Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah meningkatnya fragmentasi geopolitik dan tatanan global yang dinamis, Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) meluncurkan sebuah inisiatif yang berfokus pada pendalaman dialog publik dan keterlibatan masyarakat sipil di Asia Tenggara.
Perdana "ASEAN For The Peoples Week 2026" berlangsung pafa 5-8 Mei 2026, di Cebu, Filipina, bersamaan dengan KTT ASEAN ke-48.
Inisiatif ini digerakkan masyarakat sipil ini yang dibangun dari momentum Konferensi ASEAN For The Peoples 2025 (AFPC), dirancang sebagai sebuah platform inklusif yang mendekatkan ASEAN kepada masyarakat, melibatkan para pejabat, pemimpin masyarakat sipil, pelaku bisnis, perwakilan pemuda, media, akademisi, dan mitra regional.
Tujuan utamanya adalah untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan regional dan pemahaman publik, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap ASEAN.
Selama empat hari, ASEAN For The Peoples Week 2026 akan menampilkan beragam format dialog strategis dan keterlibatan publik, termasuk:
- Pengembangan Kapasitas: ASEAN Journalist and Digital Storyteller Fellowship
- Dialog Kebijakan: Track 1.5 tentang Pembangunan Komunitas ASEAN
Baca juga : AC Milan Tersandung, AS Roma Pesta Gol Warnai Pekan ke-26 Liga Italia
- Keterlibatan Publik: (i) Pemutaran Film dan Talk Show tentang Pembangunan Perdamaian dan Resolusi Konflik di Asia Tenggara, (ii) Southeast Asia Lecture Hall, and (iii) ASEAN Community Town Hall
- Hasil Kebijakan: Rekomendasi yang dihasilkan dari Track 1.5 Dialogue
Dr. Dino Patti Djalal, Pendiri dan Ketua FPCI, mengatakan, sekitar satu dekade lalu, ASEAN melontarkan sebuah gagasan besar, sebuah doktrin yang sangat penting, yaitu untuk mewujudkan komunitas yang berpusat pada rakyat.
"Inilah yang kita rayakan di sini. Sebuah Komunitas ASEAN di mana komunitas tersebut digerakkan dan dibentuk, tidak hanya oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat di kawasan ini," kata Dino.
Ma. Theresa P. Lazaro, Menteri Luar Negeri Filipina menyampaikan selamat kepada Dino dan jajaran Foreign Policy Community of Indonesia atas terselenggaranya ASEAN for the Peoples Week di Cebu, Queen City of the South, dan tempat penyelenggaraan KTT ASEAN ke-48.
"Penyelenggaraan platform yang digerakkan masyarakat sipil pekan ini datang pada saat yang tepat karena Filipina menjadi tuan rumah KTT ASEAN pertama di bawah keketuaan kami. Kami merasa terhormat dapat menyambut para pemimpin kawasan di Cebu untuk membahas isu-isu terkini dan mengeksplorasi solusi kolektif yang mendorong komunitas ASEAN yang tangguh, inovatif, dinamis, dan berpusat pada rakyat," ucapnya.
Dia menambahkan, Platform seperti ASEAN For the Peoples Week sejalan dengan salah satu prioritas keketuaan Filipina. Yaitu pemberdayaan rakyat dan dapat mendorong inklusi sosial, dan mempromosikan rasa identitas bersama dan kebersamaan di ASEAN.
Baca juga : PetroChina Geber Pengeboran Awal 2026 di Jabung
Menurut Nelson Santos, Penasihat Senior Republik Timor-Leste untuk Hubungan Internasional, para pemimpin ASEAN masih bisa duduk bersama dan membahas masalah yang ada.
"Bagi Timor-Leste, ASEAN sekarang menjadi pusat bagi pembangunan kami," imbuhnya.
Dr. Phyu Phyu, Dosen Universitas Hong Kong, mengingatkan, sebenarnya mayoritas orang di kawasan kita masih hidup dalam kemiskinan. Ibu-ibu meninggal. Anak-anak tidak baik-baik saja. Banyak anak yang tidak bersekolah.
"Inilah realitas yang harus kita atasi. Pertanyaannya adalah: apa solusinya, di mana posisi kita, dan bagaimana kita berkolaborasi satu sama lain di bawah bimbingan ASEAN? Karena ASEAN adalah satu-satunya organisasi yang dapat diandalkan oleh masyarakat kita. Apa jalan ke depannya dan apa yang dilakukan negara-negara lain di dunia terkait dengan SDGs?"
Robert Matheus Michael Tene, Wakil Sekretaris Jenderal Komunitas Keamanan Politik ASEAN (2021-2024), mengatakan: "Setiap negara tentu akan memiliki respons bilateralnya sendiri. Tetapi sebagai ASEAN, kita harus memikirkan respons kolektif."
Delia Domingo Albert, Menteri Luar Negeri Karier Wanita Pertama di ASEAN, mengatakan, rasa sentralitas mulai menjadi bagian dari kosakata mulai menjalin hubungan dengan mitra dialog di ASEAN.
"Kita memiliki 10+1 mitra dialog, mitra sektoral, dan mitra pembangunan. Tetapi ASEAN ingin berada di posisi yang kita sebut sebagai pengemudi — yang berarti kita yang menetapkan agenda. Itulah yang sebenarnya kita maksud dengan sentralitas ASEAN. Kita adalah entitas sentral yang membentuk agenda hubungan dengan seluruh dunia."
Baca juga : PPI Hannover Sukses Gelar PORSERA 2025 Di Jerman
Hasil-hasil utama dari rangkaian acara minggu ini akan dihimpun ke dalam sebuah Ringkasan Kebijakan yang akan berkontribusi pada diskusi menuju KTT ASEAN ke-49 di Manila. Dengan menampilkan lebih dari 25 pembicara dari seluruh negara anggota, ASEAN For The Peoples Week 2026 menandai langkah maju yang signifikan dalam mewujudkan ASEAN yang lebih inklusif, tangguh, dan berpusat pada rakyat.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya