Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Epistemologi Khidir tidak lagi mengandalkan logika. Bukan berarti Khidir anti-logika, melainkan ia telah melampaui fase tersebut. Selama seseorang masih berkutat di wilayah logika, selama itu pula akan sulit menembus hijab-hijab yang jumlahnya, menurut hadis Nabi, mencapai 70 lapis.
Menurut Imam Al-Ghazali, ilmu hushuli—yakni ilmu yang diperoleh melalui olah nalar tanpa disertai olah batin—justru dapat menjadi hijab yang sangat tebal bagi para pencari Tuhan (salikin). Dengan kata lain, ilmu-ilmu berbasis logika semata sulit mengantarkan seseorang untuk menyingkap tabir rahasia Ilahi (mukasyafah).
Peristiwa Khidir meninggalkan Musa merupakan simbol yang sarat makna. Khidir tidak memberikan “ijazah kelulusan” kepada muridnya, Musa. Bahkan, secara lahiriah, Musa terkesan gagal karena ketidakmampuannya mengikuti aturan Khidir. Namun justru di situlah “tanda kelulusan” itu: agar Musa menyadari bahwa di atas langit masih ada langit.
Baca juga : Meninjau Epistemologi Keilmuan
Kesadaran tersebut mendorong Musa untuk terus mencari jalan ma’rifahnya sendiri menuju puncak ketinggian. Memang, semakin mendekati puncak, semakin dibutuhkan pendekatan dan kemampuan personal.
Seorang mursyid atau guru biasanya hanya menuntun sampai “leher gunung”, sedangkan untuk mencapai puncak diperlukan kekuatan diri sendiri.
Hal ini serupa dengan peran Jibril yang hanya mengantar sampai maqam tertentu, sementara perjalanan menuju puncak (Sidratil Muntaha) Nabi Muhammad ditentukan langsung oleh Sang Pengundang, Allah SWT. Dengan demikian, fungsi Khidir terhadap Nabi Musa serupa dengan fungsi Jibril terhadap Nabi Muhammad: mengantar hingga batas tertentu, sebelum perjalanan dilanjutkan secara mandiri.
Baca juga : Alam Mitsal Dambaan Pencari Tuhan
Bagi kalangan awam, pelajaran berharga dari kisah Khidir dan Nabi Musa antara lain:
- Berikan kesempatan kepada pembawa amanah untuk menjalankan programnya tanpa terlalu banyak interupsi.
- Selalu ingat bahwa “di atas langit masih ada langit”; tidak layak seseorang merasa paling hebat.
- Jangan meremehkan orang yang tampak biasa saja; bisa jadi ia tidak populer di bumi, tetapi mulia di langit.
- Proses belajar tidak harus berlangsung di gedung megah; pengalaman langsung sering kali lebih bermakna daripada sekadar penjelasan teoritis.
- Jangan berhenti pada kecerdasan intelektual, karena nilainya tidak sebanding dengan kecerdasan spiritual.
- Orang pintar belum tentu arif; kearifan lebih sering menyelesaikan persoalan daripada sekadar kepintaran.
Adapun secara khawas, kisah ini mengandung pelajaran sebagai berikut:
- Logika perlu dilampaui untuk mencapai mukasyafah; selama masih terikat sepenuhnya pada logika, hijab tidak akan tersingkap secara utuh.
- Tujuan akhir pencarian manusia bukanlah dunia lahiriah, melainkan dunia batiniah; puncak kepuasan adalah kepuasan rohani.
- Khidir merupakan figur simbolik yang bersifat personal. Secara kebahasaan, “Khidir” berarti “kehadiran”, seakar dengan kata hadhir (hadir). Bisa jadi hati nurani kita sendiri adalah “Khidir” bagi diri kita. Siapa pun dapat menjadi Khidir, dan setiap orang memiliki Khidirnya masing-masing. Jika Allah SWT. hendak menuntun hamba-Nya, Dia akan “mengutus” Khidir untuknya—yakni dalam bentuk sahabat spiritual, siapa pun dan apa pun wujudnya.
Dari kedua uraian dalam tulisan ini dapat disimpulkan bahwa epistemologi yang diperkenalkan Al-Qur’an bukan hanya paling aman, tetapi juga paling valid secara intelektual.
Kelemahan akal yang cenderung bergantung pada referensi objektif dapat disempurnakan oleh kelebihan intelek yang mampu menjangkau dimensi subjektif.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Rabu, 1 April 2026 dengan judul "Kajian Teosofi (12) Epistemologi Khidir dan Nabi Musa"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.