Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Sejumlah negara di Eropa kembali menerapkan lockdown untuk beberapa pekan ke depan. Kebijakan ini diambil merespons meningkatnya penularan Covid-19 sekaligus mencegah mobilitas warga pada libur Paskah pada pekan ini.
Libur Paskah berpotensi dimanfaatkan warga untuk bertemu keluarga. Karena itu, otoritas di Benua Biru meyakini kebijakan lockdown sebagai keputusan tepat.
“Kita berada pada awal gelombang ketiga di Eropa, dan di banyak negara anggota Eropa, penularan meningkat lagi,” kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen setelah pertemuan puncak para pemimpin Uni Eropa secara virtual.
Baca juga : Barcelona Vs Real Sociedad, Empat Poin Lagi Menuju Puncak
Belanda, salah satu negara yang menerapkan lockdown. Pemerintah Negeri Kincir Angin itu memperpanjang lockdown hingga 20 April mendatang. Perdana Menteri Belanda Mark Rutte menjelaskan, lockdown diperpanjang karena meningkatnya jumlah kasus infeksi Covid-19 dan rawat inap di rumah sakit.
“Jumlah pasien yang mendapat perawatan intensif semakin meningkat. Gelombang ketiga mulai terlihat. Oleh karena itu, paket tindakan lockdown saat ini diperpanjang,” ujar Rutte dikutip Bloomberg, kemarin.
Institut Nasional untuk Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Belanda mengatakan, pada Selasa pekan lalu, 46.005 orang positif Covid-19. Selama periode 17 hingga 23 Maret, pasien positif naik 16 persen dari pekan sebelumnya.
Baca juga : Sekjen Demokrat Ajak Warga Laporkan Aktivitas Ilegal
Jerman juga menerapkan kebijakan serupa. Kanselir Angela Merkel mengumumkan, Jerman kembali lockdown karena adanya lonjakan baru penderita Covid-19. Jerman meminta warganya untuk tidak berpergian selama libur Paskah.
“Situasinya serius. Jumlah kasus meningkat secara eksponensial dan tempat tidur perawatan intensif terisi lagi,” ungkap Merkel.
Di Eropa, Polandia, tercatat mengalami jumlah kasus harian terbanyak sejak November 2020. Hal itu membuat Pemerintah Polandia memaksa tutup toko-toko dan fasilitas non-esensial, selama tiga pekan.
Baca juga : Ghosting Menerpa Banowati
Toko-toko non-esensial juga tutup di Ibu Kota Ukraina, Kiev. Hanya pasar makanan yang diperbolehkan buka. Sementara itu, sekitar sepertiga populasi Prancis, di Paris dan beberapa kawasan lain di sebelah utara dan selatan negara itu, telah melakukan lockdown sejak 19 Maret lalu.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya