Dewan Pers

Dark/Light Mode

Situasi Kabul Genting

Jelang Batas Akhir Evakuasi, AS Bersiaga Hadapi Serangan Besar

Minggu, 29 Agustus 2021 14:37 WIB
Presiden AS Joe Biden (Foto: Instagram)
Presiden AS Joe Biden (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengingatkan, situasi Kabul menjelang batas akhir evakuasi AS masih sangat berbahaya.

Dalam briefing pada Sabtu (28/8), Biden mengaku telah menerima informasi dari Komandan Militer AS, soal kemungkinan adanya serangan besar dalam 24-36 jam ke depan.

"Saya telah mengarahkan pasukan untuk mengambil setiap tindakan yang memprioritaskan perlindungan kekuatan, dan memastikan bahwa mereka memiliki semua otoritas, sumber daya, dan rencana untuk melindungi orang-orang kami di lapangan," kata Biden.

Berita Terkait : Ini 7 Poin Penting Yang Dibahas Jokowi Bersama Pimpinan Parpol

Pemerintah AS juga meminta warganya untuk segera menjauhi area bandara, menyusul ancaman bom berikutnya.

Tiga belas personel militer AS tewas dan 18 anggota militer AS lainnya terluka dalam serangan bom bunuh diri di luar gerbang Bandara Internasional Hamid Karzai Kabul, pada Kamis (26/8).

Pada Jumat (27/8), AS melancarkan serangan balasan yang menewaskan dua anggota ISIS-K, cabang negara Islam yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Berita Terkait : Pemerintah Evakuasi 26 WNI, 5 WN Filipina Dan 2 WN Afghanistan Dengan Pesawat TNI AU

Operasi itu dipimpin oleh pemimpin Komando Pusat AS Kenneth McKenzie.

"Itu bukan balasan terakhir. "Kami akan terus memburu siapa pun yang terlibat dalam serangan keji itu. Mereka harus membayarnya," tegas Biden.

Terlepas dari ancaman serangan teror lainnya, Biden mengatakan komandan militernya telah memiliki rencana untuk melindungi warga Amerika di darat, dan dapat menyelesaikan misi evakuasi dan penarikan.

Berita Terkait : Jika Sudah Divaksin, Silakan!

Hingga Sabtu (28/8), AS telah memfasilitasi evakuasi sekitar 113.500 orang, sejak Taliban menguasai Afghanistan pada 14 Agustus.

Sementara itu, sebanyak 350 warga AS lainnya telah mengatakan kepada Departemen Luar Negeri, bahwa mereka masih berusaha untuk meninggalkan Afghanistan. [HES]