Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Menpora: Bonus Rp3 Miliar Menanti Peraih Emas Asian Games 2026
- Eugenia Diva Persembahkan Perunggu Buat Indonesia
- Praperadilan, Silmy Karim Minta Penyitaan dan Status Tersangka Dicabut
- Beredar Hoax Bantuan Rp300 Juta, Ini Klarifikasi Pemprov Papua
- Polri Kerahkan 5.641 Personel Amankan FIFA ASEAN Cup 2026
RM.id Rakyat Merdeka - Iran membuka pintu islah untuk Amerika Serikat (AS). Namun, Teheran memasang tujuh syarat kepada Presiden AS Donald Trump untuk kembali ke meja perundingan dan mengakhiri perang yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Tujuh syarat tersebut disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei. Dia menyebut, persyaratan itu telah disampaikan kepada Washington melalui Qatar yang berperan sebagai mediator. Teheran kini menunggu jawaban Trump.
“Iran telah mengajukan tujuh syarat kepada Pemerintah AS untuk memulai perundingan apa pun,” ungkap Rezaei melalui akun media sosial X, Sabtu (19/9/2026).
Menurut Rezaei, bola kini berada di tangan Washington. Dia menilai AS harus menerima persyaratan Iran jika ingin mengakhiri krisis yang terjadi di kawasan.
“Jika AS ingin keluar dari kesulitan yang mereka ciptakan sendiri dan tidak ingin terus terjebak di dalamnya, tidak ada pilihan lain selain menerima syarat-syarat dari Iran,” tegasnya.
Dari tujuh syarat tersebut, Rezaei baru mengungkap beberapa poin utama. Di antaranya, penghentian perang di seluruh front, pembebasan dana Iran yang dibekukan, serta penghentian blokade laut AS.
Selain itu, Iran disebut mensyaratkan penghentian serangan terhadap wilayahnya dan tidak adanya campur tangan AS dalam urusan internal Iran. Persyaratan tersebut menjadi bagian dari paket yang dibawa melalui jalur mediasi Qatar.
Baca juga : Diungkap KPK: Dana Operasional Eks Gubernur Enembe Mencapai Rp 1,2 Triliun
“Kami tetap berhubungan dengan mediator Qatar, yang telah menyampaikan syarat-syarat kami kepada Washington. Kami menunggu jawaban Presiden Trump,” kata Rezaei, dikutip Al Jazeera, Senin (21/9/2026).
Meski membuka pintu perundingan, Iran tetap menyiapkan opsi militer jika AS kembali menyerang. Rezaei mengatakan, strategi militer Iran mengalami perubahan.
Fokus militer Teheran kini diarahkan pada aset-aset Angkatan Laut AS yang berada di kawasan Teluk, Teluk Oman hingga Laut Arab. Iran, lanjut dia, baru-baru ini melakukan uji coba rudal antikapal dengan sejumlah hulu ledak di sekitar kapal atau kapal induk AS.
Jika serangan kembali terjadi, Iran mengancam memberikan respons besar. Sasaran tidak hanya pangkalan militer AS di kawasan, tetapi juga kepentingan komersial dan perusahaan-perusahaan AS yang beroperasi di wilayah tersebut.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga memperingatkan akan menggunakan senjata baru dan memperluas cakupan serangan jika Washington kembali melancarkan serangan. “IRGC siap menghadapi perang berkepanjangan. Kami akan mengubah persenjataan dan cakupan wilayah perang,” kata juru bicara IRGC Hossein Mohebbi, seperti dilansir Reuters, Senin (21/9/2026).
Sebelumnya, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, yang menjadi pusat komando terpadu militer Iran, mengklaim telah menerima informasi mengenai kemungkinan AS kembali melancarkan serangan.
“Setiap serangan AS akan dibalas dengan serangan terus-menerus atas pangkalan dan kepentingan AS,” demikian pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, IRIB, Minggu (20/9/2026).
Baca juga : Yusuf Lakaseng: Akal-akalan, Niatnya Siasati Putusan MK
Di tengah saling ancam tersebut, Trump justru membuka kemungkinan bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di New York pekan ini. Keduanya dijadwalkan berada di New York untuk menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Trump mengatakan kemungkinan pertemuan dengan Pezeshkian masih terbuka.
Trump juga menyebut tiga pilihan yang sedang dipertimbangkan Washington dalam menghadapi Iran, yakni melanjutkan tekanan ekonomi, mengambil tindakan militer, atau mencapai kesepakatan. “Saya mungkin terbuka untuk bertemu,” ujar Trump mengenai kemungkinan pertemuan dengan Pezeshkian di sela-sela agenda PBB.
Peluang pertemuan semakin terbuka setelah pemerintah AS memberikan visa kepada delegasi Iran untuk menghadiri Sidang Umum PBB. Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi termasuk pejabat Iran yang dijadwalkan hadir.
Selain Pezeshkian, Trump dijadwalkan bertemu para pemimpin negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman untuk membahas konflik dan dampaknya terhadap kawasan.
Sementara itu, Kedutaan Besar Virtual AS di Iran mengeluarkan peringatan kepada warga negaranya agar tidak bepergian ke Iran. “Warga negara AS diimbau tidak bepergian ke Iran dengan alasan apa pun dan agar segera meninggalkan negara tersebut,” demikian peringatan yang dikutip Al Jazeera, Senin (21/9/2026).
Warga AS yang masih berada di kawasan Timur Tengah juga diminta meningkatkan kewaspadaan. Mereka diperingatkan terhadap kemungkinan pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, hingga gangguan perjalanan.
“Konflik militer ini berpotensi meningkat dengan cepat,” tulis peringatan tersebut.
Baca juga : Ahmad Doli Kurnia: Catatan MK, Calon Jangan Terlalu Banyak
Diketahui, konflik Iran-AS juga terus memberikan tekanan terhadap jalur pelayaran internasional, terutama Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut menjadi salah satu titik penting dalam konflik karena berperan besar terhadap lalu lintas energi dunia. Iran menjadikan Hormuz sebagai salah satu sumber tekanan terhadap AS dan negara-negara pendukungnya.
Di sisi lain, Qatar terus menjalankan fungsi mediasi antara Teheran dan Washington. Pemerintah Qatar disebut tengah bertukar proposal dengan kedua pihak untuk mencari jalan keluar dari konflik dan memulihkan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
Konflik ini sebelumnya sempat mereda setelah Teheran dan Washington mencapai nota kesepahaman pada Juni lalu. Kesepakatan tersebut dimaksudkan untuk menghentikan konflik bersenjata dan membuka jalan bagi perundingan lebih lanjut.
Namun, kesepakatan itu tidak bertahan lama. Kedua pihak kembali terlibat dalam permusuhan dan saling melontarkan ancaman. Kini, pintu diplomasi kembali terbuka melalui Qatar. Namun, di saat yang sama, Iran dan AS masih menyiapkan kekuatan militer masing-masing. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya