Dark/Light Mode

Selain Anosmia, Ini Gangguan Penciuman Akibat Covid-19

Senin, 4 Januari 2021 16:03 WIB
Selain Anosmia, Ini Gangguan Penciuman Akibat Covid-19

RM.id  Rakyat Merdeka - Sejumlah gejala baru Covid-19 bermunculan. Salah satunya adalah parosmia, yang berupa gangguan penciuman. Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan dan Kepala Leher (THT-KL) Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, dr. Anton Sony Wibowo, Sp.T.H.T.K.L.,M.Sc., FICS., menjelaskan, parosmia adalah gejala gangguan penciuman, yang membuat seseorang mencium bau yang berbeda dari yang seharusnya.  

"Pasien dengan parosmia mempersepsikan bau yang tidak sesuai dengan kenyataannya," jelas Anton dalam situs resmi UGM, Senin (4/1).

Berita Terkait : Semua Provinsi Sumbang Kasus Baru Covid-19

Bunga mawar yang seharusnya harum, bisa tercium menjadi bau tidak enak atau bau lainnya. Pasien mempersepsikan dengan bau yang lain seperti bau tidak enak, atau bau lainnya. "Persepi bau yang muncul akibat parosmia beragam. Hal itu berbeda dengan gangguan penciuman cacosmia, yang membuat seseorang membau tidak enak secara terus menerus," imbuhnya.

Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM ini menuturkan, gejala parosmia cukup banyak dijumpai pada pasien Covid-19 di luar negeri. Dalam beberapa penelitian di luar negeri, angka kemunculan parosmia berkisar antara 50,3-70 persen. Sementara di Indonesia, penelitian terkait parosmia belum banyak dilakukan.

Berita Terkait : Selain Vaksin, Rusia Klaim Temukan Obat Covid-19

Parosmia dapat terjadi pada pasien Covid-19, karena virus SARS Cov 2 yang berulah di jalur proses penciuman seseorang. Seperti reseptor saraf penciuman (saraf kranial 1), saraf penciuman, atau pusat persepsi saraf penciuman.

Selain akibat virus, parosmia juga bisa disebabkan oleh hal yang beragam. Misalnya, infeksi saluran pernapasan atas, cedera kepala, atau kelainan otak seperti tumor otak.

Berita Terkait : Tekan Penularan Covid-19 dengan Sosialisasi Perubahan Perilaku

Gangguan penciuman akibat infeksi virus Covid-19, tidak hanya berupa hilangnya kemampuan membau atau anosmia yang telah muncul di awal pandemi, dan kini parosmia. Selain itu, juga ada beberapa gangguan penciuman lain seperti hyposmia berupa menurunnya kemampuan mendeteksi bau. Kemudian, juga ada cacosmia, yang membuat seseorang secara terus menerus mencium bau yang tidak menyenangkan.

"Pada infeksi Covid-19, terdapat gangguan penciuman atau yang dikenal dengan dysosmia yang bisa berupa anosmia, parosmia, hyposmia maupun cacosmia," pungkas Anton. [HES]