Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Peran Pemerintahan Desa di Era Geopolitik Saat Ini: Bangun Desa, Bangun Indonesia
Senin, 26 Januari 2026 07:47 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Sebelumnya
Di sisi lainnya, transformasi digital membuka babak baru pemerintahan desa. Digitalisasi pelayanan publik, transparansi anggaran, sistem informasi desa, serta akses pasar daring memperkuat akuntabilitas lokal. Desa digital memperkecil kesenjangan antara pusat dan pinggiran, membuka ruang partisipasi generasi muda, serta meningkatkan literasi teknologi masyarakat. Literasi digital desa juga menjadi benteng terhadap hoaks, propaganda, dan infiltrasi informasi destruktif—fenomena yang kini menjadi bagian dari perang non-konvensional global.
Namun, peran strategis desa itu tidak akan optimal tanpa tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan visioner. Korupsi Dana Desa, lemahnya kapasitas aparatur, serta minimnya perencanaan jangka panjang dapat menjadikan desa justru sebagai titik rawan. Di sinilah negara wajib hadir melalui pendampingan, pelatihan aparatur, pengawasan partisipatif, serta integrasi perencanaan desa dengan agenda pembangunan nasional. Lebih dari itu, generasi muda desa perlu dilibatkan sebagai motor inovasi. Mereka adalah jembatan antara tradisi lokal dan modernitas global. Ketika anak muda desa diberi ruang berkreasi, desa tidak tertinggal, melainkan menjadi pusat pertumbuhan baru.
Baca juga : Membangun Daerah, Indonesia Bangkit Menuju Negara Maju 2045
Maka dari sana, benar adanya: bangun desa, bangun Indonesia. Dari jalan tanah yang diperkeras, tersimpan makna keterhubungan yang memutus isolasi dan membuka akses ke masa depan. Dari balai musyawarah, tumbuh demokrasi yang paling jujur—tempat suara rakyat tidak terdistorsi oleh hiruk-pikuk politik tinggi, tetapi lahir dari kesadaran kolektif untuk hidup rukun dan sejahtera. Dari sawah yang terawat, terjaga denyut ketahanan pangan yang membuat bangsa tidak tunduk pada ketergantungan global.
Dari jaringan internet desa, terbuka jendela dunia yang menghubungkan pinggiran dengan pusat peradaban tanpa harus meninggalkan akar tradisi. Dan dari denyut gotong royong, mengalir roh Pancasila yang menegaskan bahwa Indonesia bukan dibangun oleh individualisme, melainkan oleh kebersamaan yang berkeadaban.
Baca juga : Peringatan PD III Terhadap Kasus Venezuela, Indonesia Harus Waspada (Bagian II-Habis)
Di tengah ketidakpastian geopolitik global —di mana krisis energi, pangan, informasi, dan lingkungan saling berkelindan— desa yang kuat menjadi jangkar stabilitas nasional. Ia adalah benteng yang tidak tampak di peta strategi militer, tetapi menentukan daya tahan bangsa dalam jangka panjang.
Masa depan republik tidak hanya diputuskan di ruang diplomasi internasional atau gedung-gedung kekuasaan, melainkan juga di ladang petani, di meja rapat desa, di sekolah kecil pinggir hutan, dan di rumah-rumah sederhana yang menjaga tradisi sekaligus menatap modernitas.
Baca juga : Peringatan PD III Terhadap Kasus Venezuela, Indonesia Harus Waspada (Bagian I)
Dari sanalah Indonesia perlahan tetapi pasti ditegakkan: bukan sebagai negara yang besar karena kekuasaan, tetapi sebagai bangsa yang kokoh karena akar rakyatnya kuat.
Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Pemerhati Geopolitik, dan Geostrategi, serta Manajemen Pemerintahan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya