Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Prof. DR. Imam Subchi, MA
Wakil Rektor II UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Wakil Rektor II UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
RM.id Rakyat Merdeka - Dewasa ini, pondok pesantren menjadi diskursus publik. Pasalnya, sebagai entitas sosial – pondok pesantren menjadi medium utama di tengah peradaban mutakhir yang secara eksistensi masih tetap mengajarkan risalah-risalah keagamaan dan modernitas.
Meski begitu, stereotipe terhadap pondok pesantren masih saja menanggalkan persepsi yang konotasinya mengarah kepada negatif, terlebih saat munculnya fenomena kontemporer mengenai runtuhnya bangunan di salah satu pondok pesantren di Sidoarjo. Teranyar, hal serupa juga terjadi di Situbondo.
Atas dasar tersebut, persepsi-persepsi ini sempat menerbitkan tanya di benak publik tentang reaktualisasi peran pesantren. Terdapat pihak yang menyayangkan mengapa pengelola pesantren tidak cermat dalam menghitung ruang bangunan yang layak untuk santri, sehingga berimbas pada bencana tersebut.
Baca juga : Persib Tetap Perkasa Meski Main 10 Pemain
Yang lain, malah melempar api dalam sekam sehingga memantik perdebatan relevansi pesantren dalam peta jalan pendidikan nasional. Ini merupakan anggapan yang terlalu jauh untuk dibicarakan.
Pesantren merupakan garda terdepan pendidikan anak bangsa. Embrio pesantren diduga sudah ada sejak zaman Hindu-Budha, salah satunya dibuktikan dengan ditemukannya sejumlah artefak mandala di Palembang yang ditengarai sudah ada sejak masa kekuasaan Sriwijaya sekitar 7 hingga 8 M.
Mandala menjadi sentra penting pengajaran Budha yang menjadi tempat bersua para sastri (orang yang belajar susastra ajaran Budha) dengan para guru. Konsep pendidikan ini yang mengilhami para Wali Songo dalam membentuk lembaga pendidikan Islam. Lembaga ini mempunyai karakter dan kentara sebagai katalisator pencetak generasi terdidik hingga masa kini dan akan terus berkecambah hingga masa depan.
Baca juga : SPBU Pertamina Musti Perbanyak Improvisasi Pelayanan
Pondok pesantren memiliki ciri khas dan karakteristik yang unik, karena mampu memberikan pemahaman yang baik terhadap para santri, yang mengakibatkan kemampuan dan etika sosial santri juga relatif baik.
Bahkan, figur ulama, kiai, dan santri seringkali menjalin ikatan sosial dengan masyarakat secara maksimal, seperti membantu para kiai atau santri yang saat membangun, menghadirkan figur kiai dan santri dalam acara masyarakat dan seterusnya. Jadi, keberadaan figur-figur ini sangatlah penting bagi kehidupan publik.
Pondok pesantren, dewasa ini telah mengalami transformasi besar, baik dari kurikulum pendidikan maupun dari sektor ekonomi. Namun, tetap mempertahankan tradisi-tradisi yang secara gradual dan dilakukan dengan penuh ekstensif.
Baca juga : Internasionalisasi Islam Ala Presiden Prabowo
Dengan kata lain, para santri yang menimba ilmu di pondok pesantren pada dasarnya dipersiapkan untuk menjadi pemimpin masa depan, baik secara intelektualitas, nilai, norma, dan kompetensi serta integritas. Meski demikian, pondok pesantren yang berbasis tradisional juga masih sangat banyak di Indonesia. Ada pula pondok pesantren yang telah mengadakan sistem pendidikan gabungan dengan menghadirkan pendidikan formal.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya