Dark/Light Mode
Tausiah Politik
Sebelumnya
Namun, perlu diketahui bahwa konsep Insan Kamil, baik oleh Ibnu ‘Arabi maupun Al-Jili, tidak semua anak manusia berhak menyandang gelar ini. Manusia yang tidak mencapai tingkat kesejatiannya sebagai manusia, seperti manusia yang didikte oleh hawa nafsunya sehingga meninggalkan keluhuran dirinya, maka menurut Ibnu ‘Arabi tidak layak disebut Insan Kamil.
Hanyalah mereka yang telah menyempurnakan syari’ah dan ma’rifahnya benar yang layak disebut Insan Kamil. Manusia yang tidak mencapai tingkat kesempurnaan lebih tepat disebut binatang menyerupai manusia dan tidak layak memperoleh tugas kekhalifahan.
Baca juga : Hakekat Insan Kamil (1)
Kesempurnaan manusia bukan terletak pada kekuatan akal dan pikiran (al-nuthq) yang dimilikinya, tetapi pada kesempurnaan dirinya sebagai lokus penjelmaan diri (tajalli) Tuhan.
Manusia menjadi khalifah bukan karena kapasitas akal dan pikiran yang dimilikinya. Alam raya tunduk kepada manusia bukan pula karena kehebatan akal pikirannya, tetapi lebih kepada kemampuan manusia untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai Insan Kamil.
Baca juga : Al-Asma al-Husna = Insan Kamil (?)
Kemampuan aktualisasi diri ini bukan kerja akal tetapi kerja batin, yakni kemampuan intuitif manusia untuk menyingkap tabir (kasyf al-hijab) yang menutupi dirinya dengan Tuhan. Kekuatan intuitif (kasyf) dan rasa (dzauq) jauh lebih dahsyat dari pada akal pikiran. (Bersambung)
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Rabu, 9 Oktober 2024 dengan judul "Road-Map Menuju Langit (10) Hakekat Insan Kamil (2)"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.