Dark/Light Mode

Tekan Angka Penularan DBD, Penyebaran Nyamuk Berbakteri Wobachia Diperluas

Kamis, 13 Maret 2025 14:20 WIB
Nyamuk Aedes Aegypti. (Foto: Ist)
Nyamuk Aedes Aegypti. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kembali menyebar nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi bakteri Wolbachia ke Kelurahan Kembangan Selatan, Jakarta Barat, untuk menekan laju penularan Demam Berdarah Dengue (DBD).

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati menjelaskan, penyebaran nyamuk berbakteri Wolbachia kini sudah diterapkan di dua kelurahan di Kecamatan Kembangan, yakni Kembangan Utara dan Meruya Utara. Dalam waktu dekat, program ini akan diperluas ke kelurahan ketiga di wilayah tersebut, yaitu Kembangan Selatan. 

Menurut Ani program ini adalah untuk memerangi penyebaran DBD yang terus menjadi masalah kesehatan di Jakarta, khususnya di Jakarta Barat yang dikenal dengan angka kasus DBD yang tinggi. 

"Pokoknya itu di Kecamatan Kembangan, yang sudah itu di Kembangan Utara dan Meruya Utara. Targetnya adalah semua kelurahan di Kecamatan Kembangan akan diterapkan Wolbachia," ujar Ani saat ditemui di Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis (13/3/2025). 

Baca juga : Tangkap Penjahat, Polisi Berkostum Power Rangers

Meskipun program ini sudah berjalan, ia juga mengakui adanya beberapa tantangan. Salah satunya adalah keterlambatan dalam penyebaran karena adanya masalah dengan ketersediaan pasokan telur nyamuk yang mengandung bakteri Wolbachia. 

"Kekurangan suplai, jadi kita menyesuaikan dengan ketersediaan telurnya," tambah Ani. 

Persiapan untuk kelurahan ketiga, Kembangan Selatan, sudah mulai dilakukan, termasuk penyediaan Orang Tua Asuh (OTA) yang bertugas untuk menjaga kelangsungan distribusi telur nyamuk. 

"Kita sebenarnya nyiapin OTA langsung di 4 kelurahan. Nanti perluasannya tergantung seberapa banyak stok telur," jelas Ani. 

Baca juga : Saksi Bersedia Diperiksa Sebelum Pergi Berumrah

Sementara itu, terkait angka kasus DBD, Ani menjelaskan bahwa hingga 9 Maret 2025, Jakarta telah mencatatkan 1.416 kasus DBD dengan Incidence Rate (IR) 12,48 per 100.000 penduduk. Jakarta Barat menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yaitu sebanyak 418 kasus dengan IR 15,98. 

"Jakarta adalah daerah endemis DBD. Setiap tahun selalu ada kasusnya dan sangat terpengaruh oleh kondisi cuaca," jelasnya. 
Meskipun angka kasus DBD meningkat pada tahun 2025, Ani menambahkan bahwa kondisi ini masih terkendali dan tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa puncak kasus DBD biasanya terjadi pada siklus lima tahunan, dengan puncaknya yang diperkirakan terjadi pada bulan April. 

Ani Ruspitawati juga mengingatkan kepada masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi penyebaran DBD, terutama di lingkungan yang padat seperti pemukiman, perkantoran, sekolah-sekolah, serta tempat-tempat umum dan olahraga. 

“Tempat-tempat seperti itu kadang justru menjadi lokasi berkembangnya jentik nyamuk,” tegas Ani. 

Baca juga : Job Fair Dan BUMD Bisa Serap Tenaga Kerja

Ia juga meminta peran aktif dari berbagai pihak, termasuk media untuk mengingatkan masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan sekitar. 

“Para pemilik kantor, sekolah, pusat perbelanjaan, dan apartemen harus lebih peduli terhadap lingkungan mereka,” harapnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.