Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kematian Karena Corona Di Wuhan Meningkat Lagi

China Ketar Ketir

Sabtu, 18 April 2020 08:11 WIB
Ilustrasi Corona. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi Corona. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kasus corona atau Covid-19 di China bangkit lagi. Kota Wuhan yang sebelumnya sudah mulai ‘sehat’ kembali sakit. Data terbaru, ada 1.290 orang meninggal terserang corona. Meningkatnya kematian karena corona, bikin China ketar ketir.

Dengan data tersebut, jumlah kematian di Wuhan naik hingga 50 persen tak lama setelah kebijakan lockdown dicabut pada 8 April lalu. Sementara total angka kematian secara nasional di China menjadi 4.632 kasus.

Menurut pemberitaan AFP, lonjakan kematian di Wuhan lantaran banyak kasus kematian yang dilaporkan secara keliru, alias terlewat da am penghitungan data. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Epidemi Wuhan beralasan, kasus-kasus yang terlewat tersebut disebabkan karena staf medis di kota itu kewalahan. Sehingga memicu keterlambatan pelaporan. Alhasil, Markas Besar Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 China merevisi data kasus corona di negaranya.

Pemerintah China beralasan, jumlah pasien yang melonjak pada tahap awal wabah membuat kewalahan tenaga medis, dan kapasitas penerimaan pada semua institusi medis. Beberapa pasien pun meninggal dunia di rumah tanpa pernah dirawat di rumah sakit.

Berita Terkait : HP Di Telinga, Ucap I Love U Ke Suami

Selama puncak upaya perawatan pasien, sejumlah rumah sakit beroperasi melebihi kapasitas. Sedangkan para staf medis sibuk untuk menyelamatkan dan merawat para pasien. Sehingga berdampak pada pelaporan yang terlambat, terlewat, dan keliru.

Selain itu, karena cepatnya peningkatan jumlah pasien corona di sejumlah RS menjadi alasan pemerintah China keliru dalam melaporkan kasus. Termasuk rumah sakit yang dikelola Pemerintah Provinsi Hubei hingga distrikdistriknya. Juga rumah sakit yang terkait dengan perusahaan-perusahaan, serta rumah sakit, swasta dan rumah sakit darurat.

Ada beberapa institusi medis yang tidak terkait dengan jaringan informasi wabah dan gagal melaporkan data tepat waktu. Terakhir pemerintah China beralasan informasi terdaftar dari beberapa pasien yang meninggal dunia diketahui tidak lengkap, dan ada pengulangan serta kesalahan dalam pelaporan. Dengan demikian Johns Hopkins University mencatat ada 83.753 kasus positif di China. Angka kematian menjadi 4.632. Sedangkan 77.944 kasus berhasil sembuh.

Sebelumnya, sejumlah pihak banyak yang meragukan dengan data corona di China. Bahkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sampai berikan pernyataan akan menyelidiki kebenaran virus yang telah menginfeksi lebih dari 2,1 juta orang itu berasal dari laboratorium di kota Wuhan.

Berita Terkait : Pelatih Barcelona Nggak Yakin La Liga Dilanjutkan

Setali tiga uang, Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab meminta China bertanggung jawab pada pandemi ini. “Kita harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit tentang bagaimana itu muncul dan bagaimana virus tidak bisa dihentikan sebelumnya,” kata Raab dikutip dari kantor berita AFP.

Menurut kantor berita Fox News, virus corona berasal dari laboratorium Wuhan bukan sebagai senjata biologis. Namun bagian dari upaya China untuk menunjukkan kedigdayaannya mengidentifikasi dan memerangi virus yang sama, atau lebih besar dari kemampuan Amerika.

Di sisi lain, Pejabat Administrasi dan Pengawasan Medis China Jiao Yahui mengatakan, tingkat kematian di Wuhan memang yang paling parah. Namun angka pasti, kata dia, tidak akan tersedia sampai wabah berakhir. “Pemerintah China telah terbuka dan transparan mengenai data dan informasi tentang Covid-19. WHO juga telah mengirim tim ahli ke China untuk inspeksi lapangan,” ucapnya seperti dilansir dari China Daily.

Dia menjelaskan angka infeksi Covid-19 di China langsung dilaporkan rumah sakit ke sistem pelaporan online terpadu. Jadi dirinya berdalih tidak ada campur tangan pemerintah terkait data kasus yang dihitung rumah sakit.

Berita Terkait : Pasca Pandemi Corona, Polri Siap Tingkatkan Pariwisata Indonesia

China, tambahnya, membuat sistem pelaporan online tentang semua penyakit menular sejak wabah SARS melanda pada 2003 silam. Sistem ini mengharuskan dokter dan rumah sakit untuk melaporkan informasi pasien tentang penyakit menular sesegera mungkin. [UMM]