Dark/Light Mode

Terdeteksi 62 Kasus Super Flu Di Indonesia, Ini Fakta-Faktanya

Jumat, 2 Januari 2026 15:04 WIB
Ilustrasi penularan penyakit lewat partikel cairan pernapasan kecil (airborne droplet). (Foto: CSU)
Ilustrasi penularan penyakit lewat partikel cairan pernapasan kecil (airborne droplet). (Foto: CSU)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengumumkan, hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K atau super flu, yang tersebar di delapan provinsi. Dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak.

Situasinya saat ini berada dalam kondisi terkendali. Tidak menunjukkan adanya peningkatan derajat keparahan, dibanding clade maupun subclade influenza lainnya.

Terkait hal ini, dr. Adam Prabata PhD menjelaskan, super flu sebenarnya merupakan bagian dari influenza yang memang ditemukan sehari-hari. Dijuluki super flu karena penyebarannya cepat dan menyebabkan kenaikan jumlah kasus di beberapa negara

Menurutnya, hingga saat ini, terdapat empat jenis virus influenza yakni Tipe A dan B yang merupakan penyebab epidemi musiman, Tipe C sakit ringan dan tidak epidemi, dan Tipe D pada hewan ternak.

Baca juga : Refleksi Prasasti–BACenter: Indonesia Perlu Lompatan Besar Peradaban

"Virus influenza yang menjadi penyebab tersering epidemi pada manusia adalah virus influenza Tipe A," jelas dr. Adam.

Berikut fakta seputar super flu, seperti disampaikan dr. Adam lewat laman Instagram resminya, Jumat (2/1/2026):

1. Bukan Virus Baru 

Super flu bukan virus baru, namun merupakan varian baru dari virus Influenza A strain H3N2, yaitu subclade K.

2. Ditemukan Juni 2025

Super flu pertama kali ditemukan pada Juni 2025, dan mulai terdeteksi kenaikan kasusnya sejak Agustus 2025 di beberapa negara.

3. Cepat Bermutasi 

Baca juga : Siklon Tropis Jauhi Indonesia, Pemerintah Tetap Waspada

Virus influenza termasuk virus yang mutasinya terjadi dengan cepat. Pada super flu, ditemukan mutasi pada struktur genetik yang berpotensi tidak dikenali oleh sistem imun dan vaksin yang saat ini tersedia.

"Meskipun demikian, belum ada studi yang menunjukkan penularannya lebih cepat dibandingkan virus influenza lainnya," terang dr. Adam.

4. Airborne Droplet 

Super flu menular lewat udara dari airborne droplet,  seperti halnya virus influenza lainnya.

Airborne droplet adalah partikel cairan pernapasan kecil yang mengandung patogen (seperti virus atau bakteri) yang dilepaskan saat orang terinfeksi batuk, bersin, bicara, atau bernapas, yang kemudian bisa bertahan di udara dan menginfeksi orang lain melalui inhalasi.

5. Tidak Lebih Parah

Baca juga : Jadi Tersangka Kasus Suap, Bupati Bekasi Minta Maaf

Data epidemiologi hingga saat ini tidak menunjukkan adanya peningkatan derajat keparahan penyakit, yang disebabkan oleh super flu (virus influenza A H3N2 subclade K), dibandingkan dengan varian influenza lainnya.

6. Vaksin Masih Efektif

Meskipun terdapat mutasi struktur genetik pada super flu yang dapat menyebabkan virusnya tidak dikenali oleh vaksin, vaksin influenza  masih dapat melindungi penderita super flu dari penyakit berat, serta risiko rawat inap dan risiko kematian. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.