Dark/Light Mode

Serangan Udara Rusia Di Suriah, Pesan Langsung Untuk Turki

Rabu, 28 Oktober 2020 16:06 WIB
Konvoi pasukan militer Rusia di Suriah.
Konvoi pasukan militer Rusia di Suriah.

 Sebelumnya 
Awal tahun ini, mereka menengahi gencatan senjata di Idlib, untuk menghentikan serangan pasukan pemerintah Suriah, yang menyebabkan hampir 1 juta orang mengungsi. Ini merupakan krisis kemanusiaan terburuk dalam perang di Suriah.

Dari sekian banyak yang terusir dalam perang, lebih dari 200 ribu orang sudah kembali ke tanah asal mereka. Kebanyakan pulang saat gencatan senjata disepakati.

Namun gencatan senjata di Idlib, provinsi yang dilanda perang yang berpenduduk lebih dari 3 juta orang, tetap di bawah bayang-bayang serangan dari pasukan Rusia dan Turki.

Seorang pakar dan kolumnis Turki, Semih Idiz juga menilai, serangan udara Rusia menjadi sesuatu yang penting di saat Ankara unjuk kekuatan di Nagorno-Karabakh.

Baca juga : Kemenperin: Bonus Demografi Peluang Bangun Industri

"Sengketa Armenia-Azerbaijan adalah masalah yang sangat sensitif. Karena terjadi di “halaman belakang” Rusia," jelasnya, kepada Al Jazeera.

Idiz menambahkan alasan lain yang mungkin telah menyebabkan serangan tersebut, salah satunya adalah ketidakmampuan Turki untuk menyelesaikan masalah kelompok di Idlib yang dianggap Rusia sebagai basis radikalisme.

Aliansi Front Pembebasan Nasional yang didukung Turki mencakup 11 faksi Tentara Pembebasan Suriah (FSA) yang semuanya didukung oleh Turki. Tapi, mereka tidak termasuk Hay'et Tahrir al-Sham (HTS), bekas afiliasi al-Qaeda yang saat ini menguasai sebagian besar provinsi tersebut.

Ketika kesepakatan Idlib pertama ditandatangani Rusia dan Turki pada 2017, syarat utama yang ditetapkan oleh Rusia adalah, Turki harus membubarkan HTS. Kehadiran kelompok ini sering digunakan Rusia sebagai alasan menyerang Idlib.

Baca juga : Serangan Udara Di Suriah Bombardir Kamp Perlawanan Oposisi

"Tetapi Turki belum menyingkirkan kelompok bersenjata itu, baik karena tidak bisa, atau tidak mau," kata Idiz.

"Serangan terbaru ini adalah cara Rusia untuk mengatakan, bahwa waktu hampir habis -atau telah habis," lanjutnya, mengacu pada ketentuan yang ditetapkan dalam kesepakatan yang disepakati oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan pada pertemuan puncak awal tahun ini.

Hal yang sama disampaikan Dareen Khalifa, seorang analis senior Suriah di International Crisis Group (ICG). Dia juga menyatakan perlunya menargetkan kelompok pemberontak tertentu adalah pembenaran yang akan terus digunakan Rusia.

"Kesepakatan itu, seperti para pendahulunya, secara inheren cacat karena dibangun di sekitar premis bahwa Turki akan mengejar beberapa formasi pemberontak terkuat di daerah itu," katanya.

Baca juga : Pangandaran Gempa, Fasilitas dan Layanan Pertamina Tak Terganggu

Serangan sebelumnya oleh Rusia di Idlib dimaksudkan untuk mendorong pejuang oposisi menjauh dari jalan raya utama M4 di Suriah utara, tempat pasukan Turki dan Rusia sering melakukan patroli bersama sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.