Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Tim Hukum Febrie: Jawaban Polri dan Kejagung Perkuat Praperadilan
- Rapat 4 Jam di BPKP, Hashim & Ara Bahas Pembentukan Tim Kawal Investasi Qatar
- Tahan Suku Bunga Di 5,75%, BI Fokus Jaga Stabilitas Rupiah
- Penyelundupan 2,6 Ton Sabu Cair Digagalkan, MMB: Kado Indah HUT Kemerdekaan
- Juara Dewata Series, Igor Tolic Puji Mentalitas Skuad Persib
RM.id Rakyat Merdeka - Harapan terjadinya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, kini makin menjauh. Negosiasi untuk mengakhiri perang tak kunjung menemukan titik temu. Sebaliknya, ancaman serangan dan eskalasi di Selat Hormuz kembali mengemuka. AS dan Iran sebelumnya menyepakati nota kesepahaman pada 17 Juni 2026.
Kesepakatan itu seharusnya membuka kembali akses Selat Hormuz, di tengah kedua negara melakukan negosiasi untuk mencapai kesepakatan final terkait program nuklir Teheran dalam waktu 60 hari.
Namun, batas waktu 60 hari sejak MoU tersebut ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian berakhir pada Senin (17/8/2026). Kesepakatan final yang diharapkan tidak kunjung terwujud.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan, tidak ada pembicaraan untuk memperpanjang nota kesepahaman tersebut. “Kami sama sekali tak memulai negosiasi apa pun, dan AS melanggar kesepahaman tersebut sejak awal. Oleh karena itu, persoalan 60 hari tersebut tidak relevan,” kata Baghaei, seperti dilansir kantor berita pemerintah Iran, Tasnim, Senin (17/8/2026).
Presiden AS Donald Trump pun mendesak Iran untuk menyerah. Trump mengatakan tidak akan berupaya memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. “Mereka seharusnya mengibarkan bendera putih tanda menyerah,” tegas Trump dalam wawancara terbaru melalui telepon dengan wartawan Fox News, seperti dilansir Reuters, Selasa (18/8/2026).
Baca juga : Mantan Pejabat Kemenperin Didakwa Rugikan Negara 7 T
Melalui pernyataan di Truth Social, Senin (17/8/2026), Trump juga menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam situasi apa pun. “Tujuan utamanya adalah, dan akan selalu demikian, Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam bentuk atau cara apa pun,” tegas Trump.
Di tengah buntunya komunikasi dengan AS, Iran justru semakin intens melakukan negosiasi dengan Oman. Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan, pihaknya sedang berupaya menyelesaikan pernyataan bersama dengan Oman terkait rencana pengelolaan lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz.
“Dengan Oman, telah tercapai kesepahaman mengenai peta rute transit. Kami telah merencanakan, dan masih berencana merampungkan kesepahaman tersebut dalam bentuk satu paket, peta dan pernyataan bersama,” kata Jubir Kemlu Iran Esmail Baghaei.
Sebelumnya, Iran dan Oman sepakat kapal-kapal diperkirakan akan memasuki jalur strategis tersebut melalui rute yang lebih dekat ke Iran sebelum keluar melalui rute yang lebih dekat ke Oman. Kapal-kapal juga tidak perlu membayar biaya atau tol.
Melihat manuver Iran dan Oman tersebut, Trump mengancam akan menyerang Oman jika menghalangi upaya AS mencapai kesepakatan terkait Selat Hormuz. “Jika Oman menghalangi, kami akan membombardir mereka habis-habisan,” ancam Trump kepada Fox News.
Baca juga : Tjandra Yoga Aditama: Perlu Persiapan Dan Perencanaan Matang
Trump sebelumnya juga mengklaim akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS setelah mengalahkan Iran dalam perang. “Setelah kita selesai mengalahkan Iran, yang sedang mengalami kekalahan telak, saya akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat,” tegas Trump saat berbicara dalam kunjungan ke Akademi Kepolisian Nassau County yang baru di Garden City, New York, Jumat (14/8/2026).
Trump juga dilaporkan mengaku kepada Fox News bahwa pemerintahannya sedang berkomunikasi dengan Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) melalui saluran rahasia secara langsung. “Mereka adalah pemain poker yang hebat, tetapi mereka sedang sekarat,” katanya.
Presiden AS itu juga menegaskan blokade AS terhadap Selat Hormuz akan tetap berlaku. Juru bicara Komando Terpadu Militer Iran, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ibrahim Zolfaqari, segera membantah klaim Trump. “Tidak ada satu pun kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz tanpa izin dan pengawasan Iran,” tegasnya.
Harga Minyak Melonjak
Buntunya kesepakatan damai AS-Iran turut mengguncang pasar minyak dunia. Harga minyak mentah kembali mendidih dan melesat ke level 91 dolar AS per barel pada perdagangan Selasa (18/8/2026).
Dilansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik 27 sen atau 0,3 persen menjadi 91,14 dolar AS per barel. Brent sebelumnya telah menyentuh level tertinggi sejak 30 Juli 2026 pada perdagangan Senin (17/8/2026).
Baca juga : Yahya Zaini: Bisa Bekerja Sama Dengan Pihak TNI
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 42 sen menjadi 85,04 dolar AS per barel. WTI sempat menguat lebih dari 1 persen dalam sesi sebelumnya hingga mencapai 85,37 dolar AS per barel.
Kenaikan harga minyak tidak terlepas dari kekhawatiran pasar terhadap situasi di Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia itu kini semakin sepi dan mencekam.
Data pelacakan kapal Kpler menunjukkan hanya lima kapal komoditas yang melintas pada Sabtu (15/8/2026), sementara tidak ada kapal yang melintas pada Minggu (16/8/2026).
Angka tersebut turun tajam dibandingkan 31 kapal pada akhir pekan sebelumnya. Dalam lima hari sebelumnya, rata-rata hanya 12 kapal yang melintas setiap hari. Padahal, sebelum perang dimulai pada 28 Februari 2026, sekitar 130 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya