Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Facebook (FB) kembali tersandung masalah keamanan data. Kali ini, dilaporkan, data 533 juta pengguna Facebook dari 106 negara bocor. Dari jumlah itu, 130.331 pengguna dari Indonesia.
Data itu sudah disebarkan di forum kejahatan dunia maya yang dapat diakses publik. Dilansir Business Insider, kemarin, Informasi tersebut mencakup nomor ID Facebook, nama profil, alamat email, informasi lokasi, detail jenis kelamin, data pekerjaan, serta hal-hal lain yang mungkin dimasukkan pengguna di profil mereka.
Baca juga : Angkasa Pura I Raih Empat Penghargaan PR Indonesia Awards 2021
Selain itu, database yang disebarkan penjahat siber itu juga berisi nomor telepon para pengguna. Meskipun informasi tersebut tidak selalu ditampilkan secara publik pada sebagian besar profil. Ngeri ya.
Data pengguna yang paling banyak bocor berasal dari Mesir yakni mencapai 44,8 juta. Lalu disusul Tunisia 39,5 juta pengguna, Italia 35,67 juta pengguna, Amerika Serikat 32,3 juta pengguna, dan Arab Saudi 28,8 juta pengguna. Sedangkan, Indonesia 130.331 pengguna.
Baca juga : Dirjen PAS Ungkap 135 Ribu Warga Binaan Kasus Narkotika Sesaki Lapas di Indonesia
Akun Alon Gal @UnderTheBreach menyebutkan, data pengguna FB dari Indonesia yang bocor itu lebih sedikit dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia yang bocor hingga 11,67 juta akun, Singapura 3,07 juta akun, dan Filipina 879.699 akun.
Alon Gal menjabat sebagai Co-Founder & CTO, Chief Technology Officer Hudson Rock, firma intelijen kejahatan siber yang berbasis di Israel. Kebocoran data ini diketahui setelah dilakukan peninjauan sampel data yang bocor dan memverifikasi beberapa catatan dengan mencocokkan nomor telepon pengguna Facebook yang diketahui dengan ID yang terdaftar di kumpulan data.
Baca juga : Mundur Dari All England 2021, Tim Indonesia Isolasi 10 Hari
“Basis data sebesar itu yang berisi informasi pribadi seperti nomor telepon banyak pengguna Facebook pasti akan menyebabkan pelaku kejahatan memanfaatkan data tersebut untuk melakukan serangan rekayasa sosial (atau) upaya peretasan,” kata Gal kepada Insider, Sabtu, 3 April 2021.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya