Dark/Light Mode

Mafia Minyak Ditekuk, Satu Juta Barel Crude Bisa Dibawa Pulang

Senin, 2 Februari 2026 19:04 WIB
Naniek Sudaryati Deyang
Naniek Sudaryati Deyang
Wakil Kepala BGN

RM.id  Rakyat Merdeka - Luar biasa Presiden Prabowo! Meski harus menghadapi hantaman mafia minyak dan oligarki melalui keputusannya yang “menekuk” mereka, perlahan tapi pasti Indonesia mulai menemukan cahaya kemandirian di berbagai bidang, termasuk energi.

Indonesia yang puluhan tahun sumur minyaknya disedot oleh asing, lalu tata kelola BBM dikangkangi mafia minyak sehingga kita harus mengimpor BBM dari Singapura—negara yang bahkan tidak memiliki ladang minyak—kini mulai bangkit menatap masa depan menuju kemandirian energi.

Setelah sukses mendorong kemandirian pangan, di mana Indonesia tidak lagi mengimpor beras dan menyusul jagung serta bahan pangan lainnya, kini Indonesia melangkah menuju kemandirian sekaligus ketahanan energi.

Pada pertengahan bulan lalu, pemerintah melalui Pertamina akhirnya mengoperasikan refinery (kilang minyak) terbesar di Indonesia, yakni RDMP Balikpapan. 

Selanjutnya, pada Sabtu (30/1/2026), sebuah tanker raksasa bernama SPYROS berhasil bersandar di Pelabuhan Cilacap dengan membawa satu juta barel minyak mentah jenis sweet crude, yaitu minyak mentah ramah lingkungan dengan kandungan sulfur sangat rendah.

Apakah minyak ini hasil impor? Bukan. Ini adalah hasil eksplorasi Pertamina di negeri orang. Inilah kisah Indonesia membalikkan nasib: bukan lagi dijajah, melainkan mampu melakukan eksplorasi minyak di luar negeri.

Sebenarnya, Pertamina adalah perusahaan BUMN migas yang tidak bisa dianggap remeh. Pertamina memiliki sumber daya manusia yang andal, tidak kalah dengan perusahaan migas asing. 

Baca juga : Real Madrid Vs Rayo, Demi Tekan Barcelona Di Puncak La Liga

Namun, selama puluhan tahun Pertamina terkungkung mafia minyak yang “dilegalkan” oleh rezim demi rezim, sehingga perusahaan ini kerap dikalahkan dan dikerdilkan.

Kisah keberhasilan membawa pulang satu juta barel minyak mentah ini pun penuh drama, seperti halnya perjuangan mengoperasikan kilang minyak terbesar di Indonesia. Upaya tersebut kerap dihalangi mafia minyak.

Sejak 2012, Pertamina melalui PT Pertamina Algeria Exploration and Production (PAEP) telah mengakuisisi participating interest ConocoPhillips Algeria Ltd dengan kepemilikan tiga lapangan produksi. Sejak 2014, PAEP mulai mengelola aset Pertamina di Aljazair.

Namun, meski telah melakukan eksplorasi di Gurun Sahara sejak 2014, hasil minyak mentah tersebut tidak pernah bisa dibawa pulang secara optimal ke Indonesia. 

Volume yang dihasilkan tidak mencukupi satu tanker, sehingga untuk melengkapinya harus dilakukan impor minyak—sebuah kondisi yang disebut sebagai permainan mafia minyak.

Sejak Prabowo dilantik sebagai Presiden, salah satu fokus utamanya adalah membasmi mafia. Meski sebagian pelaku masih buron dan ada yang kini diadili, tata kelola minyak nasional mulai dibenahi.

Pada 2025, aset Pertamina di Aljazair dikelola melalui skema groupment yang melibatkan PAEP, Sonatrach, dan Repsol sebagai operator bersama. 

Baca juga : Bantah Lakukan Pemerasan, Bupati Pati Sudewo Merasa Dikorbankan

Area yang dikelola adalah Blok 405A seluas sekitar 714 kilometer persegi di Gurun Sahara, dengan masa kontrak 25 tahun hingga 2050.

Inilah sejarah baru yang diukir pemerintahan Prabowo. 

Melalui kerja anak-anak bangsa di kilang Pertamina di Gurun Sahara, setelah kontrak diperbarui dengan pemerintah dan BUMN Aljazair, pada 22 Desember 2025 dilakukan penandatanganan lifting service contract terbaru.

Kemudian, pada 24 Desember 2025 dilakukan lifting minyak mentah Sahara sebanyak satu juta barel dari Pelabuhan Arzew, Aljazair. Pada 30 Januari 2026, tanker raksasa tersebut berhasil merapat di Pelabuhan Cilacap untuk membongkar minyak mentah jenis sweet crude yang kemudian diolah di Refinery Unit IV Cilacap milik Pertamina.

Selanjutnya, minyak dari lapangan Aljazair ini akan terus diangkut ke Indonesia setiap tiga bulan sekali sebanyak 1,7 juta barel. Sebanyak 700 ribu barel akan diolah di kilang RDMP Balikpapan, sementara satu juta barel diolah di Kilang Unit IV Cilacap.

Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, Pertamina kembali perkasa. Setelah eksplorasi di Aljazair, Pertamina melalui PAEP akan membawa pulang minyak mentah hasil eksplorasi dari Angola dan Gabon dalam waktu dekat.

Tak hanya itu, Pertamina juga mengakuisisi perusahaan eksplorasi di Irak, Malaysia, Kolombia, Prancis, Italia, Nigeria, Tanzania, dan Venezuela. 

Baca juga : Hari Ini, Seluruh Anggota Kabinet Retret di Hambalang

Untuk Malaysia, Irak, dan Aljazair digunakan bendera PAEP, sementara eksplorasi luar negeri lainnya dilakukan melalui kepemilikan saham 71,9 persen di perusahaan terbuka yang berbasis di Paris, Maurel & Prom.

Indonesia yang selama puluhan tahun minyaknya disedot asing kini mulai melakukan investasi besar-besaran untuk menyedot minyak bumi di luar negeri. 

Tak heran jika pemerintahan Prabowo menargetkan, paling lambat 2029 Indonesia bisa mandiri energi dan tidak lagi mengimpor BBM setelah hampir 40 tahun ketergantungan.

Kini, pahamkah mengapa Presiden Prabowo terus digoyang mafia minyak, oligarki, dan asing? Karena Prabowo bertekad membawa Indonesia menjadi raksasa ekonomi baru di Asia, bahkan dunia.

Mari lawan fitnah dan hoaks, bukan demi Presiden Prabowo, tetapi demi Indonesia.

Oleh: Naniek Sudaryati Deyang

Penulis adalah Komisaris Pertamina, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) dan mantan Wartawan

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.