Dark/Light Mode
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Tuberkulosis masih jadi masalah kesehatan utama negara kita. Pemerintah kini memberi prioritas penting pada pengendalian tuberkulosis.
Topik ini sempat juga disinggung dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan tujuh jurnalis senior sekaligus pemimpin redaksi lintas media pada 6 April 2025 lalu.
Untuk melengkapi upaya besar kita bersama mengendalikan tuberkulosis, pada tahun 2025 World Health Organization (WHO) mengeluarkan rekomendasi terbaru pengobatan tuberkulosis (TB).
Dari pengalaman sebagai Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, saya tahu persis bahwa rekomendasi WHO ini selalu dikaji mendalam dengan bukti ilmiah yang mutakhir dan akurat.
Karena itu, tentu akan baik kalau kita juga menerapkannya dalam program pengendalian tuberkulosis di Tanah Air.
Untuk kasus TB yang masih sensitif (masih mempan dengan) obat, WHO membagi rekomendasi menjadi pengobatan selama 6 bulan dan juga 4 bulan.
Sedangkan untuk pengobatan pasien TB baru sensitif selama 6 bulan, ada lima rekomendasinya.
Pertama, pengobatan untuk pasien baru TB sensitif obat dapat diberikan selama 6 bulan dengan regimen 2HRZE/4HR.
Dua bulan pertama INH (isoniazid), rifampicine, pyrazinamide dan ethambutol, yang diteruskan dengan empat bulan INH dan Rifampisin.
Baca juga : Delapan Akreditasi Pendidikan Tinggi
Kedua, bila mungkin maka pengobatan dilakukan setiap hari selama 6 bulan itu. Ketiga, pengobatan intermiten tiga kali seminggu tidak direkomendasikan, baik pada fase intensif maupun pada fase lanjutannya.
Keempat, penggunaan obat dalam bentuk kombinasi dosis tetap (fixed-dose combination -FDC) adalah lebih direkomendasikan dibandingkan obat yang kemasannya lepas satu per satu.
Kelima, kalau pemeriksaan dahak pada akhir fase intensif ternyata masih ditemukan positif, maka tidak dianjurkan perpanjangan fase intensifnya.
Sementara, untuk pengobatan pasien TB sensitif obat selama empat bulan, ada dua rekomendasi.
Pertama, pasien berumur 12 tahun ke atas yang masif sensitif obat dapat diberikan pengobatan TB selama 4 bulan, dengan menggunakan regimen isoniazid, rifapentine, moxifloxacin dan pyrazinamide (2HPMZ/2HPM).
Rekomendasi kedua, pada anak dan remaja yang berumur antara 3 bulan dan 16 tahun dengan tuberkulosis yang tidak berat dan tanpa kecurigaan adanya resistensi dalam bentuk multidrug resistance dan atau rifampicine resistance - MDR/RR-TB, dapat diberikan pengobatan 4 bulan 2HRZ(E)/2HR.
Dalam hal ini perlu diketahui yang dimaksud dengan tuberkulosis yang tidak berat adalah TB kelenjar perifer, TB kelenjar intra toraks tanpa penyumbatan saluran napas, efusi pleura yang tidak berkomplikasi atau jumlah bakteri yang sedikit (paucibacillary), penyakit yang tidak ada lubang kavitas, terbatas pada salah satu lobus di paru, dan tanpa penyebaran milier.
Kalau tidak termasuk dalam kriteria tidak berat di atas maka pengobatannya adalah 6 bulan dengan regimen 2HRZE/4HR atau bahkan regimen pengobatan untuk TB ekstra paru yang berat, kalau diperlukan.
Sedangkan pengobatan untuk pasien tuberkulosis yang sudah resisten (tidak mempan lagi dengan) obat, dibagi dalam tiga bentuk.
Baca juga : Hari Kesehatan Sedunia 2025 Dan Asta Cita
Bentuk pertama adalah pemberian selama 6 bulan yang ada dua rekomendasinya. Pertama dengan obat bedaquiline, pretomanid, linezolid dan moxifloxacin (BPaLM), untuk MDR/RR-TB dan pre-XDR-TB.
Kedua dengan obat bedaquiline, delamanid, linezolid, levofloxacin dan clofazimine (BDLLfxC).
Bentuk kedua adalah pengobatan selama 9 bulan dimana WHO merekomendasikan sepenuhnya secara oral dan juga modifikasinya dalam bentuk BLMZ, BLLfxCZ dan BDLLfxZ.
Sementara, bentuk ketiga adalah pengobatan TB resisten obat dengan regimen yang lebih panjang atau lebih lama.
Untuk ini diperlukan kombinasi antara obat-obat TB yang ada dalam Grup A dan Grup B, dengan variasi rekomendasinya untuk memastikan bahwa pengobatan dimulai dengan setidaknya 4 obat TB yang efektif dan kemudian dilanjutkan dengan setidaknya tiga obat, khususnya bila obat bedaquiline dihentikan.
Jika regimen pengobatan tidak dapat hanya menggunakan obat yang masuk Grup A dan B saja maka obat dalam Grup C dapat ditambahkan. Selain tiga bentuk sesuai lama pengobatan ini maka WHO juga memberi rekomendasi khusus pada pasien yang masih sensitif dengan obat rifampicin tetapi sudah resisten pada obat, isoniazid.
Untuk mereka, direkomendasikan adalam pengobatan selama 6 bulan dengan gabungan obat-obat rifampicin, ethambutol, pyrazinamide dan levofloxacin.
Dalam buku terbaru WHO berjudul “WHO consolidated guidelines on tuberculosis Module 4: Treatment and care” tahun 2025 ini, dibahas secara tuntas dan mendalam tentang perkembangan ilmu mutakhir pengobatan tuberkulosis.
Tentu buku ini perlu dikuasai oleh semua insan kesehatan yang menangani tuberkulosis di negara kita, demi mencapai eliminasi tuberkulosis tahun 2030 dan juga Indonesia Emas tahun 2045 tanpa gangguan masalah tuberkulosis lagi. Semoga!
Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI
- Adjunct Professor Griffith University
– Brisbane Australia
- Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
- Badan Pengawas Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI)
- Dewan Penasihat, Stop TB Partnership Indonesia (STPI)
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.