Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Haji, Napak Tilas Drama Kosmos (21)
Dari Manusia Menuju Tuhan (Bagian 4)
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Perbedaan mendasar antara Safar Awal dan Safar Tsani secara teoritis masih mudah diidentifikasi dan dijelaskan. Namun pada Safar Tsalits dan Safar Rabi’ nanti semakin sulit.
Seperti mencicipi manisnya teh, apakah terlalu manis, kurang manis, atau tidak manis, tidak bisa dijelaskan dengan narasi tetapi memerlukan penyatuan antara subyek dan obyek, yang dalam dunia epistimologi disebut dengan metode hudhuri, bukan lagi metode hushuli, yang masih menoleransi jarak antara subyek ilmu (ilmuan) dengan obyek keilmuannya.
Perbedaan antara keduanya dalam hal ini seperti yang dilukiskan oleh Ibnu Abbas bahwa golongan pertama sudah masuk kategori ashhab al-yamin dan al-muqarrabin.
Baca juga : Dari Manusia Menuju Tuhan (Bagian 3)
Golongan Ashhab al-yamin dilukiskan dalam QS Al-Waqi’ah: Wa amma in kana min ashhab al-yamin, fa salamun laka min ashhab al-yamin (Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan (ashhab al-yamin), maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan/ QS Al-Waqi’ah/ 56:90-91). Sedangkan golongan al-Muqarrabin dilukiskan dalam surah yang sama: Wa amma in kana min al-muqarrabin, fa rauhun wa raihan wa jannah na’im (Adapun jika dia termasuk orang yang didekatkan kepada Allah (muqarrabin), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga kenikmatan (QS Al-Waqi’ah/ 56:88-89).
Golongan pertama digambarkan oleh Ibn ‘Arabi sebagai golongan yang masih “mengonsumsi minuman yang berisi campuran” (yamzaj lahum al-syarab mazjan). Sedangkan golongan kedua (al-muqarrabin) tidak lagi menggunakan kata ashhab (sahabat) tetapi langsung dikatakan al-muqarrabun (sahabat lebih dekat lagi). Golongan ini digambarkan dengan pengonsumsi “air murni tanpa campuran” (yasyrabun biha sharfan gair mamzujah).
Dari segi hubungannya dengan Allah SWT, salik di Safar Awal masih dapat dikatakan longgar jika dibandingkan dengan safar-safar berikutnya karena masih membedakan antara yang sunnat dan fardlu. Mereka masih lebih memprioritaskan ibadah-ibadah wajib, baik dari segi kekhusyukan maupun dari segi pelaksanaan. Di samping itu, ibadah baginya masih sering dirasakan sebagai beban, belum dirasakan sebagai hobi, kesenangan, dan kebutuhan permanen seperti para salik yang berada di safar lanjutan. Sedangkan salik di dalam Safar Tsani sudah tidak lagi membedakan antara ibadah-ibadah anjuran atau sunnat (nafilah), tetapi sudah perasakannya sama dengan ibadah-ibadah wajib lainnya. Jika mereka meninggalkan ibadah-ibadah sunnat sama tersiksanya jika meninggalkan ibadah-ibadah wajib. Perasaannya ketika melaksanakan berbagai macam ibadah, sudah tidak ada lagi kesan wajib, yang dirasakan sebagai keharusan. Dan tidak mengisyaratkan adanya beban. Semua ibadah dinikmati sebagai sebuah kebutuhan yang sangat indah dalam hidupnya.
Baca juga : Dari Manusia Menuju Tuhan (Bagian 2)
Yang paling penting perbedaan itu ialah dalam Safar Awal para salik masih sadar, belum sampai mengalami fana’ dalam arti yang sesungguhnya. Kalaupun mau disebut fana’ mereka baru berada di dalam fana’ level awal. (Ingat kembali dalam artikel yang lalu ada empat level fana’). Mereka masih berada dalam kategori “sadar sebelum fana’” (al-mahw qabla al-sahwu). Belum seperti para salik di level Safar Tsani yang berada dalam suasana “fana’ setelah sadar” (al-sahwu ba’da al-mahwu), apalagi belum seperti di lefel Safar Tsalits dan Safar Rabi’ yang sudah berada di dalam keadaan “sadar setelah fana’” (al-mahw qabla al-sahwu).
Dengan demikian, kita dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara Safar Awal dan Safar Tsani ialah, dari segi subyek (salik) masih berada di dalam alam kesadaran biasa, meskipun sudah menanjak ke atas.
Ia masih sadar dirinya sebagai hamba yang berusaha mendaki menuju Tuhan. Ia juga masih menyadari Tuhannya sebagai obyek yang akan dituju. Ia baru berusaha mengecilkan jarak antara dirinya sebagai subyek dan Tuhan sebagai obyek.
Baca juga : Dari al-Khalq Menuju al-Haq (Bagian 1)
Meskipun demikian, para salik di level Safar Awal tidak bisa lagi dipandang sebagai orang awam. Justru perjuangan yang paling berat berada di level ini. Ibarat pesawat yang akan tinggal landas, saat tinggal landas itulah memerlukan energi yang luar biasa.
Setelah dalam ketinggian tertentu pesawat akan merasa ringan untuk terbang karena sudah mulai terbebas dari gravitasi bumi. Selama seseorang masih tersedot oleh gravitasi dunia, selama itu ia sulit untuk tinggal landas menuju Tuhan. (Bersambung)
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 8, edisi Minggu, 8 Juni 2025 dengan judul "Haji, Napak Tilas Drama Kosmos (21), Dari Manusia Menuju Tuhan (Bagian 4)"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.