Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Kelahiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) bukan sekadar perubahan nomenklatur dalam struktur pemerintahan. Superholding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini dianggap menjadi revolusi fundamental untuk mengakhiri era inefisiensi pengelolaan aset negara.
Hal tersebut menjadi bahasan utama dalam Debat Publik bertajuk ‘Pertaruhan Besar Negara via Danantara pada Restrukturisasi BUMN’, di Semarang, Kamis (7/5/2026). Para pakar ekonomi dan kebijakan publik membedah peran BPI Danantara dalam mengonsolidasikan aset ribuan entitas BUMN menjadi satu kekuatan ekonomi yang kompetitif di kancah global.
Baca juga : “Capping Day” dan Hari Perawat Internasional
Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan INDEF Rizal Taufikurahman memandang, Danantara adalah jangkar utama bagi arsitektur baru ekonomi Indonesia yang lebih lincah dan berdaya saing. Dengan aset gabungan yang mencapai Rp 1.650 triliun, Danantara memiliki kekuatan finansial yang setara dengan hampir separuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Rizal menekankan bahwa efisiensi yang lahir dari restrukturisasi ini bukan hanya tentang penghematan, melainkan tentang penciptaan nilai tambah yang akan menggerakkan seluruh mesin ekonomi.
Baca juga : Industri Film Didorong Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru Di Jakarta
Sementara, Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengupas fenomena ‘redundansi’ atau tumpang tindih unit usaha BUMN yang sebelumnya terjadi. Banyak BUMN yang memiliki anak dan cucu perusahaan di sektor yang sama, seperti logistik, hotel, hingga properti, yang justru saling mematikan alih-alih bersinergi.
Danantara hadir untuk merapikan hal tersebut di bawah satu manajemen profesional dengan mandat jelas untuk melakukan pembersihan dan simplifikasi. Wijayanto mengibaratkan BPI Danantara sebagai penyelamat aset negara yang selama ini terabaikan kualitas pengelolaannya.
Baca juga : Fornas PIM Dorong Perempuan Masuk Ekonomi Digital
“Danantara ini seperti keranjang berisi telur-telur BUMN. Dulu berserakan, sekarang di dalam satu keranjang, sehingga lebih gampang menjaganya, meski kita tetap harus mengawal bersama agar tidak terjadi penyalahgunaan yang bisa merugikan negara,” ucapnya, dalam keterangan yang diterima redaksi, Jumat (8/5/2026).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya