Dark/Light Mode

Resiliensi: Resep Hidup Bahagia

Sabtu, 18 Mei 2024 23:22 WIB
Milastri Muzakkar. (Foto: Ist)
Milastri Muzakkar. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemilu telah usai. Namun, cerita tentangnya masih menyisakan kisah pilu. Salah satunya, banyaknya calon anggota legislatif (Caleg) DPRD yang mengalami stres karena gagal melenggang ke Senayan. Di depok misalnya, Caleg petahana yang sudah dua periode menjadi anggota DPRD dikabarkan sering bengong dan duduk sendirian di tumpukan sampah bantaran Kali Baru, Bogor. Hal itu ia lakukan sejak tiga hari pasca pencoblosan. Caleg gagal lain datang dari Pacitan, Jawa Timur. Caleg perempuan yang pernah menjadi anggota DPRD Pacitan itu mengalami depresi, sampai tak berani pulang ke rumahnya, setelah berutang Rp 1 miliar untuk membiayai pencalonannya.

Bukan hanya Caleg, berbagai peristiwa bunuh diri juga banyak terjadi, yang dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa di berbagai daerah. Mulai dari gantung diri, melompat dari gedung tinggi, dan menghirup zat beracun. Diduga, motifnya bermacam-macam, dari soal beban tugas, tuntutan orang tua, masalah asmara, sampai terlilit pinjaman online. Menurut Data kepolisian RI, sejak Januari-Juli 2023, ada 663 kasus bunuh diri yang terlapor.

Bagaimana kita memahami kejadian-kejadian itu? Apa yang menyebabkan seseorang melakukan hal-hal yang secara umum dianggap aneh bahkan mengerikan? Dan bagaimana sebaiknya kita menjaga diri agar tidak terjatuh pada situasi yang merugikan diri sendiri juga orang lain?

Membangun Resiliensi

Tahun 1954, lahir seorang anak perempuan di Missipi, Amerika Serikat. Karena ibunya bercerai, sang anak diasuh oleh neneknya di sebuah peternakan dalam kondisi miskin. Selanjutnya, ia pindah mengikuti ibunya yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Masih dalam kondisi miskin, anak kecil itu juga tak mendapatkan perhatian dari Ibunya. Ia lalu kabur dari rumah. Pada usia sembilan tahun, anak itu mengalami pelecehan seksual. Ia diperkosa oleh sepupu ibunya bersama teman-temannya berulang kali. Dan ketika menginjak usia  14 tahun, remaja perempuan itu sudah mengandung seorang bayi. Namun, bayinya meninggal setelah beberapa minggu kemudian.

Baca juga : Resmi Diteken Presiden, DKI Resmi Jadi DKJ

Setelah kejadian itu, perempuan berkulit hitam itu memilih tinggal bersama ayahnya. Di sinilah ia dididik militer. Ia dipaksa membaca buku dan membuat ringkasan bacaannya setiap pekan. Tapi, justri pembiasaan itulah yang melatihnya menjadi anak yang disiplin, tekun, tegar, dan percaya diri. Alhasil, anak perempuan itu menjadi pelajar teladan di sekolahnya dan terpilih menjadi perwakilan sekolah yang diundang ke Gedung Putih. Perjalanan hidup pun berubah. Anak kecil yang sebelumnya bernasib malang itu mendapatkan beasiswa untuk kuliah, menjadi wartawan, penyiar kulit hitam pertama di televisi tempatnya bekerja, hingga memiliki acara Talkshow terpopuler di Amerika dan dunia. Kini, anak itu dinobatkan sebagai salah satu perempuan terkaya dengan perkiraan harta mencapai  US$ 2,8 miliar. Dialah Oprah Winfrey. Tidak hanya kaya, Oprah juga memiliki jiwa filantrofis dengan mendirikan The Oprah Winfrey Foundation untuk membantu pendidikan dan pemberdayaan perempuan, anak-anak, dan keluarga di Amerika dan di seluruh dunia.

Kisah Oprah Winfrey menunjukkan ia memiliki resiliensi yang tinggi. Istilah resiliensi  awalnya digunakan dalam ilmu psikologi, dimulai  pada tahun 1950-an dengan nama ego-resiliency (ER) untuk menangani anak-anak yang rentan atau mengalami trauma. Resiliensi artinya kemampuan untuk beradaptasi pada situasi yang sesulit sekali pun, serta melihat situasi itu sebagai kesempatan untuk bertumbuh lebih baik. Lebih jauh, seseorang yang memiliki resiliensi yang tinggi adalah orang yang mampu menghadapi segala  persoalan hidup yang datang, dan menggunakan kesempatan itu sebagai peluang untuk menghasilkan sesuatu yang kreatif dan inovatif. Resiliensi bermakna aktif memaknai, melihat, mencari, dan mengupayakan langkah-langkah strategis yang berdampak positif, sekali pun dalam situasi yang buruk.

