Dewan Pers

Dark/Light Mode

Dengan Desa Bisa

Gus Halim Optimis, 2024 Indonesia Bebas Kemiskinan Ekstrem Level Desa

Sabtu, 25 September 2021 22:13 WIB
Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar. (Foto: Humas Kemendes PDTT)
Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar. (Foto: Humas Kemendes PDTT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar hari ini menyambangi dua kabupaten di Jawa Timur yang telah dipersiapkan sebagai pilot project dalam menurunkan kemiskinan ekstrem 2024 hingga nol persen.

Kedua kabupaten tersebut yakni Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Bojonegoro, yang menjadi salah satu dari 35 kabupaten tahap pertama yang menjadi pilot project pada tahun 2021/2022.

Dalam kunjungan di kedua kabupaten tersebut, Gus Halim, sapaan akrab Halim Iskandar menemui Bupati Lamongan Yuhronur Efendi dan Bupati Bojonegoro Anna Mu'awanah.

Berita Terkait : Gus Halim Siapkan Kebumen Bebas Kemiskinan Ekstrem 2024

Dalam pertemuan tersebut, dia menyampaikan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan Indonesia terbebas dari kemiskinan ekstrem pada 2024.

Sementara Wakil Presiden Ma'ruf Amin sebagai Ketua Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) menentukan, pilot project dilaksanakan di 35 Kabupaten yang tersebar di 7 provinsi pada tahap pertama 2021/2022.

"Ada 434 Kabupaten. Fase pertama tahun 2021/2022 ditentukan 35 Kabupaten, lalu fase kedua tahun 2022 ditentukan 138 kabupaten, kemudian pada fase ketiga tahun 2023 ditentukan 261 kabupaten. Sehingga, ditargetkan pada 2024, indonesia akan bebas kemiskinan pada level desa," ujar Gus Halim, Sabtu (24/9). 

Berita Terkait : Gus Halim Puji Balkondes Di Magelang

Diakuinya, menurunkan kemiskinan ini bukanlah pekerjaan ringan. Tapi juga bukan pekerjaan yang terlalu berat, kalau dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan semua pihak melaksanakan tugas masing-masing.

Menurut Gus Halim, warga miskin itu ada dua. Pertama, warga miskin ekstrem yang memiliki hampir seluruh kompleksitas multidimensi kemiskinan.

Sementara yang kedua, warga miskin ekstrem yang masih dimungkinkan dapat melakukan aktualisasi diri untuk bertahan hidup.
 Selanjutnya