ini. Menurut The Washington Post, CIA dalam laporannya menyebut Iran mampu mempertahankan kemampuan drone dan rudal balistik dalam jumlah signifikan.
Sumber pejabat AS yang dikutip The Washington Post mengatakan, Iran masih punya 75 persen pasokan peluncur rudal mobile pra-perang dan sekitar 70 persen pasokan rudal sebelum perang dimulai. Iran juga disebut berhasil membuka kembali fasilitas penyimpanan rudal bawah tanah miliknya.
Selain itu, laporan analisis CIA juga memperkirakan waktu bertahan Iran cukup panjang dalam menghadapi krisis ekonomi akibat blokade AS di perairan Teluk.
CIA memprediksi Teheran dapat bertahan selama 90 hingga 120 hari sebelum menghadapi krisis ekonomi yang parah.
Baca juga : Jumaria Sang Ikon, Makan Daun Ubi Demi Tabungan Haji
Seorang pejabat AS bahkan menyatakan penilaian terbaru CIA ini justru kurang jitu dan seolah meremehkan rezim Iran. Iran disebut jauh lebih kuat.
"Para pemimpinnya radikal, bertekad, dan semakin yakin bahwa mereka dapat mengalahkan kemauan politik AS dan terus melawan," kata pejabat tersebut.
Diketahui, laporan CIA ini bertentangan dengan pernyataan yang disampaikan Presiden AS Donald Trump dan para pejabat tinggi AS lainnya tentang kondisi riil Iran. Trump sebelumnya mengklaim sebagian besar kemampuan rudal dan drone Iran sudah lumpuh.
"Sebagian besar telah hancur. Mereka mungkin memiliki 18-19 persen, tetapi tidak banyak dibandingkan apa yang sebelumnya mereka miliki," kata Trump dalam pernyataan di Ruang Oval Gedung Putih, Rabu (6/5/2026).
Trump juga mengklaim blokade lautnya berhasil membuat Iran kehabisan ruang penyimpanan minyak produksinya. Penumpukan minyak disebut akan memicu runtuhnya infrastruktur energi Teheran.
Para analis mengatakan Iran hanya memiliki ruang penyimpanan untuk beberapa minggu lagi. Sementara perusahaan analisis energi Kpler menyebut Iran hanya punya waktu 25-30 hari sebelum kehabisan ruang penyimpanan.
Baca juga : Nailul Huda: Kebijakan Ini Bisa Cegah Kenaikan Inflasi
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menambahkan, blokade akan merugikan rezim Iran sekitar 170 juta dolar AS per hari. Sebab Iran akan kehabisan ruang untuk menyimpan minyak yang tidak terjual di Pulau Kharg, terminal utama minyak mereka.
Di sisi lain, klaim AS yang menyebut fasilitas nuklir Iran, mulai dari universitas, pabrik produksi uranium, hingga titik penting lain dalam rantai pasokan nuklir, hancur total selama perang juga dinilai keliru.
Citra satelit terbaru menunjukkan sebagian besar kemampuan nuklir Iran masih bertahan. Sejumlah bagian penting untuk penyimpanan uranium yang sangat diperkaya bahkan disebut tidak tersentuh sama sekali, meskipun sebagian besar proses produksi mengalami kerusakan parah.
Tambang Uranium Saghand berdasarkan citra terbaru sejak serangan terakhir juga tidak menunjukkan bukti kerusakan. Alat berat masih beroperasi di lokasi tersebut. Fasilitas konversi uranium Isfahan, tempat material dimurnikan dan diubah menjadi uranium heksafluorida, juga disebut tidak mengalami kerusakan berat.
Kepala Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi meyakini, sebagian besar uranium yang diperkaya tinggi milik Iran masih berada di Isfahan.
Sementara itu, Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref menegaskan negaranya akan segera merayakan kemenangan besar melawan musuh setelah perang dan bertahun-tahun rentetan sanksi yang menimpa Teheran. "Rakyat Iran adalah pemenang Perang Ramadan," kata Aref saat berkunjung ke Grup Pelayaran Republik Islam Iran, seperti dilansir Press TV, Jumat (8/5/2026).
Baca juga : Mukhamad Misbakhun: Untuk Jaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi
Istilah Perang Ramadan digunakan karena serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari lalu dimulai saat bulan suci Ramadan berlangsung. "Kita akan segera menggelar perayaan kemenangan, dan sanksi-sanksi serta tekanan yang dikenakan pada bangsa Iran selama beberapa tahun terakhir akan dicabut," yakin Aref.
Teheran, diyakininya, akan mampu melakukan rekonstruksi terhadap zona industri yang rusak akibat perang. Selain itu, kata dia, Selat Hormuz adalah hak mutlak milik Iran.
"Sekarang kami bertekad untuk mengendalikan selat ini. Pengelolaan ini dapat menjamin keamanan jalur perairan dan semua negara di kawasan ini," ujarnya.
Diketahui, saat ini kedua negara tengah bernegosiasi untuk perundingan damai putaran kedua. Keduanya juga sedang menjalani gencatan senjata sejak 7 April lalu. Namun selama periode gencatan senjata tanpa batas waktu tersebut, AS dan Iran masih kerap saling serang. Terbaru, AS dan Iran kembali jual beli rudal di perairan Teluk dan Selat Hormuz, Kamis (7/5/2026). [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya