Dark/Light Mode

Haji, Napak Tilas Drama Kosmos (46)

Haji Masa Depan: Meninjau Konsep Istitha`ah

Jumat, 4 Juli 2025 06:25 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Selain faktor umur, juga ada kriteria kesehatan fisik, sehingga orang-orang yang memiliki penyakit bawaan yang berbahaya tidak diizinkan berangkat. Karena orang-orang tersebut paling berpotensi mengalami masalah berat di Tanah Suci, bahkan menjadi penyumbang jumlah kematian tertinggi.

Pemerintah Saudi Arabia ingin mencitra-positifkan pelaksanaan ibadah haji tidak diasosiasikan sebagai kuburan massal terbesar sepanjang kehidupan kontemporer umat manusia. Jumlah kematian setiap musim haji bisa mencapai 4000-an orang.

Baca juga : Menunggu Peran IPHI

Selain faktor umur dan penyakit bawaan, para calon jamaah yang berkebutuhan khusus seperti lumpuh, tuna netra, tuna rungu dan kelompok berkebutuhan lainnya, yang sudah sampai pada tingkat akut, disarankan hanya membadalkan dirinya untuk melaksanakan ibadah haji.

Guna memilnimalisir jumlah kematian di sepanjang musim haji, pemerintah Saudi Arabia menyiapkan sejumlah rumah sakit yang berkapasitas besar dengan jumlah dokter dan perawat yang seimbang, diambil dari berbagai negara, terutama yang bisa mengerti bahasa calon jamaah haji. Seperlima jamaah haji berasal dari Indonesia, makanya para dokter, perawat dan apoteker terbuka kesempatan untuk bekerja di rumah-rumah sakit tersebut. 

Baca juga : Mimpi Berjumpa Rasulullah

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Jumat, 4 Juli 2025 dengan judul "Haji, Napak Tilas Drama Kosmos (46) Haji Masa Depan: Meninjau Konsep Istitha’ah"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.