Dark/Light Mode

Setahun Jelang Pemilu, Partai Presiden Korsel Kalah Telak Di Pilkada

Kamis, 8 April 2021 21:37 WIB
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in (Foto Fortune)
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in (Foto Fortune)

RM.id  Rakyat Merdeka - Partai Presiden Korea Selatan Moon Jae-in kalah telak dalam pemilihan kepala daerah (pilkada). Kekalahan itu terjadi di tengah skandal politik dan kesalahan kebijakan Pemerintahan Moon.

Dilansir Reuters, Rabu lalu (7/4/2021), jutaan warga Korea Selatan, pergi ke tempat pemungutan suara, untuk memilih wali kota dari dua kota terbesar di negara itu. Kota Seoul dan kota pelabuhan Busan. Total, ada 21 daerah yang menggelar pemilihan.

Pilkada itu, secara luas dipandang sebagai barometer utama pergeseran politik partai progresif Moon. Waktunya kurang dari satu tahun jelang pemilihan presiden Korea Selatan 9 Maret 2022.

Moon dan Partai Demokrat, harus melihat kenyataan, tingkat keterpilihan partainya merosot ke titik terendah dalam beberapa bulan terakhir. Itu terjadi di tengah meroketnya harga rumah, diskriminasi yang makin terlihat jelas, skandal pelecehan seksual, dan hubungan yang memburuk dengan Korea Utara.

Berita Terkait : Sembuh Dari Covid-19, Shin Tae-yong Segera Pulang Ke Korsel

“Pemilihan itu adalah referendum tentang kegagalan kebijakan ekonomi pemerintahan Moon, skandal korupsi dan kasus properti,” kata Kim Hyung-joon, pengamat politik di Universitas Myongji di Seoul.

Moon yang mulai menjabat pada 2017, berjanji untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan kesetaraan bagi semua warga Korea Selatan. Dia menjanjikan, bagi para pekerja bisa membeli rumah dan menghidupi keluarga.

Tapi di Seoul, harga rumah rata-rata telah melonjak lebih dari 50 persen sejak 2017. Itu jadi lonjakan tertinggi sepanjang sejarah pemerintahan di Negeri Gingseng. Kendati pemerintahan Moon telah melaksanakan 25 kebijakan demi mengatasinya.

Kondisi tersebut, ditambah tudingan adanya manipulasi perdagangan properti, memupus popularitas Moon dan partainya. Padahal sebelumnya, Moon cukup populer karena dianggap berhasil menangani pandemi Covid-19.

Berita Terkait : Piala Menpora, Pemain Persib Jalani Vaksinasi Covid

Kamis (8/4/2021), Moon menegaskan, akan melakukan penegakan hukum seadil-adilnya. Dan berjanji akan berupaya meningkatkan ekonomi dan menyelesaikan skandal korupsi di bidang properti.

Berdasarkan perhitungan Komisi Pemilihan, di Seoul, pihak oposisi, Partai Konservatif People Power, Oh Se-hoon mendapatkan 57,5 persen suara. Dia meraih kemenangan atas kandidat Demokrat, Park Young-sun yang mengumpulkan 39,2 persen.

Jajak pedapat memprediksi kemenangan telak Oh. Penghitungan suara menunjukkan bahwa Oh memenangkan semua 25 distrik kota. Mendapatkan suara tiga kali lebih banyak dari jumlah yang didapat Park di kota Gangnam yang terkenal maju.

Dengan kemenangannya, Oh kembali ke jabatan yang dia pegang dari 2006-2011. Dan itu memungkinkan konservatif untuk mengambil kembali kendali negara. Oh berjanji akan berupaya maksimal untuk membangun kembali Seoul.

Baca Juga : PSM Makassar Vs PSIS Semarang Siap Adu Strategi

“Saya akan membuktikan bahwa kami kompeten, berbeda, dan bisa bekerja dengan baik,” kata Oh.

Pemimpin People Power, Joo Ho-young, yang memperingatkan anggotanya agar tidak langsung berpuas diri mengatakan, kemenangan mereka adalah "penilaian" atas kegagalan kebijakan pemerintah.

Di saat yang sama, Park mengaku kalah. Dia menilai, hal ini merupakan "hukuman dari warga". Menurutnya, Pimpinan Partai Demokrat harus mengundurkan diri, bertanggung jawab atas kekalahannya.

Di Busan, kandidat Partai Rakyat Park Hyung-joon mendapat 62,7 persen suara. Mengalahkan kandidat Demokrat Kim Young-choon yang memperoleh 34,4 persen. Tingkat partisipasi pemilih adalah 58,2 persen di Seoul, dan 52,7 persen di Busan. Ada sekitar 8,4 juta dan 2,9 juta yang memenuhi syarat untuk memberikan suara di dua kota itu.[PYB]