Dark/Light Mode

Dedi Mulyadi: Banjir Jakarta Bukan Kiriman dari Bogor, Tapi Siklus Alam

Kamis, 10 Juli 2025 16:33 WIB
Foto: Dwi Pambudo/RM.
Foto: Dwi Pambudo/RM.

RM.id  Rakyat Merdeka - Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi menegaskan, banjir yang kerap terjadi di Jakarta bukan disebabkan oleh air kiriman dari wilayah Bogor, melainkan bagian dari siklus alam.

Gini, nggak ada banjir kiriman dari Bogor, air itu mengalir dari dataran tinggi ke dataran yang rendah. Itu aspek siklus alam,” ujar Dedi Mulyadi kepada wartawan, usai rapat koordinasi bersama KPK dan sejumlah kepala daerah di Ancol, Jakarta Utara, Kamis (10/7/2025).

Menurut Dedi, air yang mengalir dari hulu ke hilir merupakan proses alami yang sudah seharusnya dipahami sebagai bagian dari sistem ekologi.

Namun, dia juga mengakui bahwa perubahan tata ruang dan alih fungsi lahan di kawasan hulu, termasuk Bogor, turut memperparah kondisi tersebut.

Baca juga : Relawan Gibranku Jakarta: Isu Pemakzulan Wapres Tak Didukung Rakyat

“Tetapi kalau mau kita jujur, perubahan alih fungsi lahan dan tata ruang di Bogor juga kan para pengusahanya dari mana. Gitu lho,” tambahnya.

Menanggapi soal infrastruktur penanggulangan banjir seperti Bendungan Ciawi, Dedi menyatakan bahwa bendungan tersebut berfungsi menahan air sementara, namun masih memerlukan perbaikan sistem di hilir.

“Bendungan Ciawi itu kan merupakan bendungan yang airnya mampir terus kan jalan. Itu kan diperlukan langkah-langkah hilirisasinya, hilirnya harus segera ditata,” ungkapnya.

Dedi juga menyoroti kondisi sungai di Jakarta yang sempit dan dangkal serta rawa-rawa yang terus diuruk untuk pembangunan. Menurutnya, selama kondisi ini belum diperbaiki, maka banjir akan terus terjadi.

Baca juga : Elon Musk Umumkan Partai Baru, Namanya Partai Amerika

“Jadi saya katakan gini deh, selama sungainya masih dangkal, selama sungainya masih sempit, selama rawa-rawa terus diuruk untuk pembangunan, banjir pasti akan terus terjadi,” tegas Dedi.

Sebagai bagian dari solusi, dia menekankan pentingnya langkah-langkah pengendalian banjir yang berkesinambungan, termasuk penataan ruang, pembongkaran bangunan di daerah aliran sungai, serta penataan kawasan hulu.

“Kan langkah-langkahnya terus dilakukan hari ini. Kita akan merevisi tata ruang, kemudian bangunan-bangunan yang menutup daerah aliran sungai dibongkar, hulu sungainya kita lagi tata,” jelasnya.

Namun, dia mengakui bahwa upaya pemulihan lingkungan membutuhkan biaya yang sangat besar dan tidak bisa dilakukan sendirian oleh pemerintah.

Baca juga : SIM Keliling Jakarta Minggu 29 Juni, Hadir Di Taman Fatahillah Kota Tua

“Walaupun biayanya sangat mahal ya, recovery lingkungan itu lebih mahal dari pembangunan. Nah tentunya tidak bisa jalan sendiri, harus semua orang bekerja sama untuk concern menyelesaikan lingkungan,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.