Dark/Light Mode

Ketika AI Menjadi Pendengar: Cara BATIN Mengubah Cara Generasi Muda Bercerita

Selasa, 16 Desember 2025 21:03 WIB
Foto: Dok. Batin
Foto: Dok. Batin

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kampus, Aira (23) sering merasa sendirian meski dikelilingi teman-teman. Overthinking tentang masa depan, kecemasan menghadapi deadline, dan perasaan tidak cukup baik terus menghantuinya. Ia ingin bercerita, tapi takut dihakimi. Takut dianggap lemah. Takut menjadi beban bagi orang-orang terdekatnya.

"Saya tahu saya butuh bicara sama seseorang. Tapi setiap kali mau cerita ke teman, ada rasa takut kalau mereka akan berpikir saya drama queen atau terlalu sensitif," kenang Aira.

Kisah Aira adalah cerminan dari jutaan generasi muda Indonesia yang memendam beban mental mereka dalam diam. Menurut data Batin, lebih dari 30 ribu Gen Z dan Millennials di hampir 38 provinsi Indonesia telah memilih untuk bercerita pada platform AI ini bukan karena tidak ada teman atau keluarga, tetapi karena mereka membutuhkan ruang aman di mana mereka bisa jujur tanpa takut dihakimi.

Baca juga : Belajar di Perpusnas, 637 Siswa Sekolah Rakyat Rasakan Literasi Inklusif dan Bermakna

"Yang saya temukan saat berbicara dengan AI Batin adalah rasa aman yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Tidak ada judgement, tidak ada tatapan khawatir, tidak ada 'kamu kenapa sih jadi begini?'. Hanya ada mendengarkan dan memahami," kata Aira.

Inilah yang menjadi inti dari transformasi yang dibawa oleh Batin: mengubah cara generasi muda Indonesia bercerita tentang kesehatan mental mereka.

Batin meluncurkan campaign yang berpusat pada kisah-kisah inspiratif seputar keberanian bercerita. Campaign ini tidak hanya tentang teknologi atau fitur, tetapi tentang manusia, tentang orang-orang nyata yang menemukan keberanian untuk mengakui bahwa mereka tidak baik-baik saja, dan menemukan bantuan yang mereka butuhkan.

Baca juga : Ketika Kata Menjadi Bencana Kedua

"Kami percaya bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak didengar. Tapi realitanya, banyak individu enggan bicara karena stigma yang masih sangat kental di masyarakat kita," jelas Muhammad Ikhtiary Gilang Gumelar, Founder & CEO Batin yang berbasis di Yogyakarta.

Stigma itu nyata dan melumpuhkan. Ada yang takut dicap "gila" jika mengakui mereka sedang tidak baik-baik saja. Ada yang khawatir reputasi mereka akan hancur jika orang tahu mereka sedang konseling. Ada yang takut membebani teman atau keluarga dengan masalah mereka. Dan ada yang bahkan tidak menyadari bahwa apa yang mereka rasakan adalah masalah kesehatan mental yang memerlukan perhatian.

Batin hadir sebagai pendengar tanpa menghakimi sebuah ruang aman di mana siapa pun bisa bercerita dengan jujur, tanpa takut, dan tanpa malu.

Baca juga : Mantap! RI Jadi Negara Investasi Industri Halal Terbesar Dunia

Batin adalah platform kesehatan mental berbasis AI yang dikembangkan oleh talenta muda binaan Universitas Gadjah Mada (UGM). Lebih dari sekadar teknologi, Batin adalah manifestasi dari kepedulian terhadap krisis kesehatan mental yang sedang dihadapi generasi muda Indonesia. Platform ini menyediakan ruang curhat aman dengan mengedepankan dua prinsip fundamental: privasi dan kenyamanan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.