Dark/Light Mode

Menlu Negara ASEAN Pertama Yang Diundang Ke AS

Retno Dan Blinken Bahas Isu Laut China Selatan

Jumat, 6 Agustus 2021 05:20 WIB
Menlu Retno Marsudi bertemu Menlu Anthony Blinken di Gedung Kementerian Luar Negeri, Washington DC, Amerika Serikat. (Foto : TWITTER/SECBLINKEN).
Menlu Retno Marsudi bertemu Menlu Anthony Blinken di Gedung Kementerian Luar Negeri, Washington DC, Amerika Serikat. (Foto : TWITTER/SECBLINKEN).

 Sebelumnya 
“Blinken dan Retno juga berkomitmen dalam perang melawan pandemi Covid-19, krisis iklim, serta meningkatkan hubungan perdagangan dan eko­nomi bilateral,” kata Price dalam keterangan pers Kedutaan Besar AS di Jakarta.

Kemitraan strategis AS-Indo­nesia didasarkan pada keyakinan mendasar akan demokrasi, per­tumbuhan ekonomi yang dido­rong oleh inovasi, serta tatanan internasional berdasarkan aturan di Indo Pasifik.

Baca juga : Teken Kerja Sama, PSSI Dan Polri Bahas Berbagai Aspek Sepakbola

Usai pertemuan, kepada wartawan Blinken menjelas­kan, kedua negara pada dasarnya telah sepakan untuk membangun kemitraan strategis pada 2015. Tapi, menurutnya, dialog baru benar-benar dimulai saat ini.

“Indonesia adalah mitra demokrasi yang kuat bagi AS. Kami bekerja sama di banyak bidang. Dan kami juga meng­hargai peran Indonesia di Asia Tenggara,” kata Blinken.

Baca juga : Umar Hadi, Dubes Pertama Yang Jadi Warga Kehormatan Kota Seoul

Pada kesempatan itu, Blinken juga menyampaikan pujian atas peran Indonesia dalam berbagai hal. Ia memuji upaya Indonesia untuk mendukung negosiasi perdamaian Afghanistan. Serta, menekankan pentingnya mem­bawa Myanmar kembali menuju demokrasi.

“Sedangkan soal iklim, kami membahas peluang bagi Indone­sia untuk meningkatkan ambisi iklimnya,” kata Blinken.

Baca juga : Menpora Siap Dukung KAHMI Dirikan Universitas Insan Cita Indonesia

Pada kesempatan itu, Retno menyebut bahwa kemitraan yang kuat dengan Indonesia akan men­jadi aset utama untuk meningkat­kan keterlibatan AS di kawasan Asia Tenggara. “AS adalah salah satu mitra penting bagi ASEAN dalam menerapkan pandangan Indo Pasifik-nya,” kata Retno.

Murray Hiebert, pakar Asia Tenggara di Pusat Studi Strategis dan Internasional Washington, mengatakan, di era Donald Trump kemitraan bukan prioritas. Kese­pakatan itu mencakup ke beberapa bidang. Termasuk pertahanan, energi, dan hubungan ekonomi yang lebih luas. [MEL/PYB]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.