Belajar dari Oprah, situasi sulit bertubi-tubi yang menghajarnya, tidak membuatnya depresi apalagi bunuh diri. Mungkin ia mengalami kesedihan, stres, dan hampir putus asa. Tapi ia memilih bertahan, lalu keluar dari situasi buruk itu dengan memilih tinggal bersama ayahnya, dan selanjutnya melakukan upaya-upaya pengembangan diri dengan mengejar pendidikan dan karir.

Bisakah Resiliensi Diajarkan?

Pertanyaannya, haruskah kita mengalami kesulitan dulu-seperti Oprah-untuk memiliki resiliensi yang tinggi? Dan, bisakah resiliensi itu diajarkan? Di tahun 2023, saya dan tim Generasi Literat, NGO yang fokus untuk memberdayakan anak-anak muda khususnya, membuat program resiliensi yang kami sebut “Self Love Training” untuk meningkatkan kesehatan mental remaja. Program ini lahir setelah melihat semakin tingginya angka gangguan kesehatan mental yang dialami oleh anak muda, khususnya Generasi Z. Program ini dilakukan di SMA/SMK dan pesantren di Jakarta dan sekitarnya, serta di salah satu kamp pemuda rentan di Cianjur. Dalam training ini, kami melatih peserta untuk menggali permasalahan-permasalahan yang paling membuat mereka resah, yang menyebabkan konflik dalam dirinya, hingga mengganggu kesehatan mentalnya. Selanjutnya, masalah yang muncul itu didiskusikan di dalam kelompok dengan menggunakan alat (tool) “pohon konflik”. Alat ini membantu peserta untuk mencari akar masalah, akibat, dampak, serta alternatif-laternatif solusi yang mungkin mereka lakukan. Metode ini secara tidak langsung bertujuan untuk membangun kesadaran pada peserta bahwa setiap orang memiliki masalah. Karena itu, masalah harus dipandang sebagai sesuatu yang wajar. Yang terpenting adalah fokus pada bagaimana cara menyelesaikan masalah itu.

Baca juga : Herbalife Konsisten Berikan Edukasi Gaya Hidup Sehat dan Aktif

Langkah selanjutnya, peserta dilatih bagaimana membangun self love sebagai salah satu modal untuk resilien. Self love di sini bukan berarti selfish atau narsis. Ia adalah mindset dan tindakan untuk mengenal, memahami, menerima, dan mencintai kondisi diri seseorang, baik secara fisik, psikis, dan spiritual. Dalam membangun self love, ada tiga tahap yang perlu dilakukan. Pertama, membangun fondasi. Seperti sebuah bangunan, ia akan kokoh jika fondasinya berdiri tegak. Self love dibangun dengan fondasi 3 M : Mengenal diri, menerima diri, dan memaafkan diri. Kedua, melakukan upaya aktif dari dalam diri, seperti mengubah mindset dalam merespon situasi, melakukan deep talk dengan diri sendiri, olahraga fisik, hingga jeda untuk me time. Terakhir, melakukan upaya aktif dengan melibatkan orang lain, seperti bercerita kepada teman, bergabung di komunitas positif, hingga meminta bantuan kepada ahli.

Lebih dari 200 siswa yang kami latih menunjukkan hasil yang positif. Hasil evaluasi melalui pre-post tes dan testimoni peserta menunjukkan dampak yang positif. Pengetahuan mereka tentang kesehatan mental dan cara membangun self love meningkat. Mereka mengaku lebih menerima kondisi diri, memaafkan kesalahan di masa lalu yang membuat trauma, merasa dirinya bernilai dan bermanfaat untuk orang lain, hingga lebih percaya diri untuk menggapai cita-citanya.

Masih di tahun yang sama, akhir tahun 2023, saya diminta melatih karyawan generasi Z di sebuah perusahaan dengan topik “Manajemen stres”. Meski para karyawan tahu menuliskan apa saja yang membuat stres di lingkungan tempat kerja, namun mereka belum memiliki pengetahuan dan keterampilan bagaimana merespons situasi itu dan bagaimana mengelola stres sehingga tidak berujung pada hal-hal yang merugikan. Dan di sinilah fungsi pelatihan manajemen stres.

Pengalaman ini membuat saya menyimpulkan bahwa resiliensi bisa diajarkan. Ia merupakan pengetahuan dan keterampilan yang bisa dimiliki oleh siapa saja yang memiliki keinginan kuat untuk mempelajari dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan persoalan hidup yang semakin beragam dan tingkat ketidakpastian yang melambung tinggi, resiliensi menjadi semakin penting sebagai modal untuk menyesuaikan diri, menemukan strategi untuk bertumbuh, dan bahagia dalam situasi yang sesulit apa pun.

Baca juga : Sheila Dara, Akhirnya Dapat Peran Selalu Hidup Bahagia

Oleh: Milastri Muzakkar

Penulis adalah Founder Generasi Literat, Self Development Trainer,  dan Penulis Buku “Jurus Bahagia, Produktif, dan Hebat di Masa Corona”

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.