Dark/Light Mode

Sehari Setelah Perjanjian Damai AS-Iran

12 Juta Barel Minyak Lintasi Selat Hormuz

Minggu, 21 Juni 2026 08:00 WIB
Iran membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. (Foto: AI/Chatgpt)
Iran membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. (Foto: AI/Chatgpt)

RM.id  Rakyat Merdeka - Distribusi perdagangan minyak dunia mulai berangsur normal. Sehari setelah perjanjian damai Amerika Serikat (AS)-Iran, 12 juta barel minyak berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman dan lancar. 

Kabar baik ini disampaikan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance seperti dilansir The Economic Times, Jumat (19/6/2026). Menurut Vance, peningkatan arus pengiriman minyak terjadi setelah AS dan Iran sepakat berdamai. Artinya, Iran berkomitmen menjalankan salah satu poin kesepakatan, yakni membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

"Iran tidak menembaki kapal apa pun di Selat Hormuz," kata Vance kepada wartawan. 

Baca juga : Alhamdulillah, Di Sini Melimpah...

Menurut Vance, kondisi tersebut menjadi kabar baik bagi dunia internasional. Sebab, sejak perang antara AS dan Iran pecah pada Februari 2026, baru kali ini lalu lintas di Selat Hormuz kembali bergerak secara masif. "Sejauh ini mereka menghormati komitmen mereka," tambah Vance. 

Sebagai bagian implementasi kesepakatan damai, Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran (SNSC) mengumumkan seluruh kapal yang melintasi Selat Hormuz dibebaskan dari biaya selama 60 hari. SNSC menyatakan seluruh biaya pelayaran selama periode tersebut akan ditanggung pemerintah Iran. 

Kebijakan ini bertujuan mempercepat normalisasi aktivitas perdagangan dan pelayaran internasional di kawasan Teluk Persia. 

Baca juga : Jualan Daun Pisang Antar Mbah Painah Berhaji

SNSC juga menginstruksikan Otoritas Jalur Perairan Teluk Persia (PGSA) untuk memproses dan memprioritaskan seluruh permohonan pelayaran secara cepat. Tujuannya untuk mendukung pelaksanaan Memorandum of Understanding (MoU) Islamabad yang menjadi dasar kesepakatan damai AS-Iran. 

Meski kembali dibuka, Iran menegaskan kapal-kapal yang melintas tetap harus mengikuti rute dan jadwal yang telah ditentukan. Sebab, masih terdapat kondisi khusus dan risiko keselamatan di kawasan perairan yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia itu. 

Menurut SNSC, pengaturan tersebut diperlukan untuk menjamin keselamatan pelayaran, mencegah kecelakaan laut, dan memungkinkan peningkatan volume lalu lintas kapal secara bertahap. Perincian teknis pelayaran akan diumumkan lebih lanjut oleh PGSA. 

Baca juga : Belgia Vs Iran, Laga Penentu Di Grup Buntu

Selain membuka jalur pelayaran, Iran juga akan melaksanakan sejumlah langkah pengamanan. Di antaranya operasi pembersihan ranjau laut sebagaimana diatur dalam paragraf kelima MoU Islamabad. 

Diketahui, sejumlah kapal berhasil melintasi Hormuz pasca perjanjian perdamaian AS-Iran ditandatangani pada Kamis (18/6/2026). Kapal pengangkut gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) Mraikh tercatat melintasi Selat Hormuz pada Kamis (18/6/2026). 

Berdasarkan data pelacakan kapal yang dikutip Bloomberg, Mraikh yang disewa Qatar-Energy bersama kapal Ye Chi milik operator pelayaran China melintasi Selat Hormuz melalui rute yang telah ditetapkan Iran. Mraikh diketahui mengarah ke Pelabuhan Qasim di Pakistan. Sementara Ye Chi belum mencantumkan tujuan pelayaran berikutnya. Namun, belum diketahui apakah pelayaran kedua kapal tersebut dilakukan melalui koordinasi langsung dengan otoritas Iran. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.