Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sempat Alami Kekerasan Fisik, Diborgol & Dipaksa Sujud
Alhamdulillah, 9 WNI Yang Dibawa Tentara Israel Sudah Dibebaskan
Jumat, 22 Mei 2026 07:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang ditangkap tentara Israel sudah dibebaskan. Sebelum dibebaskan, kondisi mereka cukup menyedihkan, diborgol, dipaksa sujud, hingga mengalami kekerasan fisik.
Ke-9 WNI itu ditangkap bersama ratusan aktivis internasional yang tergabung dalam Global Sumud Flotila (GSF) untuk misi kemanusiaan menuju Gaza, Palestina. Puluhan kapal yang membawa ratusan aktivis dari berbagai negara itu, dicegat tentara Israel di perairan Mediterania, Senin (18/5/2026).
Dilansir AFP, Senin (18/5/2026), lebih dari 50 kapal Global Sumud Flotilla 2.0 sedang menjalankan misi terbaru menembus blokade Israel terhadap Jalur Gaza. Misi ini melibatkan 430 peserta dari 40 negara, di antaranya Jerman, Amerika Serikat, Argentina, Australia, Bahrain, Brasil, Aljazair, Maroko, Prancis, Afrika Selatan, Inggris, Irlandia, Spanyol, Italia, Kanada, Mesir, Pakistan, Tunisia, Oman, Selandia Baru, hingga Indonesia.
Puluhan kapal berisi bantuan kemanusiaan berlayar sejak Kamis (14/5/2026) pekan lalu dari distrik Marmaris di perairan Mediterania dekat Turki. Saat memasuki perairan sebelah barat Siprus sekitar pukul 10.30 waktu setempat, kapal-kapal tersebut disergap tentara Israel.
Sejumlah siaran langsung dari aktivis di atas kapal memperlihatkan aksi Angkatan Laut Israel yang menaiki kapal satu per satu.
Baca juga : Menhaj Tinjau Langsung Pelayanan Jemaah Di Makkah
Tentara Israel sempat menahan ratusan aktivis di pelabuhan selatan Ashdod, Israel. Termasuk 9 WNI yang terdiri dari empat jurnalis dan lima aktivis kemanusiaan.
Mereka yakni Herman Budianto Sudarsono (Dompet Dhuafa) di Kapal Zapyro, Ronggo Wirasanu (Dompet Dhuafa) di Kapal Zapyro, Andi Angga Prasadewa (Rumah Zakat) di Kapal Josef, Asad Aras Muhammad (Spirit of Aqsa) di Kapal Kasr-1, Hendro Prasetyo (SMART 171) di Kapal Kasr-1, Bambang Noroyono (Republika) di Kapal BoraLize, Thoudy Badai Rifan Billah (Republika) di Kapal Ozgurluk, Andre Prasetyo Nugroho (Tempo) di Kapal Ozgurluk, dan Rahendro Herubowo (iNews) di Kapal Ozgurluk.
Dugaan perlakuan tidak manusiawi terhadap para aktivis mencuat setelah Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir mengunggah video di platform X, Rabu (20/5/2026). Video itu memperlihatkan para aktivis berlutut dengan tangan terikat dan kepala menunduk di fasilitas penahanan Penjara Ktziot, dekat Pelabuhan Ashdod.
Video tersebut diiringi lagu kebangsaan Israel. Ben Gvir juga terlihat mengejek para aktivis sambil mengibarkan bendera Israel.
"Selamat datang di Israel. Kami adalah tuan," tulis Ben Gvir dalam keterangan videonya.
Baca juga : Firman Soebagyo: Negara Punya Kendali Terhadap Harga-Volume
Selain itu, dalam berbagai laporan, para relawan disebut mengalami tindakan kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi selama masa penahanan. Mulai dari pemukulan, penggunaan taser dan peluru karet, penghinaan, pemaksaan posisi menyakitkan, hingga sejumlah korban mengalami luka serius dan membutuhkan perawatan medis.
Perlakuan terhadap para aktivis kemanusiaan ini memicu kecaman internasional. Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee menyebut tindakan Ben Gvir menjijikkan. Menteri Dalam Negeri Inggris Yvette Cooper menyatakan aksi itu memalukan sambil memanggil Kedutaan Israel untuk meminta penjelasan.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menilai perlakuan terhadap para aktivis sangat memuakkan dan telah menginstruksikan pemanggilan duta besar Israel. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni juga mengecam tindakan tersebut dan menuntut permintaan maaf resmi.
Prancis, Belanda, Belgia, dan Spanyol turut memanggil duta besar Israel di masing-masing negara. Bahkan dari dalam kabinet Israel sendiri muncul kritik. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menilai aksi Ben Gvir justru merugikan citra negaranya.
Dari dalam negeri, Pemerintah Indonesia juga mengutuk keras tindakan terhadap relawan Global Sumud Flotilla 2.0. Pernyataan itu disampaikan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) melalui akun X @Kemlu_RI.
Baca juga : Eddy Martono: Para Eksportir Punya Pasar Yang Sudah Dibangun Lama
"Indonesia mengutuk tindakan yang tidak manusiawi terhadap relawan Global Sumud Flotilla 2.0 yang dilakukan oleh Israel. Tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan," tulis pernyataan resmi Kemlu, Kamis (21/5/2026).
9 WNI Sudah Dibebaskan
Kabar terbaru terkait nasib 9 WNI diungkap Global Peace Convoy Indonesia (GPCI). Dalam siaran persnya, GPCI menyebut seluruh delegasi Global Sumud Flotilla, termasuk 9 WNI, telah dibebaskan. Seluruh relawan kini menjalani proses deportasi dan pemulangan.
"Seluruh delegasi Global Sumud Flotilla (GSF) dan Freedom Flotilla Coalition (FFC) yang sebelumnya ditahan di Penjara Ktziot telah dibebaskan dari fasilitas penahanan Israel," tulis Koordinator Media GPCI Harfin Naqsyabandy, Kamis (21/5/2026). [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya