Dewan Pers

Dark/Light Mode

Bingung Minum Obat Di Bulan Puasa? Coba Simak Tips Ini

Minggu, 3 April 2022 16:13 WIB
Meski tengah berpuasa, minum obat harus tetap dijalankan agar pengobatan yang kita jalani berjalan lancar. (Foto: CDC)
Meski tengah berpuasa, minum obat harus tetap dijalankan agar pengobatan yang kita jalani berjalan lancar. (Foto: CDC)

RM.id  Rakyat Merdeka - Meski tengah menjalani ibadah puasa, orang yang sedang menjalani pengobatan harus tetap meminum obat sesuai dosis yang dianjurkan dokter. Agar pengobatan berjalan lancar, dan lekas sembuh.

Namun, mengingat adanya perubahan waktu makan di bulan Ramadan, penggunaan obat saat puasa kerap menjadi pertanyaan. Terutama, untuk obat yang harus diminum 3-4 kali sehari.

Supaya nggak bingung, yuk simak rekomendasi penggunaan obat yang benar saat puasa, seperti disampaikan laman Instagram Halo Apoteker Indonesia berikut ini:

1. Tidak semua obat membatalkan puasa

Berdasarkan kesepakatan ahli medis dan agama pada Seminar Medis-Religius di Maroko pada tahun 1997 yang bertema "An Islamic View of Certain Contemporary Medical Issues", obat-obatan yang tidak diminum melalui mulut dan masuk saluran cerna, tidak membatalkan puasa.

Contohnya:

a. Obat-obatan yang diserap melalui kulit (salep, krim, plester)

 b. Obat yang diselipkan di bawah lidah, seperti nitrogliserin untuk angina pectoris

c. Obat-obatan yang disuntikkan. Baik melalui kulit, otot, sendi, dan vena. Kecuali, pemberian makanan melalui intravena atau infus

Berita Terkait : Pasien Diabetes Harus Batalkan Puasa, Bila Mengalami Kondisi Ini...

d. Obat tetes mata atau telinga

e. Obat kumur, sejauh tidak tertelan

f. Pemberian gas oksigen dan anestesi

g. Obat yang diberikan melalui vagina, seperti suppositoria

2. Perubahan jadwal minum obat dapat mempengaruhi efek terapi obat

Karena itu, perlu kehati-hatian dalam mengubah jadwal minum obat. Konsultasikan dengan dokter atau apoteker Anda.

3. Obat yang dosisnya 1x1

Obat yang diminum satu kali sehari, relatif tidak ada perbedaan waktu penggunaan saat puasa. Bisa diminum pada malam hari, atau pagi hari saat sahur.

4. Obat yang dosisnya 2x1

Berita Terkait : Menkominfo Minta Lembaga Penyiaran Pastikan Ketersediaan Set Top Box

Obat yang diminum dua kali sehari, disarankan diminum pada saat sahur dan buka puasa.

5. Obat yang dosisnya 3x1 atau 4x1

Obat yang dosisnya 3-4 kali sehari dapat mengikuti rekomendasi sebagai berikut:

a. Mengganti bentuk obat sediaan lepas lambat atau aksi panjang. Sehingga, frekuensi pemakaian bisa dikurangi menjadi 1-2 kali sehari.

Atau diganti obat lain yang memiliki efek dan mekanisme sama, tetapi mempunyai durasi aksi yang lebih panjang. Tentunya dengan resep dokter.

Contoh: obat hipertensi Kaptopril yang dosisnya 2-3 kali sehari, diganti Lisinopril 1 kali sehari.

b. Jika tidak bisa diganti, maka penggunaannya adalah dari waktu buka hingga sahur. Sebaiknya dibagi dalam rentang waktu yang sama. Contoh:

- Obat dosis 3x1 dapat diminum pada pukul 18.00 (buka puasa), 23.00 (menjelang tengah malam), 04.00 (sahur).

- Obat dosis 4x1 dapat diminum pada pukul 18.00, 22.00, 01.00, 04.00.

Berita Terkait : Pengamat: Minim, Dampak Kenaikan Harga Pertamax Terhadap Inflasi

6. Obat yang diminum sebelum dan sesudah makan

 a. Jika diminta sebelum makan, berarti sekitar 30 menit sebelum makan sahur atau berbuka.

b. Jika setelah makan, artinya diminum pada kondisi lambung terisi makanan. Kira-kira, 5-10 menit setelah makan besar.

c. Jika ada obat yang harus diminum tengah malam sesudah makan, perut dapat diisi dengan roti atau sedikit nasi sebelum minum obat.

7Penggunaan obat untuk penyakit kronis

Mereka yang berpenyakit kronis seperti asma, gangguan obstruksi paru kronis (COPD), diabetes, hipertensi, penyakit jantung, kanker, dan gagal ginjal kronis harus mendapat pemantauan lebih ketat terkait perubahan jadwal pemberian obat dan kondisi penyakitnya, jika ingin menjalankan ibadah puasa. [HES]