Dewan Pers

Dark/Light Mode

Mendambakan Liqa` Allah (2)

Sabtu, 14 Mei 2022 06:36 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - a. Al-Ittihad, yaitu suatu tinggkatan (maqam) di mana seorang sufi telah merasakan dirinya bersatu dengan Tuhan. Yang dicintai dan yang mencintai menjadi satu atau yang menyembah dan yang disembah sudah menyatu. Begitu dekat antara keduanya sehingga identitas dan perbedaan antara keduan­ya telah hilang dan lebur menjadi satu dalam suatu totalitas kesatuan.

Berita Terkait : Mendambakan Liqa` Allah (1)

Seseorang yang sudah sampai di maqam ini, mengalami suasana batin yang biasa disebut fana’, ittihad, atau baqa’. Yang bersangkutan sudah tidak lagi mempunyai kesadaran ilusif dan tidak heran kalau muncul pernyataan-pernyataan aneh keluar dari mulutnya seolah-olah sebagai Tuhan. Pernyataan-pernyataan di atas biasa disebut syatha­hat (theopatical stammering).

Berita Terkait : Belajar Optimis Dari Nabi Zakaria (2)

Contoh pernyataan-pernyataan itu antara lain: “Yang ada dalam baju ini hanya Allah”, “Maha Suci Aku, Maha Besar Aku”, “Tidak ada Tuhan selain Aku maka sembahlah Aku”, “Seseorang bertamu ke rumah Abu Yazid dan mengetuk pintu, Abu Yazid bertanya: “Siapa yang engkau cari?” Jawab sang tamu: “Abu Yazid” Lalu dijawab oleh Abu Yazid: “Pergilah, di rumah ini tak ada siapa-siapa kecuali Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi”.

Berita Terkait : Belajar Optimis Dari Nabi Zakaria (1)

“Tuhan berkata: “Semua mereka kecuali engkau adalah makhlukku” Akupun berkata: “Aku adalah Engkau, Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau”. “Munajatpun terputus, kata menjadi satu, bahkan seluruhnya menjadi satu. Ia pun berkata: “Hai engkau.” Aku dengan perantaraan-Nya menjawab: “Hai Aku.” Ia berkata: “Engkaulah yang satu.” Aku menjawab: “Akulah yang satu.” Ia berkata selanjutnya: “Engkau adalah Engkau.” Aku menjawab: “Aku adalah Aku.” “Aku adalah Dia yang kucintai dan Dia yang kucintai adalah Aku. Kami adalah dua jiwa yang ber­tempatdalam suatu tubuh, jika engkau lihat aku maka engkau lihat Dia. Dan jika engkau lihat Dia maka engkau lihat kami”, “Aku adalah rahasia Yang Maha Benar, dan bukanlah Yang Maha Benar itu aku. Aku hanya satu dari yang benar, maka bedakanlah antara kami. [Bersambung]