Dark/Light Mode

Angkat Isu Keselamatan Nelayan

Film Dokumenter “All That Separates Us Is Distance” Diputar di RI

Rabu, 6 Mei 2026 11:39 WIB
Foto: LLoyds Register Foundation.
Foto: LLoyds Register Foundation.

RM.id  Rakyat Merdeka - Isu keselamatan nelayan kembali jadi sorotan. Kali ini lewat film dokumenter berjudul "All That Separates Us Is Distance" yang resmi diputar di Indonesia.

Film ini hadir bukan sekadar tontonan, tapi pemantik diskusi serius soal keselamatan kerja hingga kesetaraan gender di sektor perikanan.

Diproduksi atas inisiatif Lloyd's Register Foundation, Indonesia dipilih sebagai salah satu dari tiga lokasi utama pengambilan gambar, selain Ghana dan Inggris.

Salah satu lokasi syuting di Tanah Air dilakukan di kawasan Pelabuhan Ratu. Sosok M. Nurafandi alias Dede Sinar menjadi tokoh sentral dari Indonesia.

Ia digambarkan sebagai representasi nelayan yang tak hanya berjuang di laut, tapi juga menjadi tulang punggung keluarga dan bagian penting dalam sistem pangan nasional.

Baca juga : Ancam Keselamatan Pengendara, Pramono Akan Ditertibkan Atribut Partai di Flyover

Kisah Dede ditampilkan berdampingan dengan Emmanuel dari Ghana dan James dari Inggris.

Meski berasal dari belahan dunia berbeda, ketiganya menghadapi risiko pekerjaan yang sama: tinggi dan penuh ketidakpastian.

Film ini mengangkat realitas kehidupan nelayan beserta keluarganya. Lebih dari itu, dokumenter ini diharapkan jadi pintu masuk dialog nasional yang menghubungkan pengalaman lokal dengan perspektif global soal keselamatan di laut.

Head of Research on Maritime Law, Policy, and Governance Gerakan Ingat Selamat Layar Indonesia (GISLI) Setyawati Fitrianggraeni, menegaskan pentingnya membangun ekosistem maritim yang aman dan beretika.

“GISLI adalah ajakan bergerak bersama untuk mewujudkan ekosistem maritim yang lebih selamat dan beretika. Kerangka hukum dan tata kelola akan efektif jika memprioritaskan keselamatan dan kesejahteraan setiap individu yang bergantung pada laut,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).

Baca juga : Dubes Muhsin Syihab Terpesona Film Dokumenter Bali Karya Seniman Kanada

Senada, Head of Maritime Systems Lloyd’s Register Foundation, Olivia Swift, menekankan pentingnya menghadirkan sisi humanis dalam narasi tentang nelayan.

“Selama ini, nelayan sering dilihat dari sisi risiko. Padahal di balik itu ada manusia dengan harapan, keluarga, dan komunitas. Suara mereka harus didengar,” katanya.

Koordinator International Fund for Fishing Safety, Alan McCulla, menambahkan bahwa nelayan di berbagai negara sejatinya memiliki ikatan kuat.

“Satu-satunya yang memisahkan mereka adalah jarak. Tujuan mereka sama: menyelamatkan jiwa, melindungi keluarga, dan menjaga komunitas,” tuturnya.

Sementara itu, Country Lead Ocean Centres Indonesia, Randhi Satria, menilai pemutaran film ini hadir di momentum yang tepat. Terlebih dengan meningkatnya perhatian terhadap perlindungan nelayan, termasuk ratifikasi Konvensi ILO C188.

Baca juga : KAI Dukung Kemeriahan Jalan Sehat Bersama BUMN Di 4 Kota Di Sumut

“Keselamatan adalah fondasi ekonomi laut berkelanjutan. Ini sejalan dengan prinsip Safety at the Heart of Sustainability dan target SDGs 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Dengan pesan kuat dan pendekatan humanis, film ini diharapkan mampu menggugah kesadaran publik, bahwa di balik hasil laut yang dikonsumsi setiap hari, ada perjuangan besar yang tak boleh diabaikan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.