Dark/Light Mode

Duta Besar Havas Oegroseno Ajak Semua Kalangan Lindungi Laut

Selasa, 2 Juni 2020 06:18 WIB
Hasil tangkapan layar diskusi online Dubes Arif Havas Oegroseno soal laut yang diadakan Foreign Policy Community Indonesia (FPCI).
Hasil tangkapan layar diskusi online Dubes Arif Havas Oegroseno soal laut yang diadakan Foreign Policy Community Indonesia (FPCI).

RM.id  Rakyat Merdeka - Masalah pencemaran air dan eksploitasi flora dan fauna bawah air masih membayangi planet bumi. Dikabarkan, 40 persen kawasan laut dan perairan di dunia terancam rusak. Hal ini bisa berujung pada berkurangnya biota bawah air dan kepunahan. Tentu saja kondisi ini harus dihindari. Sayangnya, belum ada kekompakan dalam penanganan ini.

Duta Besar Indonesia untuk Jerman Arif Havas Oegroseno menyayangkan tidak adanya kesatuan suara dalam menjaga wilayah air bumi, yang notabenenya menyelimuti lebih dari 70 persen permukaan bumi.

Dalam diskusi virtual yang diadakan Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) pekan lalu, Havas mengatakan, kasus eksploitasi laut dan perairan masih terjadi di banyak negara. Pencemaran air hanya menambah masalah yang sudah ada.

Baca Juga : New Normal Oke, New Orba Ogah

“Kesehatan laut kita berada di bawah ancaman. Sebanyak 40 persen kawasan laut dunia sudah terpolusi. Ini mengkhawatirkan, kegiatan illegal fishing berjalan terus, eksploitasi flora dan fauna bawah air juga masih ada sampai sekarang,” jelas Havas.

Tidak adanya aturan yang satu suara dia sebut sebagai hambatan upaya penyelamatan laut dan perairan. Havas mengatakan, organisasi internasional di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) juga tidak tegas dalam menjaga laut internasional.

“Masing-masing organisasi berjalan sendiri-sendiri dan tidak ada yang substantif. Bahkan, untuk laporan mengenai kelautan sifatnya pun tidak tegas,” lanjutnya.

Baca Juga : Gebuk Cologne 4-2, RB Leipzig Tembus Tiga Besar Bundesliga

Ia juga menyayangan tidak ada aksi yang diharapkan bisa menyelamatkan laut dan isinya. Kalau begini, jelas, tujuan pem- bangunan berkelanjutan (SDG) nomor 14 mengenai kehidupan di bawah laut tidak akan tercapai.

Havas mengajak masyarakat Indonesia, tidak peduli tua atau muda, turun tangan menjaga dan memelihara laut. “Kita harus mengurangi atau berhenti penggunaan plastik sekali pakai,” ajaknya.

Ia juga meminta agar tidak membeli produk yang merusak lingkungan, seperti telur penyu atau dekorasi koral. “Stop makan sup sirip ikan hiu. Nelayan-nelayan di laut yang melakukan illegal fishing tidak manusiawi dalam menangkap ikan. Hiu banyak mati di dasar laut karena tidak bisa berenang untuk mengambil oksigen dan menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem laut,” kata Havas.

Baca Juga : Giliran Jepang Batalkan MotoGP

“Mari hidupkan semangat kemaritiman kita. Jaga laut kita. Jadilah influencer untuk laut. Anak muda bisa berperan aktif dalam hal ini,” tandasnya. [DAY]