Dark/Light Mode

Ngomongin Pilpres Amerika Serikat

Posisi Trump Makin Terjepit

Senin, 31 Agustus 2020 06:15 WIB
Donald Trump. (NET)
Donald Trump. (NET)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mendekati Pilpres Amerika Serikat (AS), jalan Donald Trump tak sepenuhnya mulus untuk kembali jadi orang nomor satu di Negeri Paman Sam. Dalam beberapa jajak pendapat, Joe Biden selalu mengungguli Trump.

Para pendukung Trump di tahun 2016 sepertinya bakal beralih. Dalam diskusi bertajuk US Update: America at The Crossroad 2020 yang digelar secara virtual oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan dimoderatori Dino Pati Djalal, para capres AS dinilai memiliki segmen populasinya masing-masing.

Paxton Baker, panelis dan juga pengamat politik AS memberi gambaran ketika Barack Obama didukung mayoritas rakyat kulit hitam di AS. “Saya rasa pernyataan itu bisa dikatakan benar di satu sisi namun juga tidak di sisi yang lain,” ujar Baker.

Panelis lainnya, Ameshia Cross menilai, AS membutuhkan sosok presiden yang mampu merestrukturisasi ekonomi. Dan tahu tentang cara bagaimana membuat negara itu dapat bergerak dan bekerja kembali.

Hal ini terlebih akan menjadi tugas berat usai pandemi Covid-19 menyerang dunia. “Saya pikir bagian dari upaya itu akan menjadi rencana yang dapat memperkuat dan melatih orang-orang ke dalam beberapa pekerjaan dengan permintaan tinggi,” ujar Cross.

Dia juga menambahkan, AS membutuhkan presiden yang tidak hanya memiliki visi. Tapi juga yang memiliki rencana. Yang dapat ditindaklanjuti dan dapat bekerja dengan individu di semua tingkat keahlian.

Berita Terkait : Trump Ngoceh Pemilu Curang Tanpa Bukti

Cross menambahkan, AS di bawah kepemimpinan Trump dianggap tidak memikirkan kesejahteraan rakyat. Pasalnya, beberapa kebijakan untuk rakyat, salah satunya Affordable Care Act (ACA) atau biasa disebut Obamacare dihapuskan dalam pemerintahan Trump.

“Di bawah pemerintahan Trump, rakyat seperti tidak terlalu diperhatikan. Seperti kesejahteraan, kesehatan dan lain sebagainya,” ujarnya.

Selain kurangnya perhatian untuk masyarakat, di bawah kepemimpinan Trump, kasus rasisme semakin sering terjadi.

Kekerasan terhadap George Floyd, Jacob Blake dan warga kulit hitam AS lainnya, menjadi pengingat bahwa rasisme masih ada dan menimpa warga kulit berwarna di Negeri Paman Sam.

“Kami, warga Afrika-Amerika, juga merupakan warga negara Amerika. Kami juga ingin di - dengar, diperlakukan dengan adil. Hanya itu seruan kami,” tegasnya.

Robert Blake, mantan Duta Besar AS untuk Indonesia menyebut, sebelumnya Trump terpilih karena sejumlah alasan yang berbeda. Blake menyampaikan, posisi Trump akan terlihat lebih sulit kali ini.

Berita Terkait : Joe Biden Nggak Akan Ragu Lockdown Amerika Lagi

Sedangkan Biden hadir sebagai orang baru. Yang belum dikenal banyak orang dalam memegang jabatan tersebut. Menurut Blake, Trump akan membutuhkan upaya lebih untuk menarik pendukung.

Mengingat berbagai hal yang telah terjadi selama masa kepresidenannya sebelumnya. Hubungan Dengan China Blake menambahkan, hubungan antara AS dan China akan memiliki dinamika yang berbeda apabila Biden terpilih.

Dia bilang, baik Biden maupun Trump akan berhati-hati dalam membentuk citra terkait hubungan dengan China. “Mereka tidak akan mau disebut sebagai terlalu lembut terhadap China,” kata Blake.

Saat ini, kepemimpinan Trump lebih banyak menunjukkan kebijakan anti China. Sementara, menurut Blake, pendekatan Biden akan lebih ke arah mengambil peran sebagai pemimpin jika terpilih sebagai presiden.

Kata dia, perbedaan terbesar dalam cara keduanya berhubungan dengan China yakni Biden akan bekerja sama dengan negara-negara sekutu.

“Seperti Jepang, Korea Selatan dan blok seperti Uni Eropa untuk menekan China agar mengubah perilakunya,” katanya.

Berita Terkait : Pidato Biden Menyihir

Penekanan untuk perubahan perilaku itu khususnya fokus pada isu-isu yang dianggap tidak pantas. Seperti pencurian kekayaan intelektual dan beberapa isu pelanggaran hak asasi manusia.

Menurutnya, hal lain yang akan dilakukan Biden, yang sangat tidak terlihat di agenda Trump yakni meningkatkan investasi AS. “Agar AS dapat menjadi lebih kompetitif,” katanya.

Untuk mendukung agenda tersebut, Biden pun telah memiliki sejumlah rencana untuk berinvestasi lebih banyak dalam bidang teknologi maju. Seperti artificial intelligence, quantum computing, dan jaringan 5G guna membuat daya saing AS lebih kuat.

“Tak hanya terhadap China, namun juga terhadap negara-negara lain,” katanya.

Dalam segi hubungan bilateral, dia memprediksi Biden juga akan mencari cara untuk membangun kerja sama dengan China. “Biden memahami Amerika perlu mengambil peran sebagai pemimpin dalam isu-isu ancaman global, seperti perubahan iklim,” tandasnya. [PYB]