Dark/Light Mode

Miskomunikasi Prabu Matswapati

Selasa, 28 April 2026 07:02 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Tidak adanya komunikasi yang baik antara Teheran dan Washington memupus harapan mengakhiri konflik perang AS-Israel dengan Iran. Konfrontasi terbuka terus berlanjut dan memicu harga minyak melambung. Di sisi lain, kebuntuan diplomasi dapat mengancam pertumbuhan ekonomi dan resesi global.

“Itulah pentingnya komunikasi yang bijak dalam kepemimpinan, Mo,” celetuk Petruk, sok tahu. Romo Semar mesem walau kurang tertarik bicara tentang leadership. Semar justru prihatin dengan kabar merebak di masyarakat tentang pemukulan pejabat istana karena miskomunikasi. Walaupun berita tersebut sudah dibantah pihak istana, namun kabar burung sudah terlanjur viral di media sosial.

Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi tubruk dan sarapan nasi goreng. Nikmatnya nasi goreng tidak sepadan dengan filosofinya. Ibarat nasi sudah dimasak masih harus digoreng. Nasi goreng kurang nikmat kalau tidak ada lalapan mentah seperti irisan tomat dan ketimun. Artinya sifat manusia jangan kemaruk seperti nasi goreng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata, ketika terjadi tragedi pemukulan di Istana Wiratha karena salah paham.

Baca juga : Berebut Komoditas Minyak Hastina

Kocap kacarito, Prabu Matswapati mengadakan pertemuan dengan para petinggi kerajaan untuk membahas keamanan Kerajaan Wiratha. Kerajaan Wiratha diserang musuh dari dua sisi. Prabu Susarma raja Trigartha menyerang dari sisi Selatan. Sedangkan Prabu Duryudana masuk Wiratha dari sisi Utara.

Prabu Susarma merupakan musuh bebuyutan Wiratha gara-gara lamarannya terhadap Dewi Utari ditolak oleh Prabu Matswapati. Konflik personal antara Prabu Matswapati dan Susarma dimanfaatkan oleh Prabu Duryudana. Duryudana berkolaborasi dengan Susarma untuk mencaplok Kerajaan Wiratha. Dengan bergabungnya Hastina dengan Trigartha menambah kekuatan perang dalam perang Baratayuda.

Prabu Matswapati hampir saja kewalahan melawan serangan Trigartha. Tanpa disangka muncul Jagal Abilawa, nama samaran Bima berhasil memukul mundur pasukan Trigartha. Bahkan Prabu Susarma tewas oleh kuku Pancanaka milik Bima. Dengan tewasnya Susarma, musuh Wiratha dari sisi selatan dapat dipatahkan.

Baca juga : Kegagalan Diplomasi Damai Drupada

Prabu Matswapati mendapat kabar bahwa pasukan Duryudana berhasil dipukul mundur senopati Utara yang tidak lain anak Matswapati. Namun kabar tersebut dibantah Dwijakangka. Menurut Dwijakangka, yang berhasil mengalahkan Kurawa adalah Wrahatnala.Wrahatnala adalah nama samaran Arjuna selama bersembunyi di Wiratha.

Tragedi muncul ketika Matswapati marah informasinya dibantah Dwijakangka. Tidak semestinya Dwijakangka yang merupakan seorang ajudan berani melawan atasannya. Emosi Prabu Matswapati meledak dan menampar wajah Dwijakangka dengan asbak kayu. Darah segar muncrat dari pelipis Dwijakangka. Untung darah Dwijakangka tidak sempat membasahi bumi Wiratha. Kalau sampai darah putih menetes, Wiratha bakal hancur lebur. Dwijakangka yang tidak lain adalah Puntadewa merupakan lambang sebuah kejujuran.

“Bicara benar belum tentu pener, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Itulah pentingnya menjalin komunikasi yang terukur supaya tidak terjadi miskomunikasi,” jawab Romo Semar pendek. "Komunikasi yang baik dan bijak dapat mencegah terjadinya konflik,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.