Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Serangan Udara Rusia Di Suriah, Pesan Langsung Untuk Turki
Rabu, 28 Oktober 2020 16:06 WIB
Sebelumnya
Namun, dalam beberapa bulan terakhir, patroli gabungan terhenti, membuat sengketa dan perselisihan kembali muncul. Patroli pun hanya mendapatkan hasil yang minim. Idiz mengatakan patroli bersama itu hanya "memberi citra bahwa Turki dan Rusia bekerja bersama."
"Menghentikan patroli-patroli ini merupakan indikasi yang jelas bahwa perjanjian gencatan senjata secara bertahap dikikis, hanya menyisakan opsi militer di atas meja," sambung Idiz.
Namun kecil kemungkinannya, Turki akan memilih membalas secara pribadi atas serangan mematikan pada Senin itu.
Baca juga : Kemenperin: Bonus Demografi Peluang Bangun Industri
Lister mengatakan, peningkatan yang signifikan saat ini masih diragukan, tetapi mencatat sulit untuk mengharapkan bahwa Turki akan membiarkan hal ini sama sekali.
Sementara itu, Idiz mengatakan, Turki mungkin ingin "melumpuhkan" pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad yang bersekutu dengan Rusia. Pada Selasa (27/10), sehari setelah serangan itu, pejuang oposisi Suriah menembakkan ratusan rudal dan peluru artileri ke pos-pos pemerintah di barat laut Suriah.
"Jika salah satu dari mereka mengenai target pro-rezim yang sensitif, atau jika serangan semacam itu bertahan, kita dapat dengan mudah melihat balas dendam menjadi kejadian berulang yang tidak berujung pada perselisihan lagi," kata Lister.
Baca juga : Serangan Udara Di Suriah Bombardir Kamp Perlawanan Oposisi
Serangan baru dan menyeluruh akan menjadi bencana besar bagi penduduk provinsi yang sudah lelah berperang. Ditambah lagi sekarang dengan adanya krisis virus Corona yang mematikan, serta ancaman musim dingin sebentar lagi.
Banyak pengungsi berkumpul di kamp-kamp yang sudah penuh sesak di dekat perbatasan Turki, dan memiliki akses terbatas ke persediaan mendasar seperti air bersih dan makanan.
"Tapi selama masa depan Idlib masih bergantung pada perhitungan regional Rusia-Turki, wilayah di barat laut Suriah akan terus digunakan sebagai alat tawar-menawar," tandas Khalifa. [DAY]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya