Dewan Pers

Dark/Light Mode

Vaksin AstraZeneca Laris Manis Di Malaysia, Ternyata Ini Kuncinya

Minggu, 6 Juni 2021 21:32 WIB
Ilustrasi vaksin Covid-19 AstraZeneca (Foto: Net)
Ilustrasi vaksin Covid-19 AstraZeneca (Foto: Net)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di Tanah Air, masih banyak orang yang ngeri-ngeri sedap untuk disuntik vaksin Covid AstraZeneca. Padahal, Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) telah menegaskan, 3 kasus kematian penerima vaksin AstraZeneca, sama sekali tak terkait dengan vaksin tersebut.

Namun, fakta sebaliknya justru terjadi di negara tetangga, Malaysia.

Di sana, vaksin AstraZeneca malah laris manis.

Ditawarkan dengan sistem siapa cepat dia dapat, dalam gelombang pertama, sebanyak 268 ribu dosis vaksin AstraZeneca ludes dalam waktu kurang dari 4 jam.

Berita Terkait : Ternyata, AstraZeneca Sudah Ada Di Indonesia Sejak 1971

Pada gelombang kedua, 1 juta dosis vaksin laris dalam tempo 1 jam.

Terkait hal ini, Pakar Bioteknologi yang juga Associate Professor Universiti Putra Malaysia, Bimo Ario Tejo PhD menjelaskan 5 alasan yang membuat vaksin AstraZeneca laris di negeri yang dipimpin PM Muhyiddin Yassin. Berikut uraiannya:

1. Lonjakan kasus yang tak terkendali

Bimo mengatakan, ketika vaksin AstraZeneca ditawarkan pada gelombang pertama, Malaysia mencatat 3.000 kasus per hari.

Berita Terkait : Jadi Zahra, Tetap Istrinya Om-Om

Pada penawaran gelombang kedua, kasus harian nyaris menyentuh angka 7.000.

"Di tengah situasi ini, masyarakat yang semula menunda vaksin, langsung berubah pikiran," ujar Bimo.

2. Kondisi di RS yang semakin parah

Kementerian Kesehatan Malaysia rutin memberikan informasi mengenai keterisian ICU yang saat ini ada di atas angka 100 persen, jumlah pasien meninggal dunia sebelum dibawa ke RS (brought in dead) yang naik 165 persen dari bulan sebelumnya, dan varian baru lebih mudah menular.

Berita Terkait : Perang Lawan Covid-19, PM Malaysia Dan Menteri Tidak Terima Gaji 3 Bulan

"Informasi ini memudahkan masyarakat untuk menilai, mana yang lebih baik, apakah kena Covid atau efek samping setelah vaksin," terang Bimo.
 Selanjutnya