Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Laporan Wartawan Rakyat Merdeka Muhammad Rusmadi Dari Media Center Haji, Makkah
Di tengah lautan manusia yang memadati Masjidil Haram, sosok Mbah Painah nyaris tak berbeda dengan jutaan jemaah lainnya. Dia mengenakan pakaian sederhana, berbicara seperlunya, dan sesekali tersenyum malu ketika diajak berbincang.
Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan perjalanan panjang yang penuh ketekunan dan pengorbanan. Perempuan asal Wonosobo, Jawa Tengah, tersebut berhasil mewujudkan impian berhaji setelah menabung selama 18 tahun dari hasil berjualan daun pisang.
Perjalanan menuju Baitullah bagi Mbah Painah tidak dimulai dari ruang manasik atau bandara keberangkatan. Impian itu berawal dari pasar-pasar tradisional di kampungnya, dari lembar demi lembar daun pisang yang dijual setiap hari, serta dari uang receh yang disisihkan dengan penuh kesabaran.
Selama puluhan tahun, Mbah Painah menjalani kehidupan yang sederhana. Dia bukan pengusaha besar maupun pemilik usaha ternama. Sehari-hari, dia menggantungkan penghasilan dari berjualan daun pisang kepada para pelanggan di sejumlah desa sekitar tempat tinggalnya.
Rutinitas itu telah dijalani lebih dari 35 tahun. Ketika sebagian besar warga masih terlelap, Mbah Painah sudah bangun sekitar pukul 01.30 dini hari untuk menyiapkan hasil tani yang akan dibawa ke pasar pagi.
Baca juga : Belgia Vs Iran, Laga Penentu Di Grup Buntu
Usai berjualan dan kembali ke rumah menjelang Subuh, dia tidak langsung beristirahat panjang. Setelah melepas lelah sejenak, pekerjaannya kembali berlanjut dengan menyiapkan pesanan daun pisang yang akan diantar kepada pelanggan.
Menariknya, seluruh aktivitas tersebut dilakukan tanpa kendaraan pribadi. Tidak ada sepeda motor maupun mobil yang digunakan untuk menunjang pekerjaannya.
"Jalan kaki saya," ujarnya singkat.
Anaknya yang kini mendampingi selama berhaji menuturkan bahwa sang ibu sudah terbiasa berjalan dari satu kampung ke kampung lain untuk mengantarkan pesanan. Dalam sehari, rute yang ditempuh bahkan bisa melintasi lima desa.
Daun pisang yang dibawanya menjadi kebutuhan banyak orang. Mulai dari pedagang pecel, penjual bubur, jasa katering, hingga warga yang sedang menggelar hajatan memanfaatkan daun pisang yang dijual Mbah Painah.
Kebiasaan berjalan kaki itu pula yang membuat keluarga tidak terlalu khawatir dengan kondisi fisiknya menjelang keberangkatan haji. Ketika diminta berlatih berjalan agar tetap bugar, jawaban Mbah Painah justru membuat seluruh keluarga tertawa.
Baca juga : Kelanjutan Kasus MBG, Sony Sonjaya Bongkar Proyek CCTV & Sidik Jari
"Saya sudah cukup jalan-jalannya jualan," katanya ringan.
Di balik kalimat sederhana itu tersimpan kisah perjuangan yang tidak singkat. Bertahun-tahun dia menapaki jalan desa sambil memanggul daun pisang dan menyimpan satu cita-cita besar dalam hati, yakni dapat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Impian tersebut tidak diwujudkan secara instan. Selama 18 tahun, Mbah Painah menyisihkan sebagian kecil hasil dagangannya untuk ditabung. Nominalnya tidak besar, tetapi dilakukan secara konsisten.
Kadang uang itu disimpan melalui tabungan PKK, kadang melalui arisan kampung. Yang terpenting baginya adalah tetap menyisihkan sebagian rezeki meski jumlahnya terbatas.
"Kalau ada sisa ya saya kumpulkan," katanya.
Saat ditanya berapa jumlah yang biasa ditabung setiap bulan, jawabannya kembali menunjukkan kesederhanaan hidup yang dijalani selama ini.
Baca juga : Adi Prayitno: Publik Berharap PDIP Jadi Oposisi Penuh
"Tidak banyak, paling dua ratus ribu," katanya.
Menariknya, keinginan mendaftar haji pertama kali bukan berasal dari dirinya. Sang suamilah yang lebih dahulu mengajak untuk mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji.
Akhirnya keduanya mendaftarkan diri dan mulai menunggu antrean keberangkatan. Tahun demi tahun berlalu hingga nomor porsi semakin mendekati jadwal keberangkatan.
Akan tetapi, takdir Allah SWT ternyata menghadirkan cerita berbeda. Suami yang sejak awal memiliki keinginan kuat berhaji justru tidak dapat berangkat karena terkendala kondisi kesehatan akibat penyakit jantung yang dideritanya. Hak keberangkatan kemudian dilimpahkan kepada salah satu anak mereka.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